Kuliah di Universitas Iran

Berdasarkan pengalaman, saya merasa perlu untuk berbagi sedikit cerita tentang bagaimana kuliah di universitas umum di Iran. Universitas umum yang saya maksud adalah perguruan tinggi (non-kedokteran) yang berada di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan, Riset, dan Teknologi Iran,[1] bukan perguruan tinggi yang mengajarkan pendidikan agama untuk orang asing seperti Universitas Al-Mustafa yang berpusat di kota Qom.

Mengapa penting, karena jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di universitas umum Iran bisa dikatakan sedikit—seingat saya jumlahnya saat ini kurang dari delapan orang. Ikatan Pelajar Indonesia (IPI)[2] yang menjadi “identitas” mahasiswa universitas umum di Iran masih kurang terdengar namanya. Karenanya, mahasiswa asal Indonesia yang ingin kuliah di universitas umum Iran, sedikitnya perlu mendapatkan informasi tentang gambaran kondisi di sana.

Karena semua ini berdasarkan pengalaman, maka sangat mungkin apa yang orang lain alami pada masa lalu dan mendatang akan berbeda; bisa jadi lebih mudah atau sebaliknya. Alasan lain mengapa berbagi-pengalaman ini saya pandang perlu, karena kesulitan yang dialami oleh mahasiswa universitas umum di Iran relatif karena kurangnya informasi sebelum mengambil keputusan untuk datang. Pengalaman dari teman-teman yang belajar di Qom tentu berbeda dan informasi dari kedutaan Iran di Jakarta sangatlah tidak cukup.

Semoga, tulisan ini tidak dipandang hanya sekedar curhatan, tapi informasi bagi (banyaknya?) peminat yang ingin kuliah di universitas Iran.

Fakultas Ekonomi Universitas Tehran

Fakultas Ekonomi Universitas Tehran

Apa jurusan yang terbaik?

Sebelum memutuskan untuk mengajukan beasiswa ke Iran, carilah informasi tentang bidang studi yang memiliki kualitas pendidikan terbaik. Misalkan, jurusan Bahasa dan Sastra Persia merupakan pilihan yang tepat karena dari tempatnya langsung kita belajar mengenai kesusasteraan mereka. Selain itu, jurusan lain yang berkaitan dengan kajian keiranan juga menjadi prioritas mereka untuk diberikan beasiswa, seperti motâle’ât-e Irân, masâel-e Irân, dan târikh-e Irân.

Bidang studi lain yang perkembangannya di Iran lebih cepat dibandingkan studi-studi yang lain berkisar pada jurusan eksakta. Misalkan, berdasarkan jumlah tulisan yang dipublikasikan,[3] jurusan kimia, kedokteran, teknik, dan fisika merupakan yang terbanyak. Sementara ilmu-ilmu sosial—menurut mahasiswa Iran sendiri—tidak menjadi perhatian utama.

Bagaimana cara mendaftarnya?

Tidak seperti beasiswa ke Amerika Serikat atau Eropa yang memiliki lembaga khusus seperti AMINEF atau Erasmus Mundus, untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Iran ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, menghubungi kedutaan Iran di Jakarta mengenai peluang tersebut. Jika tidak membuka pendaftaran, maka cara kedua adalah, melakukan pengajuan dokumen langsung ke Kementerian Riset dan Teknologi Iran dengan bantuan mahasiswa Indonesia di Iran.

Secara umum memang tidak sulit karena tidak melalui tes akademis, hanya saja tidak ada kepastian kapan kita diterima atau kapan visa dikeluarkan. Bisa jadi beberapa bulan, lebih dari satu tahun, atau tidak diterima sama sekali.

Pengalaman: Meskipun dikatakan bahwa dokumen harus diserahkan enam bulan sebelum tahun ajaran baru (tahun ajaran baru di Iran di mulai pada bulan Mehr atau pekan ketiga-keempat bulan September), pengalaman saya mendaftar sampai akhirnya berangkat memakan waktu sekitar 14-15 bulan.

Kapan beasiswa diberikan?

Informasi lebih detail tentang beasiswa yang diberikan justru baru bisa saya ketahui setelah tiba di Iran. Pertama, beasiswa A (alef) yang mencakup biaya pendidikan, asrama, asuransi, dan uang saku. Kedua, beasiswa B (beh) yang mencakup biaya pendidikan dan asrama, tanpa uang saku. Uang saku yang diberikan setiap bulan, akan dikirimkan ke rekening tabungan per enam bulan; tentu jika berjalan lancar. Pengalaman dari teman-teman, sering kali turunnya beasiswa tertunda sampai beberapa bulan. Bahkan jika mendapatkan kampus di luar Tehran, turunnya beasiswa bisa tertunda sampai lebih dari satu tahun.

Karena kondisi perekonomian negara pemberi beasiswa bisa dibilang sulit, maka sangat mungkin penerima beasiswa selanjutnya hanya akan mendapat beasiswa tingkat B.

