Iran Tidak Memimpin Syiah Dunia

Syiah di Yaman menguasai ibu kota. Gerakan yang dilakukan Syiah Zaidiah tersebut—yang sering disebut dengan Houti karena nama pemimpin pertamanya Hussein Badreddin Al-Houti, atau nama yang lebih mereka sukai, Ansar Ullah—kembali mengingatkan momok bernama Bulan Sabit Syiah (Al-Hilâl Asy-Syî’î). Ketakutan akan Bulan Sabit Syiah diikuti dengan desas-desus kebangkitan Kekaisaran Iran yang didasari asumsi bahwa Iran menguasai Syiah di seluruh dunia. Sebagian orang mengatakan, Iran mengendalikan empat ibu kota di Timur Tengah: Baghdad, Beirut, Damaskus, dan sekarang Sanaa.

Faktanya, Iran tidak menguasai ibu kota tersebut dan komentar seperti itu hanya akan menunjukkan kebodohan yang luar biasa tentang Syiah dan berbagai sektenya. Mereka tampaknya tidak menyadari bahwa politik negara dengan populasi Syiah yang substansial tidak hanya ditentukan oleh faktor agama. Etnis, bahasa, dan isu kekuatan memainkan peran yang lebih penting.

Asal-Usul Syiah

Syiah hanyalah penafsiran sejarah yang berbeda atas peristiwa yang terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Mereka yang percaya nabi telah menunjuk sepupu dan menantunya, Ali, sebagai pelanjutnya dikenal sebagai Syiah Ali, yang berarti pengikut Ali. Namun kehendak nabi dan keunggulan Ali dikalahkan oleh politik kesukuan; setidaknya menurut keyakinan Syiah. Namun demikian daya tarik ahlulbait (keluarga nabi) meningkat di kalangan non-Arab setelah meluasnya wilayah kekuasaan Islam, korupsi pada pemerintahan, dan ditinggalkannya prinsip-prinsip Islam.

Sampai akhirnya imam Syiah dari ahlulbait yang keenam menegaskan garis keturunan dari imam ketiga, Ali bin Husain, pertanyaan tentang keberlanjutan kepemimpinan tetap terbuka dan menjadi sumber perbedaan. Misalnya, Zaid bin Ali, putra dari Ali bin Husain, memiliki pengikut yang kemudian dikenal sebagai Zaidi. Sejarah hubungan Iran dengan Yaman dan pengikut Zaidi di sana tidaklah dekat. Iran hanya tertarik di Yaman setelah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser menyerang negara tersebut dan menggulingkan pemimpin Zaidi. Arab Saudi dan Iran pada masa itu mendukung kekuatan imam.

Perpecahan berikutnya terjadi setelah wafatnya Imam Jafar Ash-Shadiq. Itsna Asyariah menganggap putranya, Al-Kazhim, sebagai imam yang sah, sementara Ismaili mengangkat putranya yang lain, Ismail. Tidak seperti Itsna Asyariah yang percaya kegaiban Imam Mahdi, Zaidiah dan Ismailiah percaya akan imam yang hidup.

Pada masa Safavi (1501-1735), Itsna Asyariah bangkit menyatukan Iran dan menjadi mayoritas di sana. Dinasti Safavi juga membangun makam para imam Syiah di Irak. Selama beberapa abad, banyak orang Iran tinggal di Irak. Di bawah Safavi pula, hubungan Iran dengan Syiah di Lebanon menjadi semakin dekat.

Sama seperti agama-agama lain di dunia, Syiah juga berkembang; beberapa aliranya saat ini tidak memiliki kesamaan doktrin dan keyakinan dengan Syiah terdahulu. Di antaranya adalah Alevi di Turki dan Alawi di Suriah yang menjadi minorits di negara masing-masing. Prinsip umum Syiahpun tidak bisa sepenuhnya mengurangi perbedaan etnis dan bahasa, sebagaimana yang dialami agama lain, termasuk suni Islam.

Kepemimpinan Iran?

