Wanita Karier Menurut Khamenei

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan terkait masalah keluarga. Namun kita perlu membedakan peran seorang wanita antara sebagai istri dan ibu. Dalam sebuah keluarga, seorang wanita dapat memainkan peran luar biasa sebagai istri meskipun dia tidak berperan sebagai seorang ibu. Ada seorang wanita yang tidak bisa atau belum ingin melahirkan seorang bayi, namun dia tetap seorang istri. Kita tidak boleh meremehkan peran seorang istri.

Seorang pria yang ingin bermanfaat di masyarakat harus memiliki istri yang baik di rumah, jika tidak maka pria tersebut tidak akan bermanfaat di masyarakat. Kami menguji gagasan ini pada masa revolusi dan setelah kemenangan revolusi. Para pria yang mendapat dukungan istri akan tetap teguh selama revolusi dan mereka tetap melanjutkannya di jalan yang benar setelah kemenangan revolusi. Tentu, hal sebaliknya juga terjadi.

Dulu saya biasa menikahkan pemuda dan pemudi. Beberapa kali saya mengatakan kepada pasangan muda itu, “Ada banyak wanita yang membantu suami mereka masuk surga. Ada juga banyak wanita yang mendorong suami mereka menuju neraka. Semua tergantung wanita.” Tentu saja, pria dapat memainkan peran yang sama. Namun terkait masalah keluarga, kita tidak bisa mengabaikan peran pria. Karena semua hal itu, peran sebagai seorang istri juga sangatlah penting. Seorang wanita harus memainkan peran sebagai seorang ibu, yang telah dijelaskan pada awal pertemuan ini.

Masalah wanita karier juga merupakan isu yang berkembang. Kami tidak menentang wanita yang bekerja. Secara pribadi, saya sependapat dengan berbagai macam aktivitas sosial, baik itu ekonomi, politik, sosial, maupun kemanusiaan. Semua hal ini baik. Wanita membentuk separuh populasi ini dan akan sangat baik jika kita memanfaatkan yang separuh ini di bidang-bidang tersebut. Namun kita perlu mengingat dua, tiga prinsip utama.

Pertama, pekerjaan wanita tidak boleh membayangi tugas utama mereka. Artinya, pekerjaan tersebut tidak boleh menghalangi wanita dari menemui keluarga dan mengerjakan pekerjaan mereka sebagai seorang ibu dan istri di rumah. Hal ini sangat mungkin. Ada beberapa wanita yang biasa mengerjakan semua ini dalam satu waktu. Tentu saja, hal ini sedikit berat bagi wanita yang bekerja. Mereka harus belajar, mengajar, mengatur rumah tangga, melahirkan bayi dan membesarkannya. Karena itu, kami sepenuhnya setuju dengan berbagai pekerjaan dan aktivitas sosial yang tidak bertentangan dengan tanggung jawab utama wanita, karena tidak mungkin untuk mencari pengganti bagi tanggung jawab utama mereka.

Jika kalian, para wanita, tidak membesarkan anak kalian di rumah, tidak melahirkan, tidak menjaga emosional anak-anak kalian yang lebih halus daripada sutra, jika kalian tidak menyelesaikan permasalahan mereka dengan benar, maka tidak ada seorang pun yang mampu melakukan itu semua untuk kalian: tidak suami maupun orang lain. Hanya seorang ibu yang mampu melakukannya. Tapi jika kalian gagal melakukan pekerjaan di luar rumah, puluhan orang lainnya siap untuk menggantikan kalian. Oleh karena itu, prioritas utama kalian menjadi tanggung jawab yang tidak dapat dilakukan orang lain.

Pemerintah juga memiliki kewajiban untuk memenuhi semua hal ini. Pemerintah harus membantu wanita yang bekerja penuh atau paruh waktu karena beberapa alasan, sehingga mereka dapat berperan sebagai seorang ibu dengan baik dan mengatur keluarga. Pemerintah harus membantu wanita pekerja agar tetap menjalankan tanggung jawabnya yang lain dengan memberikan mereka libur, pensiun dini, dan jam kerja lebih sedikit.

Kedua adalah mengenai hubungan pria-wanita di tempat kerja, yang menjadi isu serius dalam Islam. Tentu saja, bagian terbesar isu ini berkaitan dengan keluarga. Artinya, penampilan dan hati yang murni dari pasangan yang telah menikah menjadikan kehidupan keluarga hangat dan padu. Jika kedua pasangan membersihkan mata mereka dari pandangan tidak murni dan membersihkan hati mereka dari godaan, akan tercipta kontribusi bersama bagi kehangatan lingkungan keluarga. Tapi jika mata, tangan, dan lidah pasangan yang menikah berkhianat; jika hati mereka kehilangan cinta dan komitmen terhadap kehidupan pernikahan, lingkungan keluarga akan menjadi dingin dan hampa meskipun mereka tetap menjaga penampilan.

Saya membaca sebuah artikel—yang saya terima dari beberapa rekan yang menghadiri pertemuan ini—bahwa terkadang berpergian atau memiliki pekerjaan yang jauh dari lingkungan keluarga memunculkan kecurigaan tak berdasar. Tapi itu tidak masalah. Namun, jika kecurigaan tercipta—entah itu berdasar atau tidak—maka akan tetap memiliki pengaruh. Kecurigaan ibarat sebuah peluru yang ditembakkan dari senjata: jika mengenai dada seseorang, ia akan membunuhnya. Tidak peduli jika si penembak menembakkannya dengan sengaja atau tidak. Peluru tidak akan melakukan diskriminasi. Peluru tidak akan gagal merobek dada hanya karena si penembak tidak sengaja melakukannya. Peluru pasti merobek dada yang terkena tembakan. Demikian pula, kecurigaan memiliki efeknya, baik ia berasal dari kebenaran atau disebabkan kekhawatiran, khayalan atau asumsi yang berlebihan.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2012

Selengkapnya: Supreme Leader’s Speech at 3rd “Strategic Thoughts Forum”

Baca Juga:

One thought on “Wanita Karier Menurut Khamenei

  1. pendapat imam khomeni jenius dan sangat fair. tidak ada satu pun pihak yang disudutkan, mungkin bahkan nurani para penganut feminis pun tidak dapat membantah pernyataan ini. luar biasa.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s