Pengalaman: Pada awalnya dikatakan bahwa saya dan teman-teman mendapatkan beasiswa A, ternyata ketika tiba, kami hanya mendapat beasiswa B. Meski usaha menuntut perubahan berhasil dan dalam sebuah surat tertulis bahwa status beasiswa berganti menjadi beasiswa penuh (kâmel), namun setelah lebih dari satu tahun dan hingga kepulangan, beasiswa tidak pernah turun. Berapa angka pasti beasiswa yang diberikan, berdasarkan informasi teman-teman, per bulannya sebesar 30 USD (1 USD = 30.000 IRR); sementara biaya hidup yang kami—mahasiswa Indonesia—sepakati minimal 100 USD per bulan. Karena itu, jika ada yang “cukup” beruntung mendapatkan beasiswa A dan masih berminat untuk melanjutkan studi di Iran persiapkanlah biaya hidup.

Siapa yang mengajarkan bahasa Persia?

Hampir seluruh seluruh proses belajar-mengajar di universitas Iran tentunya menggunakan bahasa Persia. Pertama-tama, mahasiswa asing yang mendapatkan beasiswa dari Iran akan dikirim ke kota Qazvin untuk belajar bahasa Persia[4] selama kurang lebih enam bulan di kelas,[5] dengan rata-rata proses pembelajaran tiga jam sehari. Tiga bulan pertama merupakan tingkat dasar (pâye) dan tiga bulan berikutnya adalah tingkat lanjutan (pishrafte). Mahasiswa yang ingin mengambil strata-1 harus mengikuti pra-universitas (pishdâneshgâhî) lagi selama tiga bulan. Jika hasil ujian per tiga bulan dinyatakan tidak lulus dan ingin mengulang, diharuskan membayar sebesar 500 USD.[6]

Pengalaman: Sebelum keberangkatan, saya ingat bagaimana orang-orang mengatakan bahwa belajar bahasa Persia itu mudah dan enam bulan adalah waktu yang cukup. Pernyataan tersebut ada benarnya tapi juga sangat menjebak. Pertama, karena bahasa pengantar yang digunakan langsung bahasa Persia, maka mahasiswa yang ingin belajar di Iran diharapkan sudah mengenal dan terbiasa membaca dan menulis huruf-huruf hijaiah. Bisa membaca Alquran saja tidaklah cukup. Kedua, waktu enam bulan untuk belajar bahasa Persia adalah cukup jika diperlukan untuk pergi ke warung, misalnya. Tapi ketika dihadapkan dengan kehidupan nyata universitas; menjadi orang asing di tengah-tengah mahasiswa dan dosen universitas yang lisan dan tulisannya menggunakan bahasa ilmiah—dan mereka sejak kecil berbicara bahasa Persia—maka waktu tersebut tidaklah cukup.

Informasi singkat di atas belumlah mewakili keseluruhan pengalaman yang saya alami dan kurang cukup untuk menggambarkan kondisi di sana. Apa yang telah saya lalui sangat mungkin berbeda dengan pengalaman teman-teman mahasiswa lain sebelumnya dan yang akan datang kemudian. Pada pekan terakhir bulan September 2013, saya dan beberapa mahasiswa Tehran bertemu dan telah menyampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Muhammad Nuh, mengenai kondisi perkuliahan di Iran. Tentu dengan harapan keadaan di hari-hari mendatang dapat lebih baik.

Salah seorang wartawan pernah bertanya ke saya, apa benar mahasiswa yang kuliah di universitas umum Iran hanya boleh pengikut Syiah? Tentu saja tidak. Ada pelajar agama di Iran yang juga ahlusunah, bahkan yang kuliah di universitas umum Iran kebanyakan teman-teman suni. Terakhir, persiapkanlah juga jawaban atas pertanyaan yang sangat mungkin sering diterima: Cherâ âmadi injâ? Kenapa kamu datang ke Iran?

Catatan:

[1] ^ Perguruan tinggi kedokteran di Iran berada di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Medis. Sementara pendidikan menengah ke bawah berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan.

[2] ^ Di Iran, terdapat dua organisasi kemahasiswaan Indonesia. Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) yang kebanyakan beranggotakan pelajar agama dan berbasis di Qom; dan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) yang beranggotakan mahasiswa universitas umum dan berbasis di Tehran.

[3] ^ “Higher Education in Iran.” Wikipedia. Diakses 2 Oktober 2013.

[4] ^ Pusat Pendidikan Bahasa Persia berada di bawah Universitas Internasional Imam Khomeini, Qazvin. Mencari informasi melalui situs sering kali tidak akurat, karena tidak diperbarui (saat tulisan ini dibuat, sub-menu Persian Language Center tidak dapat diakses). Silakan kunjungi versi bahasa Inggrisnya di ikiu.ac.ir/en.

[5] ^ Kompas edisi 14 Oktober 2013 keliru ketika menuliskan bahwa saya mengatakan bahwa pendidikan bahasa Persia memakan waktu satu tahun.

