Salafi Dulu dan Sekarang, Menurut Rumi

Mengapa kelompok salafi hari ini mengklaim sebagai satu-satunya pengikut salaf? Apa perbedaan antara salafi sebagai sebuah pendekatan dan salafi sebagai sebuah jalan? Ternyata, kedua konsep salafi tersebut tersirat dalam dua karya Jalaluddin RumiFihi Ma Fihi dan Masnavi. Rumi menggunakan karakter salah seorang sahabat nabi untuk menggambarkan dua keadaan yang saling bertolak belakang, seperti kekerasan dan kasih sayang atau peperangan dan perdamaian.

Hal tersebut disimpulkan oleh Dr. Nasrollah Pourjavady yang telah mengkaji puluhan buku-buku terkait filsafat dan mistisisme (sufisme). Dr. Pourjavady adalah pendiri Iran University Press yang telah menerbitkan ratusan karya penelitian ilmiah. Kesimpulan yang didapatkan Pourjavady adalah sebuah pesan bagi para salafi hari ini melalui kata-kata Rumi. Sebuah pesan yang sejatinya sejalan dengan hadis Rasulullah saw.

Semakin tua, manusia akan menyesali setiap kesempatan yang telah hilang, khususnya kesempatan yang muncul di masa-masa gemilang. Kondisi yang sama terjadi pula bagi peradaban. Ketika sebuah peradaban semakin tua untuk meraih kembali masa kegemilangannya yang telah berlalu, masyarakatnya mulai mendambakan zaman keemasan kembali. Perasaan tersebut juga mencengkram umat muslim 3-4 abad setelah kemunculan Islam. Para sufi besar sampai mengira matahari Islam tengah terbenam dan kegelapan menyelimuti keyakinan umat.

Suatu ketika, Abu Said Abul Khair, sufi abad kesembilan, berkata kepada seorang penganut Zoroaster, “Tidak ada yang baru dalam keyakinan kami. Bagaimana dengan keyakinanmu?” Maksud dari kalimat itu adalah tidak lebih dari 400 tahun sejak era keislaman, Abu Said sudah merasakan bagaimana spiritualitas (umat) Nabi Muhammad saw. menurun. Ketika sebuah agama telah melewati era kejayaannya dalam waktu 400 tahun atau lebih, apalagi yang telah berusia 2.000 atau 3.000 tahun, pasti akan berada di ujung tanduk.

Setelah 400 tahun, sebagian besar umat menginginkan kembalinya masa-masa kehidupan nabi di Madinah sehingga dapat memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk memandang nabi dan menikmati setiap momen yang ada. Selama berabad-abad, umat Islam secara umum sudah merasa mereka semakin jauh dari realitas Islam. Mereka akan sangat senang jika dapat melihat nabi dalam mimpinya. Muncul gagasan tentang orang-orang yang telah melihat nabi dan keluarganya dalam mimpi dan berusaha membawa segala ucapan dan perilakunya sedekat mungkin kepada mereka.

Berbagai istilah seperti sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin digunakan untuk merujuk kepada pribadi-pribadi yang telah hidup di era keemasan Islam. Orang-orang baik dan jujur dalam umat Islam inilah yang dalam bahasa Arab disebut sebagai salaf saleh.

Sebagian umat Islam itu mulai mencitrakan apa yang mereka sebut sebagai salaf saleh dengan arti bahwa iman memiliki sejarahnya sendiri, sebuah sejarah yang dikembangkan sebagai sebuah pengetahuan menuju realitas Islam, sebuah sejarah yang patut untuk didamba-dambakan. Abad keempat dan kelima hijriah, sekelompok umat Islam yang sangat menginginkan era kejayaan keimanan disebut salafi. Mereka juga percaya bahwa masa keemasan Islam telah berakhir dan muslim sejati telah menjadi bagian sejarah.

