Alasan Keluar dari Universitas Tehran

Kamis, 10 Maret 2009. Saya membuat sebuah notes di Facebook mengenai daftar universitas yang ingin saya jadikan sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Dengan menggunakan Google Earth, saya berkeliling dan “melihat” tiga universitas pertama yang berada di Iran dan menempatkan Fakultas Ekonomi Universitas Tehran di urutan pertama. Urutan kedua adalah Universitas Shahid Beheshti dan berikutnya Universitas Imam Sadiq. Sementara tempat tujuan yang saya anggap alternatif terakhir, berada di Malaysia.[1]

Selasa, 1 Oktober 2013. Empat tahun lebih sudah berlalu dan saat tulisan ini dibuat, saya sedang berada di Iran dan berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tehran. Namun apa yang terbayangkan empat tahun yang lalu jauh berbeda dengan realitas yang saya hadapi. Alhamdulillah, “cita-cita” untuk setidaknya tiba di sini memang tercapai, tapi saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Apakah saya sudah gila?

Sejak sebelum berangkat hingga saat tulisan ini dibuat, selalu ada masalah yang dihadapi—tentu, hal ini bukan berarti kalau saya tidak menyadari bahwa segala sesuatu ada ujian, rintangannya. Bahkan sebelum berangkat ke Iran pun, saya sudah mendengar bahwa salah satu masalah yang akan muncul di negeri Persia ini adalah sulitnya “birokrasi”. Mulai dari tidak adanya surat resmi, ketidakpastian keberangkatan, kesalahan visa, beasiswa yang tidak pernah ketahuan jumlahnya, hilangnya berkas ijazah, sampai saat tulisan ini dibuat di mana asrama untuk mahasiswa asing belum mendapat kejelasan.[2] Bisa dikatakan, lebih dari separuh waktu dan energi selama berada di sini hanya berurusan dengan proses administrasi. Ada banyak cerita berliku dan tentunya melelahkan jika harus dikisahkan kembali dari awal di tulisan ini.[3]

Empat tahun lalu saat bersemangat ingin belajar di sini, saya mengira bahwa seluruh universitas di Iran mengajarkan tentang bidang pendidikan strata satu yang saya pelajari. Ternyata setelah tiba di sini, saya bukan orang Indonesia pertama yang memiliki rencana awal untuk belajar tentang ekonomi atau keuangan syariah. Meski demikian, saya menjadi yang pertama karena berkesempatan untuk mencoba jurusan bânkdâri eslâmi (perbankan islami)—jurusan yang baru dibuka sekitar tahun 2010[4]—di universitas nomor wahid Iran.

Ada beberapa faktor yang membuat saya (dianggap) gila, mudah menyerah, tidak tahan banting karena memutuskan untuk meninggalkan pendidikan di sini. Misalkan mengenai ketidakjelasan administrasi negeri ini; hal ini bukan tidak diakui oleh orang Iran sendiri.[5] Tapi lucunya, orang yang berada di Indonesia—entah dengan maksud apa—mengatakan bahwa semua “kesulitan” itu dilakukan untuk menghindari dan menyulitkan mata-mata asing.[6]

Kartu MahasiswaDulu, ketika masalah visa muncul, saya dan teman-teman pernah diminta untuk pulang ke Indonesia dan mengambil kembali visa dari kedutaan Iran di Jakarta. Ketika awal-awal dinyatakan diterima di Universitas Tehran, saya belum diberikan kartu mahasiswa, makan, dan asrama sehingga terpaksa bolak balik[7] Tehran-Qazvin untuk bisa menghadiri kelas.

Sedikit contoh dari banyaknya masalah administrasi tersebut, yang seharusnya tidak menjadi urusan rutin mahasiswa yang memiliki niat awal untuk belajar, jelas membuat saya—dan teman-teman mahasiswa asing—kehilangan semangat dan daya tarik untuk belajar di Iran—ditambah juga permasalahan teknis lainnya. Memang, saya bukan satu-satunya yang mengalami kesulitan. Ada banyak mahasiswa asing lain yang juga mengalami dan memiliki perasaan yang sama: kecewa dan ingin kembali ke tanah air masing-masing. Perbedaannya, di antara mereka ada yang tidak mempunyai pilihan lain. (Dalam kurun waktu satu tahun, saya adalah mahasiswa Indonesia ketiga yang meninggalkan pendidikan di tengah jalan dan, dalam waktu dekat, akan ada orang keempat.)

Akhirnya, saya meminta masukan dari keluarga, tempat kerja, dan juga teman-teman. Meski mereka memberikan lampu hijau untuk kembali, saya merasa belum mantap sehingga akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya melakukan ibadah istikharah. Dengan banyaknya pertimbangan, keputusan untuk meninggalkan pendidikan di sini tidaklah mudah; bahkan berat. Saya sampaikan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada keluarga, rekan, dan teman yang telah mengorbankan materi, tenaga, dan waktu.

