Siapakah Sejatinya Imam Husain bin Ali?

Di bulan Muharam menjelang Asyura seperti saat ini, ketika sebagian umat muslim akan mengenang wafatnya cucu nabi Husain bin Ali, muncul beberapa pertanyaan dari sebagian muslim yang lain. Mengapa mengkultuskan Husain? Mengapa berlebihan dengan memperingati wafatnya Husain? Mengapa tidak pula memperingati wafatnya nabi saw.? Bukankah semua ini tidak pernah dilakukan nabi? Sebagian pertanyaan memang tulus diajukan, tapi sebagian lainnya dipaksakan untuk ditanyakan.

Pertanyaan tulus tersebut diajukan karena memang sebelumnya mereka yang bertanya tidak tahu dengan jelas bahkan siapa nama cucu nabi? Bagaimana kehidupannya? Mengapa cucu nabi harus dibunuh? Lalu mengapa harus diperingati setiap tahunnya? Tapi sebagian lainnya bertanya justru untuk menutupi fakta tersebut dan melupakannya dengan beragam dalil dan dalih. Meskipun fakta sudah jelas diungkapkan, sebagaimana ditemukan beberapa riwayat tentang Karbala dalam kitab hadis.

Sekelompok pemuda di Inggris memulai melakukan kampanye Who is Hussain? untuk memperkenalkan kepada seluruh dunia salah seorang manusia penting dalam sejarah; yang berjuang hingga tetes darah terakhir. Imam Husain menjadi figur universal yang menginspirasi dan karenanya menjadi wajib untuk menyebarkan pesan-pesannya. Kampanye yang dijalankan ini tidak memiliki pesan agama, politik, ataupun uang: tapi untuk menginspirasi kita semua agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Siapakah Imam Husain?

Siapa Imam Husain? Mengapa kita harus peduli tentangnya? Pertama, mari tanyakan pada diri kita sendiri pertanyaan yang Imam Husain tanyakan pada dirinya: Apa yang akan saya lakukan ketika tahu ada sesuatu yang keliru? Apakah saya akan tinggal diam? Apakah saya akan berpaling dan berharap masalah itu pergi? Atau saya akan berbuat sesuatu, sekalipun dengan risiko kehilangan segalanya…? Pertanyaan sulit ini akan terus muncul dalam kehidupan kita, setiap waktu dalam situasi apapun. Pertanyaan-pertanyaan yang memaksa untuk dijawab.

Husain bin Ali lahir tahun 620 dari keluarga yang dikenal karena nilai-nilai kecintaan, keadilan, dan kedamaian yang diajarkan kakeknya, Muhammad saw. Namun tak lama setelah Nabi Muhammad saw. wafat, kepemimpinan seluruh kekuasaan Arab jatuh ke dalam kehinaan dan kerusakan. Moral yang ditanamkan oleh Nabi Muhammad ke dalam masyarakat perlahan hilang diberantas oleh tirani baru, Yazid. Imam Husain tahu hak asasi manusia dirampas, sementara Yazid memaksa Husain untuk mendukungnya. Imam Husain menghadapi pilihannya… Haruskah mendukung tirani yang kejam dan membiarkan kezaliman? Atau menjalankan kalimat kakeknya, “Perjuangan terbesar adalah menyampaikan kebenaran di hadapan tiran.”

Persembahan bagi kehidupan

Imam Husain menolak tunduk pada tiran, namun dia tidak ingin menciptakan kekacauan di masyarakat apalagi pertumpahan darah. Pesan yang disampaikan jelas dan sederhana: “Aku tidak akan pernah tunduk pada Yazid seperti orang yang hina, tidak pula lari seperti budak… Aku bangkit bukan untuk menebar kejahatan, tidak pula penindasan. Aku bangkit untuk memperbaiki umat kakekku, Muhammad… Aku hanya ingin menyebarkan kebaikan dan mencegah kejahatan…”

Meski Imam Husain, keluarga, dan sahabatnya sendiri tanpa pendukung, beliau pribadi yang memegang prinsip dan tidak akan menyerah. Yazid memerintahkan 30.000 pasukan untuk mencegah Imam Husain dan menghentikannya di gurun Karbala, Irak. Dalam luka, lelah, dan tanpa dukungan, Imam Husain mengeluarkan seruan yang mengguncang tatanan masyarakat, tangisan yang memohon genarasi masa depan dan masih terngiang di hati orang-orang yang tertindas dalam mencari keadilan hingga hari ini: “Adakah yang mau membantu kami?” Tak lama kemudian, pasukan musuh mengepung Imam Husain dan dengan kejam membunuhnya. Semua ini terjadi pada hari kesepuluh bulan Muharam 680, hari Asyura.

