Pengakuan Yasir Qadhi tentang Syiah

Abu Ammaar Yasir Qadhi dilahirkan di Houston, Texas, dari sebuah keluarga imigran Pakistan. Ketika berusia lima tahun, keluarga membawanya pindah ke Jeddah, Arab Saudi. Di sana, ia mempelajari hadis sampai kemudian meraih gelar magister bidang teologi dari Islamic University of Medina. Pada tahun 2005, ia kembali ke Amerika Serikat dan menjadi salah seorang penceramah paling populer sekaligus pendiri AlMaghrib Institute yang mengajarkan teologi salafi.

Selama kurang lebih sembilan tahun belajar di Arab Saudi, Yasir Qadhi jelas terpengaruh oleh ideologi yang diajarkan. Dia sendiri yang mengatakan, “Dua puluh tahun yang lalu ketika saya masih remaja, saya menyebut diri saya sebagai muslim salafi.” Tapi dengan berat, ia mengakui adanya kekeliruan atas apa yang diyakini seperti dalam hal metodologi yang digunakan oleh salafi dengan langsung menafsirkan sumber agama dan mendakwahinya sebagai yang paling benar. Meski ia tetap menyatakan bahwa di dalam salafi terdapat beragam kelompok.

Pria yang meraih gelar doktor tentang pemikiran Ibnu Taimiah ini mengatakan bahwa di dalam Majmu’ Al-Fatawa dinyatakan: hanya karena seseorang berasal dari kelompok yang benar, bukan berarti dia akan masuk surga. Begitu pula, seseorang yang berasal dari kelompok yang salah bisa jadi meraih tempat tinggi di surga karena orang tersebut melakukan amal salih dengan ikhlas. Seseorang yang merasa berada di akidah yang benar, bisa jatuh ke posisi yang rendah karena kesombongan di hati dan perbuatan dosa yang dilakukannya.

Yasir Qadhi percaya bahwa hanya dengan keberanian memulai dialog, seluruh sekte dan mazhab yang ada dalam Islam dapat maju bersama. Islam yang diajarkan melalui Alquran dan Rasulullah tidak pernah memaksakan keyakinan apalagi dengan kekerasan fisik.

Ketika secara spesifik berbicara tentang Syiah, Yasir Qadhi tegas menyatakan, “Saya seorang suni yang taat, yang belajar dan mengajarkan tentang akidah suni. Saya bisa saja tidak sependapat dengan akidah Syiah, tapi saya tidak akan pernah mengizinkan suni manapun untuk menyerang secara fisik seorang pengikut Syiah atau meledakkan masjid dan makam Syiah. Sekuat apapun akidah saya, saya menentang siapapun yang memaksakan akidahnya terhadap orang lain baik dengan tongkat, pedang, ataupun bom.”

Yakini apa yang ingin Anda yakini; bantahlah apa yang ingin Anda bantah, tapi biarkan orang lain meyakini apa yang mereka yakini.

Setelah belajar dari kekeliruannya, Yasir Qadhi mengatakan bahwa para pendakwah, ulama, ayatullah dari seluruh kelompok harus mengerti bahwa ada waktu, tempat, pendengar, bahasa, dan metodologi yang tepat ketika membahas tema-tema yang kontroversial. Bisa jadi para penceramah tidak bermaksud menyebarkan kebencian, tapi dengan menggeneralisasi, para pengikut dan pendengar bisa terpengaruh untuk melakukan tindakan kekerasan.

Yasir Qadhi bercerita bahwa tulisan dan ceramahnya yang berapi-api dan penuh fitnahan masih terus menghantuinya sampai saat ini. Dia mengatakan, “Saya masih bisa memaklumi bahwa saat itu saya masih sangat muda, sekitar dua puluh tahunan. Tapi hal itu tetap tidak bisa mengubah kenyataan bahwa saya telah berbuat kekeliruan.”

Islam memerintahkan kita untuk bekerja sama dengan siapapun, dari mazhab dan kelompok manapun, selama berhubungan dengan hal-hal yang positif, seperti kebenaran dan ketakwaan. Hanya karena kita bekerja sama dengan kelompok yang berbeda dalam satu area, bukan berarti kita harus bekerja sama di seluruh area yang ada.

Figur yang bisa dijadikan pemersatu antara suni dengan Syiah, menurut Yasir Qadhi, adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika menjabat sebagai khalifah, Ali memerintahkan Ibnu Abbas untuk berdialog dan meyakinkan kelompok Khawarij bahwa mereka keliru. Selesai berdialog, sepertiga dari kelompok Khawarij kembali menjadi pengikut Ali. Apa yang dikatakan Imam Ali kepada dua pertiga yang lain? “Jika kalian tetap dengan akidah kalian, kami tidak punya hak lagi. Selama kalian tidak mengganggu kami, kami tidak akan mengganggu kalian.”

Yasir Qadhi mengatakan, apapun kelompok dan mazhab yang diyakini, jalanilah sebuah golden rule yang pernah disampaikan oleh Yesus dan Nabi Muhammad saw. yaitu perlakukan orang lain sebagaimana kalian ingin orang lain memperlakukan kalian.

Referensi:

“Shaykh Yasir Qadhi is no longer a Salafi”. Lamp Post Production. 28 Maret 2013.

“Reflections on the Hadeeth of the 73 Sects”. YouTube.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s