Ketegasan Berbasa-Basi

Jika kata taaruf oleh sebagian orang di Indonesia digunakan untuk mengganti istilah pacaran agar terlihat lebih islami, di Iran kata taaruf digunakan untuk menunjukkan tingkat keberbudayaan dan penerimaan seseorang terhadap kultur dan tradisi mereka.[1] Diambil dari bahasa Arab yang berarti proses berkenalan kepada seseorang, di Iran kata taaruf berubah makna menjadi gaya mengelola hubungan sosial yang ramah.

Meskipun taaruf berakar dari tradisi penyambutan tamu yang lebih baik dari pada keluarga sendiri, ia juga mencakup berbagai perilaku sosial, seperti membukakan pintu atau mempersilakan orang lain terlebih dahulu. Ia juga merupakan seni silat lidah antara pemberi dan penerima sampai adanya kesepakatan. Ia juga menjadi fenomena budaya untuk menolak pemberian orang lain, dengan mempertimbangkan kesopanan, sekalipun sebenarnya sangat menginginkan.

Sekilas taaruf bisa menjadi menarik tapi juga berbahaya baik bagi warga lokal, terlebih lagi orang asing. Pengalaman paling umum yang pernah dialami orang, termasuk saya, adalah penolakan supir bus atau taksi ketika hendak menerima ongkos bayaran. Supir biasanya mengatakan “ghabel-e nadaareh.” Maksudnya adalah agar kita tak perlu repot-repot membayar karena kebaikan tadi itu tak seberapa. Tetapi ucapan ini mengharuskan kita untuk memaksa supir untuk menerima ongkos pemberian beberapa kali sampai dia menerimanya. Karena jika langsung kita tinggal pergi, supir akan memanggil untuk meminta bayaran.

Ritual semacam ini juga bisa terjadi jika kita bertamu ke rumah seseorang, di mana tuan rumah menawarkan segala sesuatu dan tamu wajib menunjukkan penolakan hingga disepakati apa yang akan disediakan. Meski demikian, bisa saja seseorang mengatakan, “Tidak perlu bertaaruf (taarof nakonid).” Sayangnya ungkapan seperti ini seperti pedang bermata dua, karena ungkapan ini juga bisa merupakan salah satu bagian dari taaruf. Ungkapan-ungkapan lain yang biasanya digunakan adalah:[2]

  • Ghadamet ro chesham (Anda bisa berjalan di mata saya) = Saya tidak ada apa-apanya di hadapanmu.
  • Ghorbanet beram (saya akan berkurban untukmu) = Terima kasih banyak
  • Cheshmet roshan (semoga matamu bercahaya) = Anda begitu bernilai
  • Khaesh mikonam (saya sedang berbuat baik) = Sama-sama, Anda terlalu baik untuk saya.

Sebenarnya kritik terhadap perilaku seperti ini juga dilakukan oleh warga lokal yang pemikirannya sudah terbuka atau mereka yang pernah menetap di luar negeri. Bahkan sebuah iklan layanan masyarakat pernah mengkritik mengapa taaruf tidak dilakukan saat berkendara. Meski ada saja taaruf palsu atau basa-basi seperti itu, bukan berarti tidak ada orang yang berbuat taaruf dengan sungguh-sungguh. Biasanya orang benar-benar melakukan taaruf akan menempatkan dirinya dalam kondisi tidak nyaman dan sadar akan risiko yang diterima dan siap menanggungnya. Misalnya, tuan rumah yang mengeluarkan uang terakhir yang dimilikinya untuk memuaskan tamu yang datang.

Taarof by Alex Nabaum

Christopher de Bellaigue, seorang wartawan yang beristrikan wanita asal Iran, juga pernah merasakan langsung bagaimana orang Iran bertaaruf. Tahun 2004, dia mendatangi Departemen Urusan Asing untuk mengajukan diri sebagai warga negara Iran. “Kami senang sekali menerima pengajuan ini,” kata seorang petugas sambil tersenyum. “Sebuah kehormatan menerima Anda dan semoga Anda berhasil.” Dengan senang pula Chris mengumpulkan dokumen dan mengisi formulir.

Sesuai janji, enam minggu kemudian ia kembali. Petugas yang sama menyambutnya dengan bahagia, menyediakan teh, menanyakan kesehatan diri dan keluarga, dan banyak bercerita. Kemudian petugas memberi tahu bahwa pengajuan Anda berjalan dengan baik. “Dengan senang hati, silakan datang kembali enam minggu lagi,” katanya.