Hari ini, tragedi Karbala dikenang jutaan manusia seluruh dunia setiap tahunnya. Inilah waktunya untuk introspeksi dan merenung, untuk mengingat kembali semangat Imam Husain yang menolak tunduk pada sendi kehidupan Yazid. Di banyak masyarakat, seperti Eropa dan Amerika Utara, terdapat tradisi untuk membentuk pusat donasi darah dengan nama Husain. Para pendonor memberikan darahnya dengan tujuan membantu mereka yang membutuhkan—sebagai simbol pengorbanan Imam Husain. Beliau sendiri yang mengatakan, “Kematian dengan kemuliaan lebih utama daripada hidup dalam kehinaan.”

Apa yang dipertahankan?

Hari ini, tanyalah pada diri kita sebuah pertanyaan paling penting yang pernah ditanyakan: apa yang saya pertahankan? Apa yang saya yakini? Pikirkanlah—jangan abaikan. Lebih penting lagi, tanyakan pada diri: apa yang akan saya pertahankan? Jangan keliru dengan memilih apa yang kita sukai, tapi justru tanyakan diri sendiri: apakah itu membangkitkan jiwa dalam diri kita? Memang butuh waktu untuk semua itu, atau mungkin kita sudah tahu jawabannya…

Bisa jadi ada yang memikirkan keadilan, kesetaraan… Hal-hal yang sudah biasa dan wajar. Tapi tanyakan diri kita lagi, sampai batas apa kita mempertahankannya? Mungkin ketika hak-hak kita diabaikan? Atau hak-hak keluarga kita? Bagaimana dengan teman atau tetangga? Lalu pertanyaan sebenarnya: seberapa jauh kita akan mempertahankannya? Apa yang akan kita berikan untuk mempertahankannya? Mudah untuk membayangkannya tapi ketika semuanya benar-benar terjadi, semua itu menjadi tidak semudah yang dibayangkan.

Itulah yang membedakan kita dengan Martin Luther King yang mengkampanyekan persamaan ras… Atau Mahatma Ghandi yang mencari kebebasan sipil melalui protes damai… Atau Mohammed Bouazizi di Tunisia yang menyebarkan kebangkitan Arab. Orang-orang ini bangkit ketika yang lainnya diam – mereka menyadari situasi dan membuat keputusan.

Jauh sebelum itu, pada tahun 680, seseorang bernama Husain bangkit bersama keluarga dan sahabat membuat keputusan… Melihat pengorbanan Imam Husain, rakyat bangkit dan mendapatkan kembali kebebasan. Hari ini Imam Husain dikenang oleh jutaan orang seluruh dunia, bukan hanya karena keberanian dan pengorbanan tapi juga apa yang dia bela dan pertahankan.Inspirasi dan pesannya tetap hidup hingga hari ini…

Saya belajar dari Husain bagaimana meraih kemenangan ketika sedang tertindas. – Mahatma Gandhi.

Sudahkah mendapat apa yang diinginkan?

Sudah berapa banyak resolusi tahun baru yang dibuat? Berapa banyak yang sudah dijalankan? Atau seberapa sering kita memulai sesuatu tapi tidak pernah diselesaikan? Apapun masalahnya, poin pentingnya adalah: pernahkah kita memikirkan tentang kemampuan dan potensi diri yang dimiliki? Bagaimana jika seandainya Nelson Mandela memiliki pandangan yang sama, mengundurkan diri dan kalah? Atau Thomas Edison, penemu bola lampu, yang dianggap “terlalu bodoh untuk belajar” oleh gurunya? Bahkan mungkin Michael Jordan, keluar dari tim bola basket SMA, hanya untuk menjadi pemain paling sukses di NBA. Masih banyak daftar tapi faktanya tetap sama; sukses tidaklah otomatis, tapi dibutuhkan kemauan dan tekad.

