Kondisi Spiritual Bumi

Selepas pulang kerja beberapa malam yang lalu, bersama rekan kami melihat keramaian orang yang menyaksikan aksi kejahatan pencurian kaca spion mobil mewah. Tanpa malu berbuat kejahatan di muka publik, peristiwa ini terjadi di tengah rutinitas kemacetan. Masih di malam yang sama, bus kota yang saya tumpangi kehadiran penodong mabuk berkedok pengamen. Tanpa bernyanyi meski membawa gitar, penodong meminta uang kepada penumpang sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

Saya sedih. Sambil berpikir benarkah kondisi bumi semakin hari semakin memburuk? Dulu, nabi saw. pernah berkata bahwa menjelang akhir zaman nanti, keburukan dan kejahatan akan benar-benar meliputi seluruh muka bumi, sebelum seseorang dari keturunannya akan menegakkan keadilan.

Ayatullah Mazhahiri mengatakan bahwa manusia mempunyai dua dimensi. Pertama adalah dimensi materi, yang dalam filsafat disebut dengan dimensi hewani. Dalam dimensi ini, ketika nafsu menguasai akalnya, maka manusia adalah hewan dalam arti sesungguhnya. Tapi manusia juga memiliki dimensi kedua, yakni dimensi malakuti, karena ia adalah makhluk yang ditiupkan roh Ilahi. Roh, akal, nurani akhlak, dan hati semuanya tertuju kepada sisi spiritual manusia.[1]

Karenanya kita pernah mendengar dan tahu bahwa jika dimensi malakuti kita kalah maka kita akan menjadi lebih buruk daripada hewan. Sebaliknya, jika kita bisa menaklukkan dimensi hewani, kita bisa menjadi lebih tinggi dari malaikat, karena malaikat hanya diberikan dimensi spiritual. Lalu, kalau manusia memiliki dua dimensi, tidakkah bumi sebagai tempat tinggal manusia memiliki dua dimensi pula?

Melihat perkembangan dimensi materi yang dimiliki bumi akan membuat kita terkagum-kagum. Dulu, butuh waktu berbulan-bulan untuk kita pindah dari satu benua ke benua lain, tapi sekarang dapat ditempuh dalam hitungan jam. Berkat kemajuan teknologi, komunikasi lintas negara juga dapat dilakukan dalam waktu singkat. Kita juga akan dibuat kagum ketika, misalnya, menyaksikan serial dokumenter MegaStructures yang ditayangkan National Geographic. Saya kagum dengan kehebatan manusia sekarang ketika membangun jembatan atau gedung pencakar langit. Tapi yang namanya materi, nantinya ia hanya akan menjadi bagian dari sejarah dan tidak akan kekal.

Dalam Matsnawi dikatakan bahwa setiap kali kita memberikan perhatian kepada dimensi materi semata, maka pada saat yang sama kita akan membunuh dimensi spiritual. Dalam contoh kecil, jika kita hanya memusatkan dan memuaskan kebutuhan hewani seperti makan, minum, atau tuntutan syahwat, maka spiritual kita akan melemah. Ketika dimensi spiritual melemah, mereka itu tidak ubahnya binatang ternak bahkan lebih sesat lagi (QS. Al-A’raf: 179). Kita bisa berbohong, menodong bahkan membunuh demi kepuasan hewani.

Dunia ini selalu menawarkan janji tentang indah dan kekalnya kehidupan materi dan membuat lupa bahwa kita mempunyai sisi rohani, spiritual. Jika kita mampu memusatkan pada dimensi spiritual maka kita bisa mengendalikan dimensi materi (hewani), untuk dimanfaatkan sesuai dengan akal dan agama. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Siapa memperbaiki batinnya maka Allah akan memperbaiki lahiriahnya.

Baca Juga:

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s