Ahlusunah yang Berjuang Bersama Syiah

Lebanese actors and Hezbollah militants perform during the shooting of the series "Al-Ghaliboun" (The Victorious), financed by the Hezbollah owned Al-Manar TV and the Lebanese International Center, in the southern Lebanese village of Houmin on December 29, 2010. The series, directed by Syrian Basel al-Khatib, revolves around the Shiite militant group's resistance against Israel between 1982-1985. AFP PHOTO/ANWAR AMRO (Photo credit should read ANWAR AMRO/AFP/Getty Images)

Usman adalah seorang muslim ahlusunah. Tapi dia juga berjuang bersama kelompok militan Syiah: Hizbullah. Bagi Usman, semua itu bukanlah masalah. “Lebanon adalah negara saya. Saya membela tanah air. Saya ingin bergabung dengan kelompok perjuangan dan Hizbullah datang memberikan ideologi perlawanan (muqawamah),” kata Usman. Seluruh keluarganya adalah suni, tetapi mereka juga mendukung Hizbullah. “Kami tidak membicarakan isu sektarian.”

Persaingan sektarian yang merusak beberapa wilayah Timur Tengah—seperti Suriah, Irak, Yaman, dan Libia—menjadi kalah penting jika dibandingkan dengan nasionalisme rakyat Lebanon. Wilayah perbatasan dengan Suriah merupakan wilayah pegunungan yang didominasi muslim suni.

Siang bekerja sebagai tukang ledeng, Usman mengisi malam harinya sebagai seorang prajurit di Saraya al-Muqawama (Brigade Perlawanan), sebuah sayap militer Hizbullah yang dibentuk khusus untuk para pejuang Lebanon yang tidak dapat begitu saja masuk ke dalam Hizbullah karena keyakinannya. Dengan membentuk Saraya, pejuang Lebanon ahlusunah maupun Syiah dapat melawan musuh bersama di Israel maupun Suriah. Bahkan bukan hanya muslim suni, kaum Kristiani juga bergabung ke dalam Saraya.

Sami Ramadan

“Saraya al-Muqawama dibentuk untuk orang-orang non-ekstrimis,” kata Sami Ramadan, seorang perekrut suni. “Hizbullah berisikan orang-orang religius. Tapi karena masyarakat Lebanon bermacam-macam, kenapa hanya Hizbullah kelompok yang dapat berjuang? Karenanya Hizbullah membentuk brigade ini agar semua orang bisa bergabung.” Senapan serbu (assault rifle) milik Usman yang diberikan oleh Hizbullah selalu dibawanya ke mana-mana. Usman selalu siap untuk membela tanah airnya dari para teroris lokal atau bergabung dengan kelompok militer Syiah memerangi musuh di negara tetangga, Suriah.

Di Suriah, pejuang Saraya tidak bertempur di garis terdepan. Mereka membantu logistik dan menjadi unit-unit kecil yang menyatu dengan berbagai kelompok masyarakat. Mereka mempermudah Hizbullah untuk masuk ke wilayah suni dan Kristiani tanpa harus menghadapi risiko benturan agama. Seorang pejabat Hizbullah mengatakan bahwa kehadiran Saraya untuk memastikan bahwa berbagai kelompok di Suriah merasa aman bersama Hizbullah. “Kami tidak meremehkan musuh. Kami memiliki orang-orang khusus yang berjuang di Suriah. Saraya bukan pejuang di medan tempur.”

Baik ahlusunah, Kristen, dan berbagai kelompok lain di Saraya dilatih dalam kamp-kamp yang sama bersama muslim Syiah. Mereka menerima pelatihan militer yang sama. Tapi setelah menyelesaikan pelatihan, mereka akan menggunakan nama dan seragama yang berbeda. Mereka baru bergabung di bawah bendera Hizbullah di saat pertempuran. Ketika ribuan tentara Hizbullah berjuang di Suriah, mayoritas pejuang Saraya berada di benteng pertahanan. Usman menanti panggilan menuju Suriah, meski tugas utamanya adalah mempertahankan wilayahnya dari desa-desa tetangga yang mendukung ISIS. “Aku ingin memerangi mereka sebelum mereka datang ke sini. Sudah menjadi tugasku untuk melawan terorisme di manapun.”

Meski mereka yang direkrut mendapat pelatihan militer yang sama, tapi pejuang sesungguhnya menerima pelatihan ideologi yang berbeda. Ideologi Hizbullah berfokus pada ajaran Islam Syiah, sementara Saraya fokus pada musuh Zionis dan para takfiri, atau kelompok yang mudah mengkafirkan orang lain.

Hamza Akl Hamieh, pemimpin Brigade Benteng Lebanon di wilayah Baalbek, mengatakan para pejuang pejuang suni Lebanon bertarung juga di Suriah bersama Hizbullah dengan mengenakan seragam mereka. Hamieh merupakan mantan kepala Pergerakan Amal, sebuah partai politik Syiah bersenjata yang pernah bersitegang dengan Hizbullah. Hamieh merupakan tokoh terkenal di balik pembajakan enam pesawat selama periode 1979 dan 1982. Bergabung dengan Hizbullah, dia membentuk Brigade Benteng agar muslim suni di wilayah Baalbek dapat berjuang di Suriah.

“Warga di sini adalah para pedagang yang berhubungan dengan pemerintah. Sehingga muslim suni di sini sepakat untuk memerangi ISIS,” kata Hamieh. “Di sinilah urusan hidup dan mati.”

Baalbek merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di Lembah Bekaa, sebuah kota kuno bangsa Fenesia yang pernah menjadi pusat kekuatan Hizbullah. Di era perang tahun 2006, Israel beberapa kali menyerang daerah tersebut, membunuh puluhan warga dan memaksa penduduk lainnya untuk pergi.

Banyak warga memuji Hizbullah yang berhasil membebaskan negara dari penjajahan Israel. Ideologi perlawanan di Baalbek hadir bersamaan dengan kemunculan Hizbullah. Meski demikian, tidak semua muslim suni di wilayah tersebut terpikat dengan Hizbullah atau yakin bahwa Saraya memiliki tujuan yang sama. Syekh Abd al-Hakim, seorang imam di masjid Hebarieh, mengatakan, “Kami khawatir (Hizbullah) memberi uang kepada para pemuda suni untuk merekrut mereka bergabung dengan Saraya al-Muqawama dan meyakinkan mereka bahwa mereka sedang berjuang melawan Israel, namun sebenarnya mereka memerangi kami. Kami sudah melawan Israel sebelum Hizbullah ada.”

Usman dan Ramadan mengakui bahwa mereka dibayar atas jasanya di Saraya al-Muqawama. Tapi mereka tidak menerima gaji bulanan sebagaimana para pejuang Hizbullah. Target perjuangan mereka adalah para pendukung ISIS dan kelompok ekstrimis ahlusunah lainnya. Tahun 2014, jumlah muslim ahlusunah yang bergabung ke dalam Saraya semakin meningkat. “Kami menyaksikan sendiri perilaku barbarisme ISIS di wilayah perbatasan. Lebih mudah bagi kami untuk melawan musuh di rumahnya sendiri, daripada mereka mendatangi rumah kami,” kata Sami Ramadan yakin.

Saduran: Masi, Alessandria (4 November 2015). “Christian, Sunni And Shia: Meet Hezbollah’s Non-Denominational Military Branch Defending Lebanon, Fighting In Syria”. International Business Times. Diakses 5 November 2015.

Iklan

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s