Chris mendatangi petugas yang sama empat atau lima kali selama delapan bulan berikutnya, dan sambutan baik diterima tetap sama. Setelah putus asa, dia baru merasakan bahwa kunjungannya yang berulang kali itu merupakan fiksi manis semata dan tertipu oleh budaya taaruf. Chris menganggap bahwa taaruf yang dialami adalah cara untuk membuat dirinya kecewa secara perlahan. Taaruf sangat membingungkan bagi orang Amerika yang menghargai efisiensi, keterbukaan, dan informalitas.[3]

Ameen Soleimani, warga Iran yang tinggal di Amerika berkata, “Kalau teman Iran saya bilang, ‘Oh dude, that’s a nice shirt,’ lalu saya bilang, ‘You want it?’ mereka akan jawab tidak. Tapi dengan teman Amerika, kalau saya bilang, ‘Do you want it?’ mereka berteriak, ‘Yeahhh!’ Tentu saya tidak akan melakukannya kepada teman Amerika saya, karena saya akan kehilangan semua barang saya dan orang tua akan berkata, ‘Kenapa kamu hanya punya dua baju? Ke mana komputer kamu?'”[4]

Hidup dengan kultur masyarakat yang demikian membuat saya teringat dengan cerita yang dikisahkan oleh Syahid Muthahhari. Suatu hari, seorang khatib ulung yang ternama datang ke kota Qom dan ia memilih sekamar dengan Syahid Muthahhari untuk beristirahat. Waktu itu, seseorang mengajaknya bertemu dengan Ayatullah Burujurdi, namun di waktu yang kurang tepat karena saat itu bertepatan dengan waktu mutalaah. Sudah jadi kebiasaan bagi Ayatullah Burujurdi untuk menelaah satu jam sebelum mengajar dan tidak menerima tamu.

Mereka mengetuk pintu dan bertemu dengan khadim di sana, “Sampaikan kepada ayatullah, fulan akan bertemu.” Khadim ke dalam dan balik lagi sambil berkata, “Kata ayatullah, beliau sedang sibuk mutalaah. Silakan datang lagi pada kesempatan yang lain.” Khatib itu pun kembali dan harus segera kembali ke kotanya pada hari itu. Ketika akan mengajar, Ayatullah Burujurdi bertemu Syahid Muthahhari dan berkata, “Setelah pelajaran, aku akan pergi ke kamarmu untuk menemui khatib.” Syahid Muthahhari berkata, “Dia telah pulang.”

Ayatullah Burujurdi berkata, “Sampaikan padanya kalau bertemu dia lagi bahwa kondisiku saat dia datang ke rumah, persis seperti ketika dia sedang mempersiapkan diri untuk tampil berkhutbah. Aku ingin bertemu dengannya dalam keadaan konsentrasiku terfokus padanya di mana aku dapat berbicara sepenuh hati. Namun saat itu aku sedang mempersiapkan pelajaran. Bila aku paksakan maka aku tidak dapat berdialog dengan sepenuh hati.”

Setelah beberapa lama, Syahid Muthahhari bertemu dengan khatib tersebut. Rupanya ada beberapa orang yang membisikkan padanya sesuatu yang tidak benar. Beberapa orang berkata, “Ada kesengajaan (ayatullah) untuk tidak menemuimu. Itu semata-mata untuk menghina dan melecehkanmu.” Syahid Muthahhari berkata kepada khatib, “Setelah mengajar, ayatullah menemuiku dan justru beliau mau datang sendiri menemui Anda di kamar saya, namun Anda sudah pergi dan beliau menitipkan permintaan maaf padaku.”

Khatib justru berkata, “Jangan khawatir. Ketahuilah bahwa aku sama sekali tidak mengambil hati dalam masalah itu. Bahkan aku merasa senang. Kami kagum pada orang Eropa, di antaranya karena mereka masyarakat yang suka berterus-terang, tegas dan berkata lugas. Mereka tidak pernah merasa tidak enak atau pura-pura dalam bersikap dan mengungkapkan isi hatinya. Memang pada waktu itu aku datang mendadak dan tanpa janji. Aku senang dengan sikap beliau yang tegas dan berterus-terang. Jauh lebih baik berterus-terang bahwa beliau sibuk, dari pada memaksakan bertemu denganku dalam perasaan yang mengeluh dalam hati: ‘Musibah apa yang menimpaku?! Ada saja orang yang tak kenal mengambil waktuku!’ Aku sungguh merasa tersanjung dengan ketegasan sikap beliau untuk tidak menemuiku dalam kondisi pura-pura atau basa-basi. Itulah seharusnya sikap panutan umat (marja’).”

ba·sa-ba·si n 1 adat sopan santun; tata krama pergaulan; 2 ungkapan yg digunakan hanya untuk sopan santun dan tidak untuk menyampaikan informasi, msl kalimat “apa kabar?” yg diucapkan apabila kita bertemu dng kawan; 3 perihal menggunakan ungkapan semacam itu;
ber·ba·sa-ba·si v 1 berlaku dng sopan; 2 menggunakan basa-basi

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s