Story of Stuff

Bulan lalu saya hanya mampu menambah dua tulisan. Padahal, sepulang dari Iran saya berencana untuk sebisa mungkin menceritakan apa yang didapat. Meski agak basi, kata orang tidak ada yang terlambat. Untung-untung kalau dianggap bermanfaat. Pada salah satu sesi bertemakan ekonomi internasional, Dr. Razaqi yang menjadi pengajar di Universitas Imam Sadiq, menceritakan dengan singkat mengenai sikap serakah berbalut konsumerisme manusia yang menciptakan kondisi ekonomi dan dunia yang semakin memburuk. Banyak sisi kehidupan dijadikan lahan industri untuk meraup keuntungan, mulai dari makanan hingga olahraga.

Sebelum memulai seminar, Dr. Razaqi menampilkan video kreasi The Story of Stuff Project, sebuah video bertemakan lingkungan yang diproduksi oleh Annie Leonard dkk. Sebagaimana yang sudah saya katakan, pembicara menyampaikan dengan bahasa Persia yang cepat. Penerjemah tidak bisa mengejar, bahkan beberapa mahasiswa Iran tidak mampu menyerap keseluruhan. Jadi, saya memilih untuk menyampaikan kembali Story of Stuff.

Pertanyaan pertama yang diajukan oleh Annie adalah: pernahkah kita memikirkan dari mana asal barang-barang milik kita dan ke mana barang-barang itu kita buang? Buku pelajaran menuliskan bahwa barang-barang tersebut secara sederhana berpindah dengan tahapan berikut: penggalian – produksi – distribusi – konsumsi – pembuangan. Semuanya disebut sebagai ekonomi materiil.

Annie menghabiskan waktu 10 tahun berkeliling dunia menyelidiki asal barang-barang tersebut dan ke mana mereka pergi. Untuk satu hal, sistem ini terlihat baik-baik saja. Tapi ternyata sistem ini berada dalam krisis. Alasannya karena sistem ini berada di satu garis lurus linear dan kita hidup di planet yang terbatas dan kita tidak bisa menggunakan sistem linear tanpa batas ini di bumi yang terbatas.

Setiap melangkah, sistem ini berinteraksi dengan dunia nyata. Ia berinteraksi dengan masyarakat, budaya, ekonomi, dan lingkungan. Semakin melangkah, ia menabrak batasan-batasan. Salah satu batasan yang penting itu adalah manusia. Manusia hidup dan bekerja bersama sistem ini. Kita akan mulai dengan pemerintah. Kita akan menggunakan tank untuk melambangkan pemerintah dan ini cocok untuk negara seperti Amerika Serikat (AS). Lebih dari 50% uang pajak dialokasikan untuk militer. Padahal tugas pemerintah adalah untuk memperhatikan dan menjaga kita.

Selain pemerintah, ada juga perusahaan. Alasan mengapa perusahaan terlihat lebih besar dari pemerintah ialah karena nyatanya memang perusahaan lebih besar dari pemerintah. Dari 100 ekonomi terbesar di bumi sekarang, 51 di antaranya adalah perusahaan. Ketika perusahaan telah tumbuh besar dan semakin kuat, kita akan melihat perubahan di mana pemerintah akan semakin peduli kepada perusahaan dalam memastikan semuanya berjalan baik untuk kepentingan perusahaan dibandingkan rakyat.

Ekstraksi

Kita akan mulai dengan extraction yang merupakan kata yang diperhalus bagi eksploitasi sumber daya alam yang juga merupakan kata yang diperhalus bagi pencemaran planet ini. Kita menebang pohon, meledakkan gunung-gunung untuk mendapatkan logam di dalamnya, menggunakan seluruh air, dan melenyapkan binatang-binatang. Jadi di sini kita telah menerobos batas pertama. Kita kehabisan sumber daya. Kita menggunakan terlalu banyak barang-barang. Inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Tiga puluh tahun terakhir saja, sepertiga sumber daya alam planet ini telah habis dikonsumsi.

Kita menebang, menambang, mengangkut, dan mencemari tempat ini begitu cepat sehingga kita merusak kemampuan planet sebagai tempat hidup bagi orang-orang. Di Amerika Serikat hanya terdapat kurang dari 4% hutan asli yang tersisa. Empat puluh persen saluran air tidak dapat diminum. Masalahnya bukan sekedar warga AS menggunakan terlalu banyak barang, tapi juga menggunakan lebih dari saham yang seharusnya. Warga AS berjumlah 5% dari total populasi dunia tapi mereka mengonsumsi 30% sumber bumi dan menciptakan 30% sampah bumi.

Jika semua orang mengonsumsi dengan tingkat konsumsi warga AS, kita membutuhkan 3 sampai 5 planet bumi lagi. Tapi kita hanya punya satu! Jadi, respons sederhana Amerika terhadap keterbatasan ini adalah dengan mengambil milik orang lain! Negara Dunia Ketiga! Hal yang sama terjadi. Delapan puluh persen hutan asli bumi ini telah hilang. Di Amazon saja, kita kehilangan 2.000 pohon setiap menit, setara dengan tujuh lapangan football setiap menitnya.

Bagaimana nasib orang yang tinggal di negara Dunia Ketiga itu? Menurut para pengeruk itu, mereka bukan pemilik sumber daya alam meskipun sudah tinggal selama beberapa generasi. Mereka dianggap tidak memiliki alat produksi. Di sistem ini, kalau kita tidak membeli banyak barang maka kita dianggap tidak memiliki nilai (value).

Produksi

Berikutnya, bahan-bahan dipindah ke bagian “produksi” dan yang terjadi kemudian kita menggunakan energi untuk mencampur bahan kimia beracun ke dalam sumber daya alam untuk menciptakan produk yang terkontaminasi racun.