Apapun tujuannya, yang dibutuhkan adalah keinginan untuk melihat kemampuan diri… Namun Imam Husain menyadari nilai sejatinya. Imam Husain hidup di masa ketika penguasa kejam dan korup, menekan dan mengintimidasi rakyat. Jauh sebelum Imam Husian, kakenya Nabi Muhammad, dipaksa untuk mengakui kerusakan. Dengan tersebarnya kerusakan dan orang-orang dieksploitasi, Husain tahu tunduk saja tidaklah mungkin. Bagaimana mungkin ia mendukung tirani seperti itu?

Penolakan Imam Husain dan keinginannya untuk memberikan segalanya, telah menginspirasi orang-orang untuk mencapai potensi yang dimiliki dan mewujudkan bahwa mereka bisa mencapainya. Hari ini, 1400 tahun berlalu, makam Imam Husain menjadi tempat perkumpulan terbesar dalam satu hari. Lima belas juta manusia mendatangi makamnya untuk mengenang hari di mana beliau memberikan segalanya dalam melawan penindasan. Pribadi luar biasa dalam sejarah.  Tidak hanya berani dalam melawan ketidakadilan tapi juga menginspirasi manusia seluruh bangsa.

Adakah yang bersedia menolong?

Ketika beliau jatuh berlutut dan darah membasahi, para musuh menertawakan, “Ada yang ingin engkau katakan?” Imam Husain melihat ke langit dan berbisik, “Ampuni mereka, wahai Tuhan, ampuni mereka.” Beliau berbalik arah sekali lagi dengan tenang dan memanggil, “Adakah yang bersedia menolong kami?”

Sementara musuh bertepuk tangan dengan sinis, sedikit yang menyadari bahwa Husain bukan memanggil untuk meminta pertolongan, tapi tangisan yang terus menggema selama beberapa abad terakhir. Jelas bagi semua orang bahwa panggilan Imam Husain adalah panggilan untuk bergerak. Panggilan yang memicu api di hati pengikutnya, untuk meraih kemerdekaan. Alasan perjuangannya terus berlanjut hingga hari ini! Perjuangan yang dimulai 14 abad yang lalu, terus berlanjut hingga di berbagai tempat. Kapan pun ketidakadilan dan penindasan terjadi, Imam Husain menyeru, “Bantulah aku melawan kezaliman ini.”

Akankah kita menjawab seruan itu?

Kita ada di pihak mana?

Ada di pihak mana kita berada? Pertanyaan sederhana namun selalu bermakna. Sudah menjadi tabiat manusia untuk menentukan ada di pihak mana: memilih dan menentukan apakah kita akan berbohong, di mana kita akan mendukung, atas dasar apa kita berpendapat dan bagaimana kita ingin diterima. Kadang mengetahui di sisi mana kita berpihak bisa jadi mudah (seperti mendukung negara sendiri di Piala Dunia), tapi sebenarnya tidak selalu semudah itu. Memilih bisa begitu berarti, karena menjelaskan siapa diri kita sebenarnya… di antara kebenaran dan kebatilan.

Tidak salah lagi, mengenali yang benar dari yang batil bisa membingungkan. Tapi itulah intinya. Kita harus memilah dan dengan objektif membuang seluruh stereotip dan bias untuk menemukan kebenaran sejati untuk kemudian tetap bersamanya. Tapi pada tahun 680 Imam Husain dengan jelas mengetahui posisinya. Imam Husain bangkit untuk rakyat dan memperjuangkan kebebasannya di pihak keadilan dan pembebasan.

Sudah? Hanya ini saja?

Sebuah pertanyaan juga muncul ketika apa yang kita harapkan tidak tercapai. Hanya ini saja?! Tapi ada kalanya pertanyaan ini muncul dari dalam diri. Suara yang biasanya terputus oleh kebisingan, muncul untuk membangkitkan kesadaran. Suara-suara dari dalam diri yang biasanya muncul di saat-saat penting, seperti ulang tahun, di pemakaman, atau peristiwa yang memaksa kita merefleksikan diri dan introspeksi.

Saya tidak berbicara tentang kesederhanaan tampilan hidup: mendapatkan pendidikan, mencari nafkah, bertemu seseorang, memulai berkeluarga, bertambah tua dan kemudian pergi. Kita bisa melihat di majalah atau televisi yang bisa dibilang menjadi cerminan ambisi kita sendiri; semuanya singkat dan palsu. Kita serakah menikmati kesenangan dan kepuasan diri dan sangat ingin agar diri kita menjadi seseorang yang penting… Ingin dihormati dan diakui agar orang lain merasa iri dengan kita. Bukankah semua itu tiada artinya?

Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia menerbitkan laporan yang menunjukkan bahwa 350 juta manusia di seluruh dunia menderita depresi. Depresi sebagai akibat dari interaksi sosial dan psikologi yang kompleks serta faktor biologis sekalipun dari hari ke hari dokter semakin baik mendiagnosis… Atau semua ini juga bisa dikaitkan dengan alam dan lingkungan yang kita sendiri ciptakan?

Studi terbaru juga lebih mengkhawatirkan. Sebuah laporan tahun 2011 dari UNICEF menempati Inggris dalam posisi terakhir terkait kesejahteraan anak-anak. Laporan tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di Inggris lebih mudah tertekan, tidak bahagia dan rentan komersial. Mereka di kelilingi oleh konsumerisme dan dipaksa untuk tumbuh kecepatan yang tidak sehat. AKibatnya, obesitas, kriminal, penggunaan narkotika, perselingkuhan meningkat.

Fakta ini bukan sekedar memaksa kita untuk mempertanyakan makna dan tujuan hidup. Tapi setiap kali kita merenung dalam kekosongan tujuan hidup, saya ingat seseorang. Orang ini hidup hidup dengan tujuan yang terus menginspirasi generasi berikutnya selama 1400 tahun. Lebih dari 300 juta orang mengunjungi makamnya setiap tahun untuk mengenang ucapannya:

Dunia ini telah diciptakan fana, tidak stabil, dan tidak pasti. Penduduknya terus berubah, masing-masing pasang surut. Jangan tertipu dan dibuat menderita karena kesenangan dan daya tarik yang sementara dan singkat, karena kita lebih layak berada di surga. Jangan jual diri kita untuk apapun yang tak berharga. Siapa pun yang puas dengan kesenangan duniawi telah menempatkan dirinya pada tingkat terendah.

Tidak heran jika kemudian penyair terkenal Josh Malihabadi mengatakan, jika orang-orang mengenal Husain, “Seluruh suku akan mengklaim beliau sebagai miliknya.”

4 thoughts on “Siapakah Sejatinya Imam Husain bin Ali?

  1. اَلسَّلامُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَعَلى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَوْلادِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَصْحابِ الْحُسَنِ

  2. Dari tidak tau siapa Imam Hussain, dengan membaca ini sedikit demi sedikit jadi tahu.
    Thank’s

  3. Saya mencintai Imam Hussain da keluarga Muhmmad Saw.blog ini memang sangat menarik untuk mengingatkan kita pada Perjuangan Imam Hussain.namun ada hal yg ada keliru di sini.saya rasa ini bisa menimbilkan hasutan juga fitnah.anda menulis bahwa Baginda Rasullulah tunduk pada kekejaman.tidakah anada tahu Muhammad Saw,ali bin Abi thaolib,imam hasan dan hussain menegakan keadilah hanya untuk Allahsemata.bukan untuk iblis kaum munafik.
    Keluarga Muhammad Saw mereka berpegang teguh pada Allah.merekan wafat jihad melawan kekufuran semata mata untuk Allah.jelas kita boleh memperingati hari wafat nya Imam hussain.tapi tidakah sebaiknya kita berdoa untuknya.

  4. Iya dibagian mana keluarga Muhamad tunduk pada kekejaman.
    Tidak sedikitpun itu terjadi pada keluarga Muhamad..
    Yg aneh konon katanya ada keluarga muhamad yg janji sembunyi sebentar dan bakal nongol setelah situasi aman alias takut dibunuh..yg bilang dia sembunyi sebentar siapa ?… Eeee lalu org itu pula bilang si dia sembunyi lamaaaaaa.
    Adalagi keanehan lain yaitu konon katanya fatimah di tendang dll sampe keguguran, ee si suami meneng meneng ae, bahkan sampe sisuami jadi khalifah dia tetep gak pernah ungkit ungkit masalah ntu serta akar masalah ntu yaitu fadak yg di rampas,,,uanehhh tenan, opo ono dulure kanjeng Rasul koyo ngono, ato critone sing ngibul.
    Yg pas , so pasti kedua cerita tsb adalh hasil kibullllll.
    Krn tidak mungkin terjadi keluarga Muhamad tunduk ada kekejaman, meskipun kepala jadi taruhannya, selayaknya yang mulia Syaidina Husein Ra.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s