Tehran, Oktober 2013

Catatan:

[1] ^ Padahal, jumlah pelajar Iran di Malaysia jauh lebih banyak. Pada tahun 2003 berjumlah 300 orang, tahun 2006 berjumlah 900 orang, dan sedikitnya 3.000 orang pada tahun 2008. Sehingga bisa dibayangkan jumlahnya saat ini. Sumber: “Iranians seeking life abroad look east to Malaysia”. AFP. 22 Juli 2008.

[2] ^ Surat yang menyatakan bahwa permohonan saya untuk menjadi mahasiswa telah dikabulkan, saya terima pada tanggal 7 September 2013. Tahun ajaran baru dimulai tanggal 14 September 2013. Saya baru secara resmi mendapat asrama—melalui bantuan teman-teman, bukan kebijakan universitas—pada tanggal 8 Oktober 2013. Sampai saat ini, puluhan mahasiswa asing belum mendapat asrama resmi. Sebagian dari mahasiswa asing yang saya kenal terpaksa tinggal di penginapan (mehmânsarâ).

[3] ^ Kurang dari dua minggu sebelum kepulangan, sistem universitas menyatakan bahwa status saya tidak beasiswa penuh (hanya shahriye pardâz) sehingga harga makanan di sistem milik saya 4-5 lima kali lebih mahal daripada mahasiswa lain.

[4] ^ Saya pernah bertanya ke bagian akademik fakultas dan dikatakan bahwa jurusan bânkdâri eslâmi baru dibentuk sekitar satu tahun yang lalu. Tapi ketika bertemu dengan mahasiswa jurusan bânkdâri eslâmi yang sudah lulus, dia mengatakan bahwa jurusan bânkdâri eslâmi sudah ada sekitar tiga tahun yang lalu.

[5] ^ Karut-marutnya birokrasi atau tidak berjalannya standard operating procedure—jika memang ada, agar tidak bisa dibaca oleh mata-mata asing—juga pernah digambarkan dalam bentuk kritik dalam serial Mard-e Hezâr-Chehreh. Beberapa orang Iran yang saya temui dan merasa sulit untuk mengakuinya di depan orang asing seperti saya, biasanya, akan berkata, “Jangan khawatir. Semuanya bakal selesai.” Sebagian yang lain ada yang mengakui dan mengatakan, “Di sini memang begitu. Kamu harus setiap hari datangi kantor fulan.” Sementara guru di kelas bahasa dahulu dengan tegas mengatakan, “Semua itu bukan kesalahan sistem atau komputer. Memang oknum yang malas untuk menekan tombol.” Bahasa yang dicontohkan guru tersebut merujuk pada proses administrasi dan surat-menyurat yang lama dan berlarut-larut.

[6] ^ Misal: Saputra, Harja (9 November 2011). “Beranikah AS dan Israel Menyerang Iran?”. Voice of Humanism.

[7] ^ Sempat juga bermalam di tempat rekan. (Terima kasih!)

Baca Juga:

7 thoughts on “Alasan Keluar dari Universitas Tehran

  1. Parah yah birokrasinya, lebih parah daripada di sini mungkin ya. Selain itu, denger2 sangat sulit juga beradaptasi dengan kultur lingkungan setempat… Tapi kalo dilihat dari sisi kemampuan dan lingkungan akademisnya gimana? biasa aja atau ada sesuatu?

    Dulu sebelum melanjutkan untuk kuliah, ada rencana juga mau belajar engineering di sana, karena menurut laporan, perkembangan sains di sana tercepat di dunia. Ada sisi baiknya ga jadi kuliah di sana, saya juga termasuk orang yang eneg dengan birokrasi yang ruwet2.

    Good luck bang eja.

    • Kalau susah-mudah beradaptasi dengan kultur jelas bergantung pada masing-masing, dan itu tidak jadi alasan buat saya untuk keluar. Kalau dari sisi akademis di universitas, dari jurusan saya yang bidang sosial memang masih kalah dibanding di Indonesia. Entah jurusan lain. Teman-teman yang kuliah di jurusan sosial lain, misalnya di fakultas humaniora, juga mengatakan tidak sebaik perkembangan di Indonesia misalnya, karena kajian di sana banyak di jurusan teknik, ilmu eksak, kedokteran, dsb. Kalau “percepatan perkembangan” mungkin, iya; tapi kalau kualitas yang sudah stabil dan membandingkannya dengan negara lain saya tidak tahu.

      Terima kasih, Ali…

  2. Welcome home..
    Selamat berkumpul dengan kerabat…
    Selamat mendengar dendang kokok Takfiri…
    Selamat mendengarkan suara riuhnya azan di kampung halaman..
    *Teringat Kampung Halaman by Lilis Suryani

  3. I’m sorry to read this.. saya dan suami 14 thn yll mengalami hal yg sama persis; ditambah pula dg urusan rumit pasca kelahiran anak kami, akhirnya kami juga menyerah dan kami kembali belajar di almamater tercinta, Unpad.