Bersatunya Syiah di bawah kepemimpinan Iran juga bisa menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh, dorongan pembebasan Syiah di Lebanon datang jauh sebelum revolusi Iran dan pembentukan Hizbullah. Saat itu, Syiah Lebanon berada di tingkat ekonomi dan sosial yang rendah. Sebagian faktornya disebabkan korupsi tuan tanah di wilayah mereka sendiri dan juga dominasi Kristen Maronit dan ahlusunah. Ada atau tanpa Iran, situasi tersebut harus berubah. Tahun 1960-1980, sebagian besar intelektual Syiah bergabung dengan komunis atau partai kiri lainnya, yang mencerminkan keterasingan dari struktur sosial dan politik yang ada.

Kasus yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Irak, di mana Muhammad Baqir Al Sadr mengembangkan alternatif keislaman dalam karya di bidang ekonomi, filsafat, dan pemerintahan. Situasi serupa terjadi di Turki. Pengikut Alevi yang kebanyakan etnis Kurdi berada di partai kiri.

Namun tujuan Syiah di Yaman adalah mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai hak-hak asasi, meski tanpa adanya hasutan gerakan dari Iran. Orang-orang Yaman yang dipaksa menyerahkan sebagian tanahnya kepada Saudi, membenci kesewenangan Saudi. Saudi telah membeli loyalitas berbagai suku Yaman dan selama bertahun-tahun membuat mereka terpecah belah. Arab Saudi tidak ingin ada negara lain di kawasan yang dapat menjadi saingan potensial.

Dorongan Persatuan

Sejak tahun 1990, penyebaran anti-Syiah yang masif dari Wahabi ke Pakistan serta kebangkitan Taliban, menjadikan Syiah sebagai target serangan yang sistematik. Akibatnya, muncul rasa kebersamaan dan kebutuhan persatuan dalam Syiah. Peristiwa yang terjadi di Pakistan, Irak, Suriah, dan Bahrain—termasuk sentimen anti-Syiah di Mesir, Magribi, dan Turki—meningkatkan tekanan dalam Syiah.

Namun Iran tidak melakukan apapun untuk mendorong persatuan dan membawa Syiah dalam kendalinya. Iran memiliki pengaruh di tempat-tempat seperti Irak dan Lebanon, tapi pengaruh berbeda dengan mengendalikan. Terlebih, Iran dihubungkan dengan kebijakan anti-Syiah negara-negara Arab. Iran terbukti gagal menghentikan pembunuhan sistematis terhadap Syiah di Pakistan. Iran juga tidak berdaya menghadapi tekanan brutal terhadap Syiah Bahrain.

Justru, Iran dan pemimpin tertingginya secara terus-menerus menekankan persatuan Islam dan menganjurkan hubungan suni-Syiah yang lebih dekat, meski terkadang muncul gangguan dalam pengikut Syiah, karena adanya perbedaan di dalam Syiah sendiri, termasuk di dalam pengikut Itsna Asyariah.

Singkatnya, tidak masuk akal untuk berbicara tentang Syiah internasional di bawah kepemimpinan Iran. Label sesat terhadap Syiah dan isu Kekaisaran Syiah-Persia saat ini hanyalah karena tujuan politik semata, semacam pelarian dari masalah Palestina. Strategi semacam itu tidak menyelesaikan masalah Palestina, namun hanyalah menghadirkan ISIS dan sejumlah waralaba Al Qaida kepada umat.

Sumber:

Hunter, Shireen (4 Februari 2015). “Is Iran the Leader of a Shia International?”. Lobe Log Foreign Policy

3 thoughts on “Iran Tidak Memimpin Syiah Dunia

  1. Nushayriyah (atau pasca kolonial Prancis sering disebut Alawi) itu ‘syiah’ yang ‘tidak memiliki kesamaan doktrin dan keyakinan dengan Syiah terdahulu’ ya, Bib.

    Klu blh riques c gmn klu habib bahas aliran2 yg bkmbang dlm Syiah it ap aj. Soalx kbnykn non-/anti-Syiah msh sk main pukul rata ngliat doktrin aliran2 ‘syiah’ yg berlebihan (ghulu/ghulah) tsb sbg doktrin resmi dari Syiah.

    • iya sekalian dijelasin imam imam nya setiap aliran syiah tersebut…serta alasan mereka mengangkat imam yg berbeda beda. mohon info nya bib

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s