Dilema Suni-Syiah (2): Harga Sebuah Perceraian

Raya Shokatfard bertekad menggali lebih dalam tentang perbedaan suni-Syiah. Derasnya permintaan Raya kepada suami untuk membeli buku, berdiskusi dengan pengikut Syiah, atau mencari bahan-bahan tentang topik tertentu selalu berakhir dengan jawaban “tidak”. Itu sebabnya Raya memutuskan untuk melakukannya diam-diam.

Raya percaya, wanita muslim memang harus patuh pada suami meskipun membuatnya menjadi sulit. Dirinya memang telah melewati banyak kesulitan. Namun ketika keluarganya disebut kafir, tidak ada yang berhak melarangnya untuk mendapatkan latar belakang pemahaman yang lebih baik, khususnya menyangkut Syiah

Ketika salah seorang sahabatnya mengantarkan buku pesanan berjudul Peshawar Nights, Raya terkejut membaca sebuah perdebatan suni-Syiah yang membahas berbagai isu-isu kontroversial. Raya tak menyangka bagaimana pemahaman yang lebih baik atas kedua mazhab akan mengubah sikap seseorang. Raya bahkan membaca buku itu dua kali untuk memuaskan keingintahuannya.

Ketika menemani suaminya yang menjadi imam di salah satu masjid Abu Dhabi, Raya juga mengunjungi sebuah masjid Syiah. Di sana, Raya berbicara dengan seorang ustaz Syiah dan meminta beberapa buku. Bagaikan anak kecil yang berada di toko mainan, Raya mendapatkan limpahan informasi berharga. Semakin banyak Raya membaca, semakin banyak hal yang diketahui.

Saat itulah Raya sadar kalau tema suni-Syiah bukan lagi tema hitam-putih.

Waktu yang dinanti tiba

Setelah dua bulan membaca dan mengkaji, Raya siap untuk membuka topik pembicaraan dengan suaminya. Raya sangat menginginkan diskusi terbuka agar semua kebingungannya menjadi jelas. Mendalami setiap isu yang dipikirkan suaminya.

Pada saat yang sama, sang suami menegosiasikan pernikahan ketiga. Raya sempat menolak, meski dia tahu kalau suaminya tidak butuh persetujuannya. Tapi dengan kesulitan yang ada, pernikahan ketiga akan membuat semua pihak bertambah sulit. Namun Raya sudah memikirkan ide menarik. Setelah menyiapkan makanan favorit, Raya mengajak suaminya makan siang. Dengan pakaian terbaik, Raya mengatakan ingin berbicara tentang hal yang sangat penting.

Raya siap dan setuju kalau suaminya menikah untuk ketiga kalinya. Andai Raya bisa menutupi kekecewaannya, dia akan menutupinya. Tapi demi mendapatkan haknya untuk meneliti dengan bantuan sang suami, semua sepertinya setimpal.

Raya sudah membayangkan wajah penuh kebahagiaan dan senyum dari suaminya. Setelah makan siang, Raya menyampaikan haknya, “Aku ingin mengatakan sesuatu yang belum kamu ketahui.” Raya membuka lemari dan menunjukkan padanya seluruh buku yang telah dipinjam dan dibelinya. Raya menceritakan semuanya.

Di luar dugaan. Sang suami membuka sebuah kitab berbahasa Arab dan nampaknya memuat tulisan yang negatif tentang Umar. Dia marah dan meninggalkan rumah sambil mengatakan tidak akan kembali selama buku-buku itu masih ada. Sayang sekali. Dia kehilangan Raya selamanya.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s