    • Nyambung lagi ya.. Tulisan ini membuat saya dan suami nostalgia, mengenang lagi masa-masa lalu. Ada bbrp hal yg muncul, antara lain, apakah kami dulu menyerah (berhenti kuliah, lalu kerja di IRIB) semata-mata karena sistem yang “menyiksa” kami atau kami yang lemah? Sorry to say, tapi hari ini saya menyimpulkan, saya yang lemah (dan akibatnya, suami saya jadi terpaksa mundur juga karena kelemahan saya). Saya ingat-ingat lagi, teman sekamar saya di asrama, perempuan Thailand, mampu bertahan sampai akhirnya jadi dokter. Padahal situasi yang dia hadapi sama ruwetnya. Waktu itu, juga ada rombongan mhsw dari Philipine, hampir separuhnya pulang, tapi separuh lagi bertahan; salah satunya teman baik kami, akhirnya jadi PhD di bidang HI. Beberapa mahasiswa Indonesia juga ada yang bertahan dan kini sudah di Indonesia dg gelar S1-S2-S3. Entah apa yang dulu mereka lakukan untuk mensiasati situasi, yang jelas mereka berhasil melewati rintangan sistem.

      Lalu, setelah saya di IRIB (dan hidup nyaman karena punya uang dollar, dan karenanya bisa punya jaringan internet yang dulu cukup mahal, tidak seperti sekarang), lewat blog saya berkenalan dengan banyak orang Indonesia yang studi di Barat. Saya mendapati bahwa mereka pun menjalani kesulitan hidup selama studi. Ada istri-istri yg harus melakukan semua sendirian, sementara suami sangat sibuk studi, bahkan meninggalkan rumah berbulan-bulan untuk kepentingan studi (saya bisa memastikan, bila saya jadi mereka, saya akan segera minta pulang ke Indonesia). Ada seorang bapak yg pagi-siang kuliah (di Inggris), sore sampai dini hari kerja di kantor pos demi mendapat uang tambahan agar bisa mengirim uang ke istrinya di Indonesia (krn uang beasiswa yg diterimanya sangat pas-pasan). Mereka semua orang-orang yang sangat kuat. I wish I knew them long time before. Kalau itu terjadi, mungkin saya dulu bisa bertahan, karena mendapat inspirasi dari mereka. Tapi dulu saya terbiasa hidup nyaman di Indonesia dan terkaget-kaget dengan semua kerumitan birokrasi, serta membanding-bandingkannya dg kuliah di Barat (yg ternyata juga tak senyaman yg saya kira, berdasarkan cerita teman-teman saya itu), sehingga tidak tahan banting sama sekali.

      Tapi, ketika semua sudah berlalu, ya sudahlah, diambil hikmah saja. Skrg saya sangat menikmati kuliah di Unpad, di jurusan yg saya sangat minati (dulu di Tehran Univ saya ‘terlempar’ di jurusan yg buat saya asing dan tdk saya minati, jurusan Islamic Jurisprudence.. jadi ya sebenarnya saya juga tidak ‘rugi’ lah, ga lulus kuliah).

      Maaf jadi curhat di sini🙂

    • Terima kasih, Uni Dina. Saya juga mendapat komentar-komentar semacam “lemah” atau “tidak tahan ujian” dan mendengar cerita tentang teman-teman yang mengalami kesulitan di negeri asing (bahkan sampai ada yang dipenjara). Seperti yg saya bilang, beberapa teman yang mengalami kesulitan ada yang tidak punya pilihan untuk tidak melanjutkan; ada yg memang karena mereka menemukan apa yang mereka cari atau mereka tidak punya pilihan untuk tidak melanjutkan. Jadi ada faktor tingkat kesulitan dan tingkat kemampuan menghadapi masalah si orang tersebut. Pengalaman dari saya, ditambah dengan kurikulum yang sepertinya tidak sesuai harapan; yang jika dilanjutkan justru merugikan kalau dibandingkan melanjutkan pendidikan di Indonesia.

      Kehidupan memang disusun dari episode-episode yang penuh pilihan.

  4. saya tidak merasa demikian. Mungkin cara pendekatan kalian semua dan anda utamanya kurang tepat. Jika anda tidak mengenal tempat atau lingkungan yang anda tempatkan dengan BAIK dan TELITI , itu akan mendapatkan masalah. Kenalilah dan dekati mereka semestinya. Dan mohon maaf,tolong jangan seakan akan anda menjelekkan iran. Iran adalah negara yang di tunjuk oleh nabi dan para ma’sumin sebagai negara ilmuan. Saya sangat mengenal orang iran dan sudah tinggal 7 tahun bersama mereka. walaupun kini sudah kembali ke iran namun tetap iran is the best tentang pendidikan dan pemerintahan. Mohon di hapus post ini. Sangat melecehkan di mata orang” wahabi. Makasih

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s