Menjembatani Suni-Syiah Melalui Anak-Anak

“Kalau kita membunuh satu orang sama seperti membunuh seluruh umat manusia. Tapi ISIS membunuh orang-orang seperti membunuh semut!” kata Sofia, 8 tahun. Niamh, 10 tahun, menimpali, “Aku rasa mereka ingin membuat suni-Syiah semakin bermusuhan.” Kedua sahabat ini hangat berdiskusi. Heran dengan konflik sektarian di antara umat Islam, mereka mencoba melacak sejarah masa lalu yang menyebabkan umat Islam masa kini memiliki mental saling membunuh. Pikiran dan hati yang masih bersih dari ego dan pengaruh luar, membawa mereka menelusuri mengapa sejarah menciptakan sejumlah umat Islam bermental pembenci dan pembunuh.

Melalui anak-anak, Hoda Yahya Elsaoudani mencoba mengembalikan permasalahan tersebut ke jalurnya: kekerasaan dan permusuhan tidak memiliki tempat dalam ruang perbedaan. Perang sektarian yang terjadi di Irak dan Suriah belakangan merupakan alasan Hoda untuk memproduseri film dokumenter ini. Tujuannya jelas: mempersatukan umat Islam melalui cinta, kasih sayang, dan tentunya pemahaman. Cara yang dilakukan adalah dengan meningkatan kesadaran, mempromosikan perdamaian dan persatuan, meruntuhkan penghalang, dan melawan stereotipe.

Pesan tersebut coba disampaikan oleh Hoda dengan cara yang kreatif, mencerahkan, namun tetap kekinian. Judul Why Can’t I Be A Sushi? akhirnya dipilih. Kombinasi Sunni dan Shia menjadi Sushi tersebut menunjukkan kepolosan anak-anak, meskipun pertanyaan sebenarnya dari mereka adalah why can’t we be just a muslim?

Hoda mengatakan film ini tidak bertujuan menjadikan suni sebagai pengikut Syiah atau pula sebaliknya. Makna persatuan menurutnya adalah kemampuan untuk menerima perbedaan dan memperlakukan yang lain dengan baik dan kasih sayang. Abdullah Al Andalusi, seorang dai ahlusunah mengatakan dalam film ini, persatuan bukanlah memaksakan diri untuk saling bersepakat tentang suatu hal. Persatuan adalah keinginan untuk tetap saling melindungi dan menghormati meskipun tidak ada kesepakatan pendapat satu sama lain.

Dua sahabat yang sedang mempertanyakan alasan orang-orang membenci mazhab yang lain, mencoba mencari jawaban dari masyarakat, cendekiawan, dan ulama dari kedua mazhab di wilayah Inggris. Direktur Sinai Centre for Islamic Mediterreanan Studies, Haifaa Khalafallah, menjelaskan jika kosa kata seperti “suni” atau “Syiah” termasuk suku kata yang berubah sepanjang masa. Makna yang dimaksudkan oleh para penganutnya pada hari ini bisa jadi berbeda dengan makna pada masa awal umat Islam. Sehingga, mengapa seseorang harus membenci orang lain hanya karena dia mengira kalau orang lain berpikiran tentang apa yang tidak diyakininya?

Menurut mantan anggota parlemen Inggris, George Galloway, pihak asing memang secara sengaja memperluas perbedaan antara suni dengan Syiah. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan melakukan agresi dan okupasi sebuah wilayah. Padahal, menurut Syekh Mohammad Bahmanpour, seorang imam di wilayah London, baik suni dan Syiah hanyalah sebuah cara untuk sama-sama menemukan cara yang paling bisa diandalkan dan otentik dalam menjalankan sunah Nabi Muhammad saw.

Film dokumenter independen ini belum sepenuhnya rampung. Sutradara dan produser masih mengumpulkan dana untuk memperluas sudut pandangan dengan mewawancara berbagai sumber internasional lainnya. Info lebih lanjut mengenai film ini, atau ingin mendukung pembuatannya, kunjungi situs Why Can’t I Be A Sushi.

Iklan

1 Comment

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s