Jilbabku dan Aku

Ini adalah fotoku yang diambil hari ini. Sebagaimana yang bisa Anda lihat, aku memakai hijab atau jilbab sebagaimana yang lebih dikenal. Alasan mengapa aku memakai jilbab sederhana—temanku meminta aku melakukannya. Bukan karena dia ingin aku terlihat bodoh, tapi karena Hari Hijab Sedunia pada tanggal 1 Februari 2013 dan dia meminta semua teman non-muslimnya untuk bergabung bersamanya memakai jilbab.

Aku akan memakai jilbab untuk beberapa waktu mulai sekarang, meski selalu menghindarinya karena aku tidak yakin bahwa aku bisa karena aku bukan muslim. Namun temanku meyakinkan bahwa jilbab lebih banyak berbicara tentang kesopanan, meskipun jelas ia juga berkaitan dengan Islam. Jadi hari ini aku berpikir “Mengapa tidak?” dan melakukan yang terbaik untuk membuat jilbab dengan syalku. Aku telah memesan dua jilbab dan beberapa pin,  jadi sebelum semuanya tiba aku akan memakai sebuah syal yang dililit di kepalaku.

Rowenya with her hijabBagaimanapun, optimismeku belum cukup diceritakan ke seluruh dunia. Dalam perjalanan ke universitas hari ini, aku melihat lebih dari 60 orang. Dari semua itu, 16 orang di antara mereka menatap mata dan hanya 3 dari mereka yang tersenyum balik padaku. Lainnya, entah sengaja mengabaikanku atau melihatku namun kemudian dengan cepat berpaling. Mengejutkan sekaligus mengecewakan bagiku, karena aku tidak terbiasa dijauhi di jalanan. Bahkan rekanku menyadari bahwa kami saling menjauhi, seolah-olah kami memiliki penyakit menular.

Hal ini membuatku sadar bahwa orang-orang sering dengan mudahnya berlaku rasis tanpa sadar. Dengan melihat seseorang dan kemudian berpaling, Anda membuat mereka seolah harus merasa malu. Tentunya aku merasa seperti itu—aku merasa harus melihat ke lantai karena malu, meskipun aku tidak habis pikir mengapa harus malu, atau justru apa yang harus dirasa malu.

Orang-orang yang melihatku terlihat terkejut dan penasaran terlihat di wajahnya, seolah mereka tidak habis pikir mengapa seorang gadis putih mau memakai jilbab. Banyak orang berharap mereka yang memakai jilbab haruslah berasal dari Afrika atau Timur Tengah, jadi melihatku berkeliaran dengan memakai jilbab mungkin mengejutkan. Lagi pula, aku berpikir mengapa ini sebauh kejutan—Inggris, bagaimana pun juga, sebuah masyarakat yang bebas dan demokratis dan orang akan berpikir bahwa siapapun bisa memakai apa yang mereka inginkan.

Aku juga merasa sangat marah ketika aku memakai jilbab, dari satu orang ke orang berikutnya menghindari tatapanku. Untuk menguji teoriku, aku menurunkan jilbabku dan berjalan dengan kepala terbuka… dan perbedaannya sangat besar! Orang-orang kembali menatapku dan membalas senyumku, tapi saat kembali memakai jilbab aku juga kembali menjadi seseorang yang tak terlihat dan tidak boleh dilihat. Bahkan seseorang langsung menyebrangi jalan ketika dia sadar aku sedang memakai jilbab!

Benar-benar memuakkan bagiku untuk melihat penilaian dan ketidaksopanan dari orang-orang yang biasanya menatap dan mungkin tersenyum balik padaku. Aku selalu bangga pada diriku sendiri sebagai seseorang yang menyenangkan dan mudah didekati, dan berpikir bahwa perbuatan sederhana seperti memakai jilbab ternyata mengubah cara orang melihat saya dan itu buruk dan tidak adil. Aku hampir merasa terkhianati, dan merasa malu dengan orang-orangku sendiri. Menyadari hanya ada 16 orang yang memiliki kesopanan untuk melihat mataku dan tidak memperdulikan apa yang aku pakai benar-benar menyedihkan, terutama karena aku berharap lebih banyak orang melihatku.

Satu hal yang menggembirakanku adalah seseorang di sebuah lokakarya yang aku ikut ambil bagian di dalamnya. Wanita itu mengira bahwa orang sepertiku yang memakai jilbab adalah “orang berani” karena pernyataan yang kami tunjukkan dan bahkan ia membuat poin bahwa “[jilbab] bukan sesuatu seperti salib yang disembunyikan di dalam baju Anda, tapi sesuatu yang Anda pakai di kepala Anda,” yang merupakan poin yang sangat relevan. Wanita muslim tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa mereka adalah muslim—dunia akan melihat, khususnya ketika mereka memakai jilbab—dan memang seharusnya mereka demikian!

Begitulah hari pertamaku memakai jilbab. Aku berharap segalanya berubah, tapi jangan terlalu berharap.

Penulis: Rowenya

Sumber: Booksie – My Hijab and I

5 thoughts on “Jilbabku dan Aku

  1. sedikit pendapat hati saya ya ka’,,,saya kaum muslimah,,,,
    berjilbab memang terasa aneh bila di pakai orang yang non muslim.,.,.tapi lihat perubahan yang terjadi.,.,orang” yang berda di dekat anda berubah sikap,ya ketika anda memakai jilbab dan ketika tidak memakai jilbab.,.sungguh dalam islam wanita harus menjaga pandangannya,,dan juga senyum kpda lawan jenis,..,dengan memakai jilbab orang sungkan memandang kita.,.karena kita terlihat lebih tertutup dan sopan,.memang anda non muslim tapi saya mendukung anda tuk memakai jilbab.,,,saya juga berjilbab karena rambut saya adalah aurat wanita yang harus di tutupi ,..,”PD” aja kha’ kalo pakai jilbab .,..itu tidak ada bedanya dengan biarawati yang ada di gereja yang mengenakan tudung,.,.,smga al masih memberi sebuah cahaya terang untuk masa depan anda.,.,.SUKRON(makasih)

  2. subhanallah…seorang wanita pasti akan terlihat cantik dengan menutupi auratnya dengan jilbab…allahu allahu allahu…

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s