Dilema Suni-Syiah (3): Meneliti Hingga ke Iran

Banyak masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi. Meski seorang suami memiliki hak atas istrinya, namun bukan berarti suami selalu benar dan istri harus tunduk pada keinginan suami tanpa mendiskusikannya. Raya Shokatfard merasakan bagaimana suaminya menutup pintu diskusi terkait suni-Syiah. Raya hanya memiliki buku-buku yang ingin ditunjukkan pada suaminya. Raya ingin bertanya tentang banyak hal. Tapi suaminya bersikeras dirinyalah yang benar.

Raya kembali ke Amerika Serikat dan mengurus perceraiannya. Setelah idahnya berakhir, Raya menuju Iran setelah 32 tahun meninggalkannya. Pakaian Raya sewaktu meninggalkan Iran menuju Amerika Serikat: rok mini. Raya kembali 32 tahun kemudian dengan pakaian islami lengkap dengan cadar. Raya segera menuju Qom, kota para ulama Syiah dan menghabiskan waktu enam bulan untuk bertanya dan meneliti.

Mungkinkah Raya berat sebelah?

Raya merasakan bantuan dari para ulama Syiah. Ada perasaan senang dalam diri Raya berada kembali di tanah kelahirannya. Mendengarkan bahasa dan merasakan kebudayaan yang sama. Raya juga merindukan masakan Iran. Dia bahagia berada di tanah kelahiran meski pada saat yang sama ketakutan…

Raya kerap berdoa kepada Allah, meminta agar rasa cinta pada negaranya tidak membutakannya dalam melihat kebenaran. Raya harus berusaha keras agar kebaikan para ulama tersebut tidak mengalahkan hatinya atas logika mereka.

Salah satu rencana Raya adalah mencari tahu alasan mengapa orang-orang Syiah berdoa kepada para imam atau ahlulbait, keluarga nabi. Ketika Raya berbicara kepada orang awam, mereka mengatakan bahwa memohon kepada para imam merupakan bentuk perantaraan (wasilah) kepada Allah, karena ahlulbait memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah dibandingkan orang biasa.

“…tapi kalian mengatakan Imam Husain atau imam lainnya menjawab doa kalian,” bantah Raya. Para pengikut Syiah tahu bahwa hanya Allah yang dapat mengabulkan seluruh permintaan, tapi mereka melakukan cara tersebut karena terbiasa. Raya juga bertanya apakah mereka percaya bahwa Quran benar-benar 100% firman Allah? Tanpa ragu dan sepakat mereka mengiyakan. Raya kemudian membacakan sebuah ayat di hadapan mereka:

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S. Albaqarah: 186)

Raya mengatakan pada mereka, jika Allah