Tangisan Mufti Suni Suriah

Tanggal 18 Maret 2013, kita mendengar kabar terpilihnya warga Amerika Serikat, Ghassan Hitto, sebagai perdana menteri oposisi Suriah. Tiga hari berselang kabar mengejutkan tersebut bertambah dengan wafatnya Syekh Muhammad Said Ramadan Al-Buthi bersama empat puluh orang lain—termasuk cucunya[1]—dalam sebuah ledakan di kota Damaskus. Syekh Al-Buthi bukan hanya sekedar ulama suni Syafii yang menentang campur tangan asing dalam krisis di Suriah, tetapi juga pendukung persatuan di antara mazhab ahlusunah dan Syiah.[2]

Bukti-bukti yang ada sejak awal krisis hingga kini telah membuktikan campur tangan dan dukungan asing terhadap pemberontak demi runtuhnya pemerintahan Bashar Assad. Tetapi semua bukti jelas tersebut belum terasa cukup; justru sebaliknya, syahidnya Syekh Al-Buthi malah dituduhkan kepada pemerintahan Assad. Sehingga di satu sisi, media menyesalkan seorang ulama suni yang mendukung Bashar Assad; tapi di sisi lain media yang sama juga mengecam pemerintahan Bashar Assad karena membunuh pendukungnya.

Mendengar kabar duka tersebut, saya memutuskan untuk memuat pesan mufti agung suni Suriah yang sebelumnya telah saya terjemahkan pada medio Desember 2011. Pesan Syekh Ahmad Badr Hassoun ini disampaikan pada Oktober 2011 dalam prosesi pemakaman putranya yang juga syahid dibunuh oleh pemberontak Suriah.

Putra kesayanganku, wahai Sariyah.

Aku percaya engkau mendengarkanku dan merasakanku saat ini. Pertama, aku mempersembahkanmu kepada Allah. Jika darahmu menyembuhkan tanah air ini dan mencegah pertumpahan darah, ya Allah, saksikanlah bahwa aku mempersembahkanmu, wahai putraku, untuk melindungi darah saudara sebangsa.

Aku katakan kepadamu, wahai putraku, aku menangisimu.

Aku tahu engkau menjalankan salat malam dan berpuasa di siang hari. Allah menjadi saksi atas semua itu. Puasamu yang terakhir tanggal 6 Oktober dan salat tahajud terakhirmu kemarin malam. Engkau sering kali bangun malam untuk salat. Engkau penuh kasih sayang. Hatimu tidak membawa kebencian pada siapapun. Engkau jujur dan tidak pernah berbohong pada siapapun. Engkau penuh belas kasih, wahai putraku, kepada keluarga, guru, dan teman-temanmu. Tanyalah kepada teman-temannya yang pernah hidup bersamanya.

Kemarin, wahai putraku, ibumu mengatakan kepadaku bahwa dia ingin mempertunangkanmu dengan seorang pengantin. Dia memanggilku ke Damaskus, dan berkata, “Saya melihat dia (calonmu) itu orang yang baik dan perhatian.” Lalu aku berkata, “Selamat untuknya, jika dia menginginkannya.”

Putraku, Sariyah,

Empat bulan yang lalu, aku berkunjung ke Sanamain dan berkata kepada penduduk Daraa dan putra putri Suriah, “Darah kami adalah darah kalian, kehormatan kami adalah kehormatan kalian.” Jika engkau, putraku, hadir hari ini, aku memohon kepada Allah untuk menjadikanmu syahid. Maka hari ini aku memohon kepada ibu, putra, ayah, dan istri semua syahid untuk berkata kepada pembunuh, “Berhentilah! Berhentilah membunuh putra putri bangsa kami. Kami tidak menyiapkan putra-putri kami untuk dibunuh oleh putra bangsa. Kami menyiapkan mereka untuk (syahid) di tanah Palestina.”