Orang-orang salafi generasi awal sangatlah saleh, pribadi-pribadi tulus yang menunjukkan sedikit ketertarikan pada dunia materi. Bagi mereka, dunia dan segala isinya tidaklah bernilai. Dunia hanyalah sarana mencapai kemuliaan terakhir: akhirat. Dunia tak ubahnya ladang dan apa yang ditanam maka itulah yang dituai kemudian hari. Namun sebagian kelompok umat Islam ini terus-menerus bermimpi mencari jalan mereka menuju dunia yang lain. Bagi mereka, sahabat nabi adalah suri teladan utama. Setelahnya barulah tabiin. Daftar sahabat paling terkemuka adalah khulafa rasyidin termasuk Imam Ali. Bagi para salafi sejati, empat pribadi tersebut merupakan orang-orang yang paling dekat dengan Allah setelah nabi. Perilaku mereka teladan yang sempurna. Meskipun Abu Bakar lebih dulu menjabat sebagai khalifah, namun kepribadian Umar jauh lebih menarik bagi kaum salafi. Fihi Ma Fihi dan Masnavi karya Rumi memberikan kesaksiannya.

Dalam banyak tema, kedua karya tersebut sebenarnya sama. Banyak hal yang muncul dalam bait-bait Fihi Ma Fihi merupakan cerminan puisi dalam Masnavi. Namun terkait Umar (579-644) hal itu tidak terjadi. Hal-hal yang diceritakan tentang Umar dalam Fihi Ma Fihi berbeda dengan apa yang diceritakan dalam Masnavi. Sadar atau tidak, Rumi melukiskan dua pribadi Umar yang berbeda. Dalam Fihi Ma Fihi, Umar digambarkan sebagai seorang non-muslim yang masuk Islam karena pengaruh Nabi Muhammad saw.; seseorang yang setelah memeluk Islam segera membunuh orang kafir. Rumi bahkan menceritakan kisah yang sulit dipercaya tentang Umar setelah memeluk Islam: membunuh salah seorang anggota keluarganya sendiri. Mengingatkan pada salafi modern yang mengarak kepala terpenggal di jalan-jalan.

Kisah dalam Masnavi berbeda. Dalam karyanya tersebut, Umar sama sekali jauh dari kesan keras atau gemar berperang. Karakternya begitu mengagumkan. Dalam Masnavi, Umar adalah wakil nabi yang menyelesaikan permasalahan masyarakat. Alih-alih menetapkan keputusan membunuh orang kafir, ia berbagi rahasia spiritual dengan utusan Kaisar Romawi. Nampaknya Rumi telah menyadari dualitas dalam karakter Umar. Rumi beranggapan, setelah memeluk Islam Umar menggunakan pedangnya untuk membantu nabi, tapi ketika menjadi khalifah muslim, dia mengesampingkan penggunaan kekuatan dan mulai menunjukkan kebaikan dengan menasihati masyarakat untuk memilih jalan yang benar.

Dalam Masnavi, sebelum menceritakan kisah Umar, Rumi menggunakan sebuah riwayat yang disandarkan kepada nabi untuk menjelaskan hal tersebut. Ketika sekelompok pasukan kembali dari Perang Badar dan mulai membagikan harta pampasan perang di antara mereka, Nabi Muhammad saw. mengalihkan perhatian mereka kepada prinsip keimanan paling penting. “Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad besar,” kata beliau. Ketika ditanya, nabi menjelaskan bahwa perang melawan hawa nafsu adalah jihad besar.

Jihad atau perang suci memang diperintahkan dalam Islam. Tapi pertanyaannya, perang melawan siapa? Pada masa kehidupannya, Nabi Muhammad saw. mengatakan bahwa di antara jihad seorang muslim adalah melawan hawa nafsu, keinginan duniawi dan amarah, termasuk keinginan berbuat mungkar. Jihad bukanlah memburu para penganut keyakinan yang lain, seperti Kristiani, Yahudi, Budhha, dan Zoroaster—atau penganut Syiah pada hari ini—dengan pedang dan memenggal kepala mereka di hadapan istri dan anak-anak.

Dalam Fihi Ma Fihi, Rumi menuliskan sebuah cerita khayali: Ketika Umar telah menyadari bahwa musuh terbesar dalam dirinya adalah jiwanya sendiri, dia memutuskan untuk meminum racun demi membasminya. Tapi Umar tidak mati. Penulis ingin menyiratkan bahwa sebenarnya Umar telah mengenali musuh terbesarnya, tapi dia tidak tahu cara menanganinya. Dia ingin mengobarkan jihad besar, tapi justru menyusuri jalan menuju jihad kecil. Seseorang harus memahami metode yang berbeda untuk memulai kedua jenis jihad tersebut. Seseorang tidak dapat mengalahkan hawa nafsunya dengan pedang, tombak, ataupun racun.