[6] ^ Meskipun disebutkan bahwa penerima beasiswa akan mendapatkan surat resmi sebagai undangan, namun nyatanya hal itu tidak ada. Begitu pula tidak ada informasi mengenai proses-proses yang harus dilalui, termasuk jika seseorang tidak lulus belajar bahasa dan diharuskan membayar sejumlah uang. Angka tersebut di atas ini didasarkan pengalaman seorang teman pada awal tahun 2013. Jumlah tersebut bisa jadi berubah pada tahun mendatang.

Baca Juga:

13 thoughts on “Kuliah di Universitas Iran

  1. hai, gw mau nanya. temen gw yang di iran mau transfer uang ke indonesia tepatnya ke bank BNI. cuma dia bingung caranya gimana. boleh kasih tau gak caranya. makasih banget, mohon bantuannya

  2. Salam,
    Artikel ini sangat berbobot dan membuat saya yang membacanya menjadi sangat tertarik untuk mengetahui Iran.
    Perkenalkan saya Lia, domisili di Jakarta. Setelah membaca artikel ini, Insyaallah di awal Juni 2014 ini saya akan berkunjung ke Iran sbg independent traveller selama seminggu , berdua dg teman saya. Mohon info dari penulis, kiranya berkenan memberikan rekomendasi , adakah mahasiswa Indonesia di Tehran yang bisa menjadi ‘guide ‘ pendamping kami selama di Iran? Terimakasih atas perhatian dan bantuannya.

  3. Makasih infonya, cukup informatif bagi sy yg ingin kuliah di Iran. Oya mahasiswa indon yg dpt beasiswa di sana, tp turun beasiswanya telat, apakah nyari kerja paruh waktu? Dan apa diperbolehkan utk kerja paruh waktu?
    Sy tertarik utk belajar ttg Iran dan Syiah, Ms Eja punya kenalan di Jogja yg bs dijadikan teman diskusi utk ngobrolin itu? Makasih Ms Eja, mohon dibales via surel .

  4. hmm iran ya? agan ini bener2 mantep dah, gue sih takut gan=_=”…
    btw, hidup disana apa aman2 saja gan? terutama untuk sunni tuh, kalau saya perhatikan dari artikel ini, apa suni dan syiah bisa begitu dibedakan ditengah masyarakat, maksudnya apa bertanya “anda syiah/suni?” adalah hal biasa?
    salut jg sih bisa dapet beasiswa disana, soal telat sih jangankan iran, di jerman pun beasiswa dari DAAD jg bisa telat beberapa minggu, bahkan beberapa bulan

    • Secara umum aman dan sebagaimana yg saya katakan bahwa mayoritas yang kuliah universitas di sana ahlusunah. Pertanyaan tentang negara, mazhab, agama juga menjadi biasa bagi mereka, meski terkadang teman-teman merasa risih dengan pertanyaan seperti itu. Justru banyak orang Iran menjadi merasa segan dengan minoritas.

  5. Wah serem bgt ya kuliah disana. Pdhl tadix aq ngebet bgt krn tertarik dg syiahx, ahmadinejadx, nuklirx, keteguhan & keberanianx, salut bgt. Tp skrg… ampun2 deh

  6. tarus bagaimana dengan nasib” mahasiswa indonesia di iran ? jika beasiswa nya tidak keluar berarti mereka membayar biaya kuliah dengan biaya sendiri ? dan bagaimana biaya kehidupan disana ?

    • Ada yang melakukan penghematan ketat; ada yang mencari kesempatan sebagai penerjemah; ada yang biaya sendiri.

  7. saya sangat tertarik untuk kuliah di iran. apakah penulis bisa memberikan apa yg lebih mudah untuk bisa dihubungi. untuk sharing lebihlanjut. saya sangat butuh informasi untuk bisa melanjutkan disana

  8. Salam warohmah, bib Jufri.
    Walid ana lulusan SMKN Arsitektur 2013 dan lulus Hawzah Ilmiyah Khatamun Nabiyyin wisuda 2015, sangat berminat kuliah beasiswa di jurusan Arsitektur / Perencanaan Tata Kota di Universtias sains & teknik Iran tahun 2016 ini, apa yg harus ana persiapkan dan bagaimana caranya bib. Mohon dibantu bib. Syukron.

  9. Assalamualaikum..

    Saya adrian bangun Zulfikar
    Saya Mahasiswa Tafsir Hadits di UIN SGD bandung..

    Sudah sejak lama saya tertari pada Iran, tepatnya sejak saya mulai mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh iranian corner di fakultas kami..

    Saya beberapa kali diskusi dan saya tertarik untuk lanjut s2 disana..
    Mohon informasi nya..

    Seputar beasiswa utk kuliah disana..
    Saya tertarik di jurusan Sastra Persia..

    Juga jika akang memiliki kawan disana.. Mohon bantuannya..
    Terimakasih

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s