Hanya Karena Jilbab, Aku Disebut Teroris

Ketika pergi ke sebuah mal, seorang gadis kecil memanggil Ela dengan sebutan teroris. Ela barulah berusia tujuh belas tahun dan bukan seorang muslim. Tapi ketika temannya bercerita tentang perlakuan diskriminasi wanita yang memakai jilbab, dia memutuskan untuk merasakan langsung diskriminasi tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang wanita muslim alami sebenarnya.

Ela memberanikan diri memakai syal bersama teman, lalu menuju ke sebuah mal. Biasanya, penjaja akan mendekat dan meminta mereka untuk membeli atau mencicipi camilan. Pegawai toko biasanya menawarkan bantuan, dagangan, dan tersenyum pada mereka. Tapi tidak pada hari itu. Orang-orang, termasuk penjaja, pegawai toko, dan pembeli lain tidak ingin melihat mereka. Mereka tidak berbicara sama sekali. Mereka seolah-olah menganggap Ela dan temannya tidak di sana. Mereka juga tidak ingin diketahui sedang menatap Ela.

Lalu tiba-tiba di sebuah toko, seorang anak kecil—yang sepertinya berusia empat tahun—bertanya kepada ibunya apakah Ela dan temannya seorang teroris. Anak kecil itu seperti tidak sengaja untuk mengatakannya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa dia sudah memahami arti kata prasangka. Akan tetapi, reaksi ibunya tidak akan pernah dilupakan dan dimaafkan oleh Ela. Ibu itu mendiamkan anaknya, menatap Ela, lalu menarik anaknya keluar dari toko.

Semua itu karena Ela memakai syal di kepalanya. Seperti itulah, seorang ibu mengajarkan putri kecilnya bahwa menjadi seorang muslim adalah jahat. Tidak peduli bahwa aku orang yang baik; yang penting aku terlihat berbeda. Gadis kecil itu mungkin akan dewasa dan mengajarkan anaknya hal yang sama.

Pengalaman ini sangat membuat Ela sadar. Meskipun hanya beberapa jam, Ela tidak bisa membayangkan sebanyak apa prasangka yang wanita muslim alami setiap harinya. Semua mengingatkan Ela tentang sesuatu yang banyak orang tahu tapi jarang ingat: wanita yang memakai jilbab jugalah manusia, sama seperti wanita di luar sana yang bukan muslim.

Perlakukanlah muslim, Yahudi, Kristiani, pengikut Budha, Hindu, paganisme, Tao, dsb. sama seperti Anda ingin diperlakukan, terlepas dari apa yang mereka pakai atau tidak, tanpa kecuali. Reblog tulisan ini. Beri tahu temanmu. Kita tidak tahu apakah dunia akan benar-benar bisa menghilangkan prasangka, tapi kita bisa mencobanya, melalui blog.

Penerjemah: Ali Reza

Sumber: Official blog of Ela, Travels with the Doctor

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s