Mengintip Kehidupan Salafi di Mesir

Serangan mematikan di Paris dan Beirut, termasuk jatuhnya pesawat Rusia, merupakan bukti usaha kelompok ekstrimis untuk meneror dan menyebarkan kekacauan. Kelompok yang dikenal dengan nama ISIS ini merupakan bagian dari gerakan ultraortodoks salafi; sebuah kelompok yang berkembang dalam Islam ahlusunah namun ajaran-ajarannya telah diselewengkan oleh ISIS sebagai dalih bagi banyaknya serangan terorisme hari ini.

Menurut Institute for National Strategic Studies, pada tahun 2009 terdapat sekitar 50 juta pengikut salafi di seluruh dunia. Salafi percaya pada pendekatan fundamentalis yang menekankan penafsiran literal dari Alquran dan hadis Nabi Muhammad, serta dukungannya pada syariah Islam di atas setiap kebijakan pemerintah.

Secara umum, salafi dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memiliki jumlah paling sedikit—sekitar 250.000 orang—yang terdiri dari para militan. Meski jumlahnya sedikit namun mereka gencar melancarkan serangan acak kepada orang-orang tak bersalah di seluruh Timur Tengah, Asia, dan Eropa. Tujuannya adalah menarik perhatian dunia terhadap pandangan radikal mereka tentang Islam sekaligus hukuman pembalasan bagi orang-orang yang mereka anggap sebagai “tentara salib”.

Kelompok kedua, yang berjumlah lebih banyak, menolak kekerasan yang dilakukan kelompok pertama. Secara umum mereka bahkan menghindari perpolitikan sama sekali dan menganggapnya sebagai gangguan terhadap ibadah. Kelompok ketiga, yang jumlahnya juga lebih banyak dari kelompok militan, adalah orang-orang yang anti-kekerasan namun terlibat dalam aktivitas politik dan memiliki pengaruh yang berkembang di beberapa negara, termasuk Arab Saudi.

Tahun 2013, Paolo Pellegrin, seorang fotografer terkemuka asal Italia, memperoleh kesempatan langka untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari salafi di Mesir. Salafi yang dimaksud di sini adalah salafi yang anti-kekerasan sekaligus anti-perpolitikan.

Ada perasaan khawatir ketika Pellegrin pertama kali menyelami kehidupan salafi di Mesir. Khawatir karena melihat bentuk ekstrim dari kelompok salafi radikal seperti ISIS dan kelompok jihad lainnya. Meski demikian ada pula rasa penasaran yang muncul karena keinginan untuk belajar dan memahami salafisme yang selama ini distereotipkan oleh dunia Barat.

Dari berbagai kelompok yang dihubungi olehnya, Pellegrin masuk ke dalam kelompok salafi yang menjalankan praktik paling murni dari salafisme. Mereka anti-politik dan menganggapnya sebagai suatu penyimpangan dalam Islam. Mereka juga anti-kekerasan, justru percaya pada (pentingnya) pendidikan—khususnya yang berkaitan dengan praktik dan keyakinan mereka. Harapannya agar mereka dapat menyucikan diri dan menjalankan keyakinan mereka. Pellegrin mendeskripsikan mereka sebagai orang-orang yang taat; yang ingin sebisa mungkin mengamalkan praktik Islam sebagaimana pada masa awal kemunculannya. Mereka percaya bahwa Islam dalam bentuk sejatinya adalah hal yang luar biasa, indah, dan dinaungi rahmat Allah.

Pellegrin bertemu dengan pengikut salafi muda bernama Abdul Rahman yang tinggal di wilayah Al Mansurah, utara Mesir. Abdul Rahman menjadi semacam pemandu bagi Pellegrin untuk masuk ke dunia salafi. Melihat Pellegrin, Abdul Rahman mencoba memasukkan Pellegrin ke dalam Islam bahkan sudah memilihkan nama muslim baginya.

Salafi Mesir

Setiap saat, segala perilaku, dan semua yang dilakukan terhubungan dengan Allah. Itulah yang dijelaskan oleh Abdul Rahman. Sore hari ketika matahari akan tenggelam, Abdul Rahman akan menyusuri jalan menuju sungai. Setiap kali menyentuh rumput, bunga, atau apapun yang menjadi manifestasi kehadiran Allah, Abdul Rahman akan salat sedemikian khusyuk hingga meneteskan air mata. “Mereka sangat jujur, terbuka, dan baik karena membiarkan saya menjadi bagian dari momen tersebut,” kata Pellegrin mengisahkan. Momen-momen tersebut aneh bagi Pellegrin tapi dia dapat melihat keindahan di dalamnya.

Salafi Mesir

Momen lain yang tak kalah aneh dan tidak akan dilupakan oleh Pellegrin adalah ritual pemakaman tiruan.

Prosesi pemakaman ini merupakan simbolisasi kematian yang mengharuskan seorang sukarelawan untuk berperan sebagai jenazah. Seluruh proses memakan waktu selama tujuh hari, mulai dari meditasi, konsentrasi, berpuasa, dan membaca Quran. Terakhir, ketika sudah merasa siap, mereka akan membawa “jenazah” ke kemar mayat di mana tubuhnya akan dimandikan dan dibalut dengan kain kafan. Ketika sudah disiap untuk dikuburkan, “jenazah” akan dibawa ke pemakaman dan ditempatkan di dalam liang kubur. Sampai di tahap itu, Pellegrin tidak diperkenakan untuk ikut.

Menurut Pellegrin, ritual bertujuan untuk membangun sebuah hubungan. Orang yang berperan sebagai jenazah akan menghabiskan malam di dalam kuburan untuk mencoba terhubung dengan roh orang-orang yang telah wafat, khususnya leluhur mereka. Salafi ini percaya jika mereka terhubung dengan “dunia lain” tersebut, maka mereka dapat mengetahui bagaimana cara menjalani dunia lain tersebut dengan lebih baik.

Malam berikutnya, Pellegrin akhirnya mendatangi pemakaman. Terdapat sebuah ruang bawah tanah gelap di mana mereka membaca surah-surah Alquran. Setelah beberapa lama, Pellegrin mulai mendengar beberapa orang menangis dan saling berpelukan. “Sangat unik dan spesial,” kata Pellegrin mengisahkan.

Berkaitan dengan aksi kekerasan yang dilakukan teroris yang mengatasnamakan salafi, bagaimana komentar mereka? Kelompok salafi Mesir percaya bahwa mereka sangat disalahpahami, khususnya oleh Barat dan juga penduduk lokal. “Mungkin itu salah satu alasan utama mengapa saya mendapatkan akses yang luar biasa,” kata Pellegrin.

Sumber: “Inside the World of Egypt’s Salafist Muslims”National Geographic. Diakses 29 November 2015

Catatan: Paolo Pellegrin lahir pada tahun 1964 di kota Roma, Italia. Belajar arsitektur di Sapienza University of Rome, Pellegrin lanjut menekuni fotografi di Istituto Italiano di Fotografia. Dia memulai fotografi pada pertengahan 1980-an dan telah menerbitkan puluhan buku. Tiga karya dan ceritanya tentang Sungai Yordania, Cuba, dan Gaza telah dimuat di majalah National Geographic.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s