Dengarkanlah, wahai pemimpin negara Arab! Aku menyiapkan putraku untuk syahid di tanah Palestina. Kedutaan kalian menolaknya. Kedutaan kalian menarik duta besarnya, sementara Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris membiarkan duta besar mereka ada di tanah air kita. Biarkan duta besar kalian untuk membangun komunikasi cinta di antara sesama saudara. Kami berharap kalian, wahai orang-orang terhormat, agar datang ke Suriah untuk bertemu rakyat dan pemimpinnya demi mendamaikan di antara manusia. Kami tidak mengharapkan kalian memberi fatwa.

Wahai para ulama yang terhormat, izinkan aku; wahai pemimpin terhormat, wahai Syekh Al-Azhar, wahai Syekh Qaradhawi, wahai para penceramah, wahai yang mengeluarkan fatwa untuk membunuh sepertiga rakyat Suriah, inilah putraku yang telah menuju Allah. Jika kalian tidak bisa mati dan mengikutinya, maka lakukanlah! Pada hari kiamat, darah 3.000 syuhada Suriah akan berdiri di hadapan Allah dan berkata kepada kalian, “Kalian yang berfatwa untuk membunuh rakyat Suriah.”

Wahai Tuhanku, darah kami ada di tangan-Mu. Kepada mereka yang berfatwa untuk membunuh kami, kepada mereka yang menyuruh orang-orang untuk membunuh rakyat Suriah, kepada mereka yang mengirim senjata ke Suriah, kepada mereka yang membawa uang ke Suriah, …

Katakan kepada mereka, wahai saudaraku Abul Walid dan Khaled Meshaal! Katakan kepada orang-orang Arab, siapa yang merangkul kalian di Suriah? Katakanlah, wahai Hamas, siapa yang merangkul kalian di Suriah? Kepada penduduk Gaza, siapa yang menangis darah untuk kalian di Suriah? “Kesalahan” kami hanya karena kami merangkul Hamas dan Jihad Islam…

Salah seorang pemimpin oposisi Suriah, Burhan Ghalioun, dalam wawancaranya dengan Wall Street Journal mengatakan akan mengkaji ulang hubungan dengan Hamas, Hizbullah, dan tentunya Iran. Selengkapnya…

Dengarkanlah, wahai saudaraku. Putraku aku korbankan demi mengharap pahala Allah, tapi demi Allah, nabi kita yang tercinta telah bersabda: “Menghancurkan Kakbah dengan batu lebih ringan di sisi Allah dari pada membunuh atau menumpah setetes darah seorang mukmin.”

Aku ingin bertanya kepada empat orang pembunuh yang kemarin datang ke jalanan dan membunuh putraku dan gurunya. Aku ingin tanya kepada mereka dan pemimpinnya, atas dasar apa kalian membunuh putraku? Apakah dia membunuh salah seorang dari kalian? Apakah ayahnya ikut serta dalam membunuh seseorang?

Bukankah aku katakan sejak hari pertama bahwa aku pelayan bangsa ini? Aku penyambung cinta antara pemimpin dan rakyatnya. Aku tidak suka kedudukan, tapi aku seorang mufti bagi 23 juta penduduk negeri ini. Aku tidak ingin seorang pun terluka. Aku menangisi seluruh syahid. Aku meratapi setiap anak kecil dan ibunya. Mengapa kalian melakukannya terhadap Sariyah?

Kepada kalian yang masih berdemonstrasi di negeri ini, aku mencium tangan dan kening kalian. Tanah air ini akan menjadi tempat pembantaian kedua. Kalian semua akan dibunuh. Targetnya bukanlah pemerintah, tujuannya bukanlah rezim ini. Jika tujuannya adalah rezim ini, mereka akan kabur. Seluruh pemimpin Arab akan melarikan diri. Mengapa mereka membom hari ini? Mengapa mereka membunuh orang-orang di Sert hari ini? Mengapa Libia dibom? Mereka tidak menginginkan Sariyah dan teman-teman syuhadanya. Mereka menginginkan Suriah untuk berlutut di hadapan Zionis dan Amerika Serikat. Demi Tuhan pemilik Kakbah, hancurkanlah mereka!

