Sejarah Keberadaan Syiah di Palestina

Setelah artikel menarik berjudul Syiah di Israel dimuat IRIB Indonesia, artikel selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah Syiah di Palestina. Berikut kutipan artikel tersebut yang saya ringkas:

Syiah di Palestina mempunyai akar panjang dalam sejarah permulaan Islam. Penyebaran Syiah di daerah ini terjadi saat Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat Nabi Muhammad saw. tiba di Syam dan menyebarluaskan pemikiran Imam Ali a.s. di sana. Faktor lain yang membuat Syiah meluas di Palestina adalah imigrasi kabilah Khuza’ah yang berasal dari Arab Selatan. Sebelum kabilah Quraisy, kabilah Khuza’ah sempat menguasai Mekah dan setelah Islam lahir, mereka menjadi pendukung Nabi Muhammad saw. Dalam berbagai peristiwa, peran kabilah Khuza’ah sebagai sekutu Bani Hasyim sangat kental dan satu cabang dari kabilah ini kemudian menuju Palestina dan membangun kota Khuza’ah.

Maqdisi, penulis geografi abad ke-4 hijriah, dalam karyanya Ahsan al-Taqasim Fi Ma’rifah al-Aqalim jilid pertama menulis, warga Tabariya dan sebagian dari warga Nablus dan Al-Quds adalah pengikut Syiah. Sementara Karajiki, ulama abad ke-5, juga menulis bahwa seluruh penduduk kota Ramallah di Palestina bermazhab Syiah. Naser Khosru Dai Esmaili yang wafat tahun 481 dalam catatan perjalanannya menyebut adanya kuburan Abu Hurairah di kota Tabariya dan penduduk di sana tidak punya kecenderungan untuk menziarahinya.

Naser Khosru yang tinggal di Palestina hingga tahun 437 menyebut mayoritas penduduk kota Al-Quds bermazhab Syiah. Ibnu Jubair yang hidup abad ke-6 dalam catatan perjalanannya menyebut orang-orang Syiah yang tinggal di Palestina termasuk Rafidhi, Imamiah, Ismailiah, Zaidiah dan Nashriah. Tentu saja, periode menurunnya dinasti Fatimiah di Mesir yang diambil alih oleh Shalahuddin al-Ayyubi dengan kebijakan keras terhadap Syiah, proses penyebaran Syiah di Palestina mengalami kemandekan dan terus berlanjut hingga sebelum terjadinya Revolusi Islam Iran.

Peran Revolusi Islam

Pengikut Syiah di Palestina tetap mempertahankan hubungannya dengan Lebanon dan setelah kemenangan Revolusi Islam Iran hubungan ini semakin kuat. Gerakan Jihad Islam sebagai gerakan Syiah dari kelompok-kelompok pejuang Palestina punya hubungan kuat dengan Hizbullah dan Iran. Syahid Fathi Syaqqaqi, mantan Sekjen Jihad Islam adalah pendukung revolusi Islam dan mengatakan bahwa sejak dekade 70-an ia telah mengenal Islam revolusioner melalui karya-karya Imam Khomeini dan Ayatullah Syahid Baqir Shadr.

Selain Jihad Islam, sejumlah organisasi Syiah di Palestina terbentuk dengan kegiatan di bidang budaya dan sosial, seperti Ittihad asy-Syabab al-Islami (Organisasi Pemuda Islam) di Betlehem, yang membangun poliklinik Al-Ihsan, As-Sabil, rumah sakit bedah Niqa Ad-Dauhah, madrasah An-Niqa, pusat kegiatan wanita, dan pendidikan Al-Quran di pelbagai masjid dan yayasan.

Kelompok lain yang aktif dalam mendakwahkan Syiah adalah Al-Harakah Al-Islamiah Al-Wathani (Gerakan Islam Nasionalis) yang dengan Syiahnya Muhammad Abu Samarah dan beberapa anggota lain bergabung dengan Gerakan Jihad Islam. Gerakan Islam Nasionalis mendirikan yayasan dengan nama Pusat Riset Al-Quds untuk aktivitas tablig. Dari semua organisasi, Organisasi Al-Ja’fariah merupakan yayasan yang paling aktif di bawah pengawasan Ustaz Asyraf Amunah yang melakukan kegiatan di Huseiniah Al-Rasul Al-A’zham.