Ada lebih dari 100.000 bahan kimia sintetis dalam perdagangan hari ini. Hanya sedikit dari bahan-bahan ini yang telah diuji dampaknya bagi kesehatan manusia dan tidak ada satu pun yang diuji untuk dampak kesehatan sinergis. Artinya ketika mereka berinteraksi dengan semua bahan kimia, kita bisa terkena racun setiap harinya.

Kita tidak tahu dampak menyeluruh dari racun-racun ini terhadap kesehatan dan lingkungan. Tapi kita tahu satu hal: racun masuk, racun keluar (toxics in, toxics out). Selama kita tetap memasukkan racun ke dalam sistem produksi, maka kita tetap menyimpan racun di dalam barang-barang yang kita bawa ke rumah, tempat kerja, dan sekolah. Juga tubuh kita.

Misalnya BFR, brominatedflameretardants. Sebuah bahan kimia yang membuat barang lebih tahan api, tapi ia sangat beracun. Ia bersifat neurotoxin—artinya meracuni sampai ke otak. Ia kita gunakan di komputer, perabotan, sofa, kasur, bahkan bantal. Racun-racun ini menyatu ke dalam rantai makanan dan mengendap di tubuh kita. Tahukah Anda makanan yang berada di rantai makanan tertinggi dengan kontaminasi racun tingkat tinggi? ASI.

Itu artinya kita telah mencapai tingkat di mana anggota terkecil di masyarakat kita—yaitu bayi—mendapatkan dosis kimia beracun tertinggi dari ibu-ibu mereka. Bukankah itu pelanggaran yang luar biasa? Menyusui seharusnya menjadi tindakan paling mendasar bagi pengasuhan; ia harus bersih dan aman. Sekarang, menyusui masih menjadi hal terbaik dan para ibu harus tetap menyusui, tapi kita harus melindunginya. Mereka (pemerintah) harus melindunginya.

Tentu saja, orang-orang yang menanggung beban terbesar bahan kimia adalah pekerja pabrik dan banyak di antara mereka adalah wanita di usia reproduktif. Wanita mana yang ingin bekerja di tempat beracun, kecuali mereka yang tidak punya pilihan lain?

Itulah salah satu “kecantikan” sistem ini. Begitu banyak racun meninggalkan pabrik sebagai produk, tapi selebihnya sebagai produk sampingan, atau polusi. Di Amerika Serikat, industri mengaku melepaskan lebih dari 4 miliar pon bahan kimia setahun dan mungkin lebih banyak lagi karena itu yang baru mereka akui.

Siapa yang ingin melihat dan menghirup 4 miliar pon bahan kimia setahun? Lalu, apa yang mereka lakukan? Pindahkan pabrik kotor itu ke luar negeri. Cemari pulau orang lain! Surprise! Banyak polusi udara itu yang kembali ke AS karena terbawa oleh angin.

Distribusi

Lalu, apa yang terjadi setelah semua sumber daya berubah menjadi produk? Ia bergerak kepada distribusi yang berarti “menjual sampah yang terkontaminasi racun secepat mungkin”. Tujuannya untuk menjaga harga tetap murah, menjaga orang-orang membeli dan menjaga persediaan tetap bergerak.

Bagaimana menjaga harga tetap murah? Yah, mereka tidak menggaji pekerja dengan cukup dan mengurangi asuransi kesehatan sebisa mungkin. Semua tentang eksternalisasi biaya. Sebenarnya biaya riil untuk membuat satu barang tidak tertutupi oleh harga. Dengan kata lain, kita tidak benar-benar membayar barang yang kita beli.

Saya memikirkannya tempo hari. Saat berjalan untuk kerja, saya ingin mendengarkan berita. Lalu saya datangi Radio Shack untuk membeli sebuah radio. Saya mendapatkan radio kecil lucu berwarna hijau seharga 4 dolar 99 sen. Saya mengantri untuk membelinya dan membayangkan bagaimana 4,99 dolar bisa mencakup biaya pembuatan radio sampai ke tangan saya.

Besinya mungkin ditambang di Afrika Selatan, minyak buminya mungkin dibor di Irak, plastiknya mungkin dibuat di Cina, dan mungkin semua barang itu dirakit oleh seseorang berusia 15 tahun di Meksiko. Bahkan 4,99 dolar tidak cukup untuk membayar sewa ruang rak sampai saya datang, belum lagi gaji untuk karyawan yang membantu saya mengambilkannya, atau kapal laut dan truk-truk yang mengantar radio ini. Dari situlah saya sadar, saya tidak benar-benar membayar untuk radio itu.

Jadi, siapa yang membayar?

Yah, orang-orang tersebut yang membayar dengan kehilangan sumber daya alam. Mereka yang membayar dengan kehilangan sumber air bersih, meningginya tingkat kanker dan asma. Anak kecil di Kongo membayarnya dengan masa depan—30% anak-anak di bagian Kongo saat ini harus DO dari sekolah untuk menambang coltan, besi yang dibutuhkan untuk barang elektronik sekali pakai. Bersama dengan seluruh sistem ini, orang-orang bekerja keras sehingga saya bisa mendapatkan radio seharga 4,99 dolar. Tidak ada dari semua kontribusi ini yang dicatat di buku akuntansi manapun. Inilah yang saya maksud bahwa pemilik perusahaan mengeksternalisasi biaya produksi.

One thought on “Story of Stuff

  1. Mas, saya rasa inilah salah satu contoh dari “Butterfly Effect”. Rasanya kita perlu mempertimbangkan lebih banyak lagi dalam hal berkonsumsi. Setiap pola konsumsi berlebihan, akan berefek pada dunia kita, planet bumi kita secara fisiknya.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s