Jika tidak ada yang tersisa di Suriah kecuali satu orang, maka dia akan tetap serius terkait masalah Palestina dan dia tidak akan tunduk di hadapan kalian, wahai musuh-musuh umat. Tapi dia juga tidak akan berlaku buruk dengan membunuh orang-orang tak bersalah. Tiga ribu syuhada  dari kalangan tentara maupun rakyat biasa mengharap pahala Allah. Mereka semua anak-anak kita, saudara-saudara kita.

Saudara-saudaraku yang telah terperdaya, yang sedang membawa senjata; kalian seharusnya membunuhku karena syekh-syekh kalian memerintahkan kalian untuk melakukannya. Tapi mengapa kalian membunuh pemuda ini? Dia tidak melakukan apa-apa, apalagi menyakiti kalian. Setelah semua ini, akankah kalian wahai pemilik fatwa mengatakan bahwa semua ini halal? Para syuhada kami ada di sisi Allah. Biarkan mereka menuntut kalian di hadapan Allah.

Syekh Qaradhawi mengatakan dibolehkan membunuh mereka yang mendukung pemerintahan Bashar Assad, sekalipun ulama. Selengkapnya…

Aku berkata sebagaimana mereka berkata ketika dia dihukum mati oleh seorang tiran. Mereka berkata kepadanya, “Apa permintaan terakhirmu?” Dia menjawab, “Katakan kepada yang akan membunuhku, jika dia mampu untuk tidak mengikutiku (mampu menghindari kematian), maka lakukanlah. Aku akan menunggunya di hadapan Tuhan yang Maha Adil.”

Tunggulah mereka, wahai Sariyah. Tunggulah mereka lalu katakan kepada Rasulullah, “Rakyat Arab, wahai Rasulullah, telah membangun satelit televisi untuk saling membunuh, membohongi, dan menipu satu sama lain… dan targetnya adalah negeri Syam.” Wahai rakyat Suriah tersayang, janganlah takut. Sekalipun 1.000 syahid akan wafat, maka rasul lebih jujur dari pada mereka. Rasul berkata, “Malaikat yang Maha Pengasih masih akan melebarkan sayapnya di atas negeri Syam.”

Kalian yang bertemu di konferensi, baik muslim maupun yang lainnya, hotel-hotel kalian berbintang lima, tapi air mata kami hanyalah untuk Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kalian meminta bantuan musuh untuk melawan dan menembaki kami, tetapi kami akan meminta kepada Allah untuk mengadili antara kami dan kalian. Dialah sebaik-baik Pengadil. Suriah akan bertahan bersama putra-putranya, ulamanya, golongannya, sebagaimana yang Allah kehendaki. Negeri risalah para nabi, negeri yang diberkahi oleh langit. Suriah akan tetap bercahaya terang, sekalipun senjata kalian menjadi nyala api, nyalanya akan tetap menjadi mimbar seorang mukmin.

Aku tahu di antara kalian akan menentangku. Kalian para ahli-ahli internet, sebagian kalian akan berteriak bahagia. Aku katakan kepada kalian bahwa pertemuan kita akan ada di sisi Tuhan yang paling adil. Pertemuan kita akan berada di kursi kebenaran di hadapan Tuhan Pemilik Ketetapan. Aku akan mengadukan kalian kepada Allah. Aku akan mengadukan kalian atas apa yang terjadi di negeri ini, bukan atas apa yang terjadi pada putraku! Putraku hanya bagian dari diriku, tapi negeri ini adalah keseluruhan diriku.

Tulislah apapun yang kalian ingin tulis. Lepaskan dendam dan kebencian kalian. Tapi kami akan melawannya dengan cinta, iman dan kesabaran  perlawanan (muqawamah) yang kami miliki dan keyakinan kepada Allah.