Ramadan Shalah (Sekjen Jihad Islam) bersama Ayatullah Khamenei
Ramadan Shalah (Sekjen Jihad Islam) bersama Ayatullah Khamenei

Mustabshir, Pengikut Baru Syiah

Selain aktivitas organisasi, pengikut baru Syiah di Timur Tengah juga berperan penting dalam penyebaran Syiah di kawasan. Sebagian pengikut baru Syiah ini berasal dari ulama ahlusunah Palestina yang setelah mengkaji karya-karya Syiah kemudian meyakini kebenarannya seperti Syekh Muhammad Abdul’al (محمد عبد العال). Setelah bertahun-tahun mengkaji mazhab Syiah, ia menyebut bahwa buku paling penting yang dia baca adalah Al-Muraja’at. Buku itu memberikan informasi yang banyak namun tidak menambah keimanannay, sampai akhirnya sebuah peristiwa membuat semua mencapai puncaknya dan menjadikannya menerima jalan ahlulbait a.s.

“Suatu hari di tempat pejalan kaki, saya duduk di depan satu toko milik famili saya, sebuah toko kecil. Saya mendengar si pemilik toko memerintahkan satu dari cucunya untuk menjaga toko sementara waktu, hingga ia selesai melaksanakan salat Asar. Pada waktu tiba-tiba saya tersadar dan berpikir, bagaimana mungkin seseorang membiarkan begitu saja tokonya untuk melaksanakan salat tanpa menyerahkan tokonya kepada orang yang dapat melindungi hartanya. Nah, bagaimana mungkin Nabi Muhammad saw. membiarkan umatnya tanpa pengganti?! Demi Allah, pasti tidak demikian.”

Muhammad Syahhadah saat berada di penjara rezim Zionis Israel banyak melakukan kajian dengan orang-orang Syiah Lebanon yang berujung pada penerimaannya akan kebenaran Syiah. Ia satu dari pendakwah mazhab ahlulbait kepada masyarakat Palestina. Dalam wawancaranya ia mengatakan, “Penerimaan saya terhadap Syiah tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah politik. Saya sama seperti umat Islam lainya yang bangga akan kemenangan Hizbullah Lebanon. Namun ini tidak berarti faktor politik yang membuat saya menerima Syiah, tapi semua ini kembali pada akidah ahlulbait yang akhirnya membuat saya menerimanya, tanpa dipengaruhi faktor lain. Jalan ahlulbait adalah jalan yang benar yang saya yakini.”

Iklan

4 Comments

    1. Terima kasih. Saya akan coba tanya ke penerjemah tulisan di atas, apakah ada kesalahan terjemahan atau hilangnya kata seperti “simpatisan”, “pendukung” dan semacamnya di antara kata “gerakan” dan “Syiah”. Tapi saya ingin tambahkan di sini pendapat pemimpin Jihad Islam, Dr. Ramadan Abdullah tentang Syiah dari majalah bulanan Shaut Al-Jihad Al-Islamiah nomor 12, “Banyak orang tahu bahwa pergerakan Jihad Islam merupakan perlawanan Islam berakidahkan ahlusunah… kami menganggap Syiah bagian dari umat muslim ahlul kiblat. (Meski) antara kami dengan mereka terdapat perbedaan, tetapi tidak keluar dari jalan agama (millah).”

  1. Baru tahu sekarang jika jihad islam adalah dari mahzab syiah? mohon penjelasan yg lebih detail. dg bukti2 foto atau video, mungkin? sukron. ^_^

  2. My name is alex mansur I live in brazil I’m a grandson of Lebanese, spiritualist, I come to clarify what happens to the bombers who are detonated thinking of going to paradise following an idea taught to them by madmen of this insane movement. After death by detonation the person Goes to the threshold more precisely to the valley of the suicides, a region of the terrestrial sub-crust located more than 10000 meters deep, in this region of suffering the suicidal madness gradually loses its human form until it becomes an ovoid body that ends up being used By darkness entity being martyred every day 24 hours a day. They are used in macabre experience of great evil and are sent as parasites in bodies of healthy people but who embraced sick religious ideas like Islam. When entering the body of the suicide people act like worms to continue the process of disrupting people.
    Far from any paradise men bombs are used by entities of the lock, demons to provoke more wars. They will hardly be able to be reborn here on earth. No utero or woman would accept these spirits anymore. Will be sent to other planets by divine providence to resume the evolutionary scale thus losing millennia of evolution, leaving from the condition of repsteis until they become human again. In millions of years of sustained evolution. May god have mercy on these souls.

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s