Masnavi bercerita tentang perlawanan terhadap hawa nafsu. Bagi Rumi, para salaf sejati adalah orang-orang mukmin terbaik. Tapi siapakah para salaf sejati? Mereka yang membunuh keluarga sendiri, melakukan bunuh diri? Atau mereka yang mulai menyuarakan kebaikan setelah meraih kemenangan dalam jihad kecil? Ketika menggambarkan dua citra berbeda dari salaf sejati, Rumi memandang seseorang sebagai pahlawan dalam jihad kecil dan lainnya pahlawan dalam jihad besar. Rumi sadar, jika para pahlawan dalam jihad kecil dijadikan suri teladan, maka akan muncul penyimpangan dan dapat mengancam esensi religiositas. Itu sebabnya, Rumi melukiskan citra salaf sejati yang penuh kasih sayang dalam Masnavi. Tidak dipungkiri, pada masa setelahnya terdapat sebagian muslim yang menjadikan pedang dan kerasnya Umar sebagai suri teladan. Tapi Rumi berpendapat mentalitas salafi seperti itu dapat menjadi ancaman bagi Islam, sehingga dalam Masnavi dia menceritakan kisah yang menjadikan spiritualitas dan kemanusiaan sebagai keunggulannya.

Ancaman yang dihadapi dunia Islam hari ini adalah ancaman yang nabi telah coba matikan dengan mengelaborasi tentang jihad besar dan kecil; pedang salafi kepada Islam bagi Rumi adalah ancaman yang sama yang mendorongnya untuk melukiskan citra yang sama sekali berbeda tentang Umar. Sayangnya, ancaman yang sama, yang mungkin lebih buruk, masih ada sampai hari ini. Ancaman yang ditampilkan salafi jihadi hari ini lebih mengerikan. Hari ini mereka tidak lagi mengancam orang-orang dengan pedang; namun, mereka telah dilengkapi dengan senjata peperangan yang paling merusak. Sesuatu yang mereka lupakan adalah jihad besar, yang dilakukan seorang mukmin untuk melawan nafsunya.

Jihad besar bukanlah sesuatu yang pasif atau negatif. Ia tidak mengharuskan seseorang meletakkan senjata. Sebaliknya, jihad besar adalah sesuatu yang proaktif dan menguatkan. Jika sebuah agama tidak dapat meningkatkan spiritualitas dan moralitas kemanusiaan yang dapat mendekatkan penganutnya pada Allah, itu sama sekali bukanlah agama. Mereka yang percaya bahwa komitmen terhadap jihad kecil adalah agama itu sendiri dan mereka yang ingin menjadi bagian dari gerakan pembasmi orang-orang kafir, tidaklah tahu dan tidak ingin tahu bahwa jika nabi berada di tengah-tengah kita hari ini, dia akan menasihati kita untuk melawan pelaku bom bunuh diri, aksi pembunuhan terhadap pengikut Syiah, dan sikap penghinaan atas peradaban Barat. Sebaliknya, beliau akan memerintahkan kita untuk melawan hawa nafsu dan memusatkan perhatian untuk menjadi muslim yang sejati. Itulah yang Rumi bicarakan dalam Masnavi. Jika dia berada di tengah-tengah kita hari ini, dia akan mendorong jenis salafi yang dia bicarakan dalam Masnavi, bukan jenis satunya yang dia gambarkan dalam Fihi Ma Fihi.

Sumber: Poourjavady, Nasrollah (Juli 2014). “Salafis, Yesterday and Today”. Iran Front Page dari Andisheh Pouya.

One thought on “Salafi Dulu dan Sekarang, Menurut Rumi

  1. Mas Ali, saya izin me print out artikel ini dan menyebar luaskannya. ingat tidak semua orang bisa mengaksesnya lewat internet. kalau boleh memberi saran, tulisan anda muatlah di media cetak.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s