Wahai yang saya kasihi, para ayah dan ibu, aku memohon kepada kalian atas nama Allah, kepada siapa saja yang mengetahui anak-anaknya membawa senjata, katakanlah kepada mereka untuk melindungi negeri ini. Juga kepada siapa saja yang meletakkan senjatanya hari ini, berhentilah berperang dan membunuh. Aku memohon kepada Tuan Presiden, untuk memberikan ampunan (amnesti) kepada mereka, termasuk kepada mereka yang membunuh putraku, demi Suriah, demi tanah air, demi negaraku, atas nama agama dan moral, karena kalian wahai kelompok perlawanan…

Amerika Serikat meminta kelompok oposisi Suriah untuk menolak tawaran amnesti yang diberikan presiden Suriah. Selengkapnya…

Inilah Suriah yang pintunya terbuka lebar, berhentilah memfitnah kami dari luar negeri sana. Datanglah dan katakan apapun yang ingin kalian katakan di negeri ini, dan jika seseorang menolakmu, saya akan berada di barisan kalian. Datang dan katakanlah kebenaran! Datang dan tanyalah dengan jujur! Kalian inginkan kemerdekaan. Kalian ingin keadilan, mari kita bangun fondasi itu bersama di Suriah.

Karenanya dengan kalimat itu, aku menyampaikan salam perpisahan kepada putraku. Engkau telah mendahuluiku dan aku akan menyusulmu. Kita semua akan menyusulmu. Tunggulah kami karena Rasulullah telah berjanji kepada kita, siapa yang permata hatinya telah diambil lalu dia rida maka Allah akan memberkahinya. Aku meminta kepada Allah untuk meridaiku dan Engkau tahu, wahai Tuhanku, siapa Sariyah yang tidak pernah membahayakan seorang pun dalam hidupnya. Dia ingin sekali menjadi syahid di tanah Palestina.

Diberkahilah engkau, wahai ibu dari Muhammad Maruf, kami malu karena telah mengorbankan putra kami di sini, sementara engkau mengorbankan putramu di Palestina. Diberkahilah engkau wahai Abu Hadi, engkau mengorbankan putramu di Palestina, sehingga jika putramu berdiri maka ia berhadapan dengan Zionis. Siapa yang akan memusuhi putraku di hari kiamat? Putra bangsaku sendiri?

Wahai kalian yang mendengar ucapanku; yang membunuh putraku Sariyah, aku berbicara kepada kalian. Semoga Allah menjagamu dari kesedihan hati dan tidak mengalami penderitaan atas perbuatan yang engkau lakukan terhadap kami. Aku memohon kepada Allah untuk mengilhamkan kalian taubat sebelum meninggalkan dunia ini sehingga tidak menjadi musuh putraku di hari kiamat. Aku memohon kepada Allah untuk memasukkan ke dalam hati ibu Sariyah… keridaan untuk memaafkan mereka sebagaimana aku memaafkan, karena air matanya begitu berharga.

Aku berdoa kepada Allah untukmu, wahai Sariyah, agar bersama kakekmu ustazku Syekh Muhammad Al-Hamoui, beliau kakek dari ibumu, seorang alim di negeri Syam. Juga ustazku Syahid Asy-Syariah. Aku berdoa kepada Allah agar engkau berkumpul dengannya hari ini bersama kakekmu tersayang, Syekh Muhammad Adib Hassoun. Bersama nenekmu, wahai Ummah Usamah, wahai Ummah Muhammad, Sariyah datang kepada kalian. Pernikahannya di sana bersama kalian, bukan di sini bersama kami. Maka terimalah dan masukkan dia bersama setiap syuhada negeri ini, baik itu pemuda, ulama, anak-anak, dalam kebenaran di sisi Tuhan Pemilik Ketetapan.

Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Terima kasih saudaraku, Tuan Menteri. Semoga Allah membantu kita untuk melayani rakyat ini dalam agama, keyakinan, dan patriotisme. Terima kasih kepada pemimpin negara ini. Aku katakan kepadamu, Tuan Presiden, aku mengenalmu lebih dari yang lain termasuk orang yang paling dekat, Allah menyaksikan, engkau ingin memimpin Suriah demi menjaga keamanan lalu pergi dan mengucapkan salam. Tidak, semoga Allah bersamamu dalam membawa Suriah menjaga keadilan, kebenaran, serta menempatkan kaki rakyatnya di jalan kemenangan. Negeri yang bangga dengan nilai-nilai, agama, kebersamaan, dan nasionalisme yang dimilikinya.

Kalian wahai saudaraku di dunia Arab, selama engkau mendengarku, demi Allah, datang dan kunjungilah Suriah. Datanglah ke Hama, Homs, Daraa, Lattakia, Damaskus, Aleppo, dan Deir Zur, datang dan buktikan kebohongan stasiun televisi. Sejak enam bulan lalu mereka berbohong. Datang dan jangan biarkan delegasi Amerika dan Rusia yang datang dua pekan lalu berkata kepadaku, “Mengapa orang Arab tidak datang dan melihat keamanan negerimu. Kami jalan di malam hari dan tidak merasa ketakutan.” Ini yang mereka katakan kepadaku. Datanglah bangsa Arab dan saudara muslimku ke Suriah bersama membantunya menjadi negeri baru yang menjadi contoh pembebasan umat dan pembebasan Palestina, insya Allah.

Air mata mengalir, hati telah bersedih. Wahai Sariyah, aku bersedih atas kepergianmu. Aku akan mendoakanmu. Akan tetapi, jika nanti di hari kiamat aku tidak menjadi syahid, syafaatilah aku karena engkau seorang syahid. Inilah yang aku harapkan dari Allah.

Aku akan tutup dengan firman Allah, orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Cukuplah Allah menjadi penolongku. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa… Ya Allah berikanlah kami kenikmatan dan karunia tersebut.

Tamu yang terhomat, setelah salat mohon duduklah. Sekelompok pemuda akan memindahkan Sariyah ke rumahnya yang baru. Selagi itu bacakanlah surah Yasin selama duduk sampai mereka merebahkannya di rumah yang baru. Semoga ia menjadi salah satu taman surga. Kami menerima duka cita kalian dengan izin Allah. Terima kasih atas kebaikan kalian semoga Allah menjaga kalian dari kehilangan seseorang yang dicintai.

Referensi:

[1] Aji, Albert. (21 Maret 2013). “Sheikh Mohammad Said Ramadan Al Buti, Syrian Pro-Assad Cleric, Killed In Damascus Bombing”. The Huffington Post.

[2] “Ulama Terkenal Said Ramadhan Al Buthi Tewas dalam Ledakan di Masjid Damaskus”. MuslimDaily. 21 Maret 2013

5 thoughts on “Tangisan Mufti Suni Suriah

  1. Semoga Allah membuka mata hati saudara-saudara kita untuk melihat kebenaran dan semua orang islam bisa bersatu untuk menghadapi Zionis dan sekutunya

  2. Yang selalu menggelayut di pikiran saya tentang Bashar Al-Assad adalah:

    dalam pandangan mereka yang anti-/non-Syiah, konflik di Syria adalah konflik Sunni vs Syiah.

    Asumsinya adalah:

    1. Bashar Assad adalah representasi dari Syiah
    2. Iran atau Hezbollah Lebanon pun ikut rembuk ngebantu Bashar

    Sehingga kesimpulan kalo konflik di Syria itu konflik sektarian nggak bisa dielakkan.

    Tentu saja, ada yang janggal dengan kesimpulan tersebut. Terutama jika kesimpulan itu dibangun dari asumsi ke-1.

    Sesuatu yang mengelayut di pikiran saya tentang: “Bashar Assad adalah representasi dari Syiah” adalah:

    1. tentu asumsi tersebut adalah sebuah hasty generalization
    2. Apakah memang Bashar itu seorang Syiah yang taat? Bukannya dia adalah seorang anggota dari Partai Baats cabang Syria yang memperjuangkan sosialisme Arab?
    3. Ada beberapa opini yang dibangun dari beberapa fihak, kalo sebenernya Bashar itu adalah seorang Sunni *misalnya dengan ngetag video Bashar yang lagi shalat Id dengan tangan bersedekap*. Tapi semua orang juga tau kalo keluarga Assad adalah keluarga yang berlatar belakang Nushairiyah. Dan ketika saya mencari tau tentang “Syiah Nushairiyah”, ternyata info yang saya dapatkan adalah: kalo Nushairiyah itu sempalan dari Imamiyah.

    Nah, selanjutnya? Timbul pertanyaan: kenapa Iran dan Hezbollah membantu Bashar?

    *dongdong* Black out

    Bisa ngebantu saya nge-disclose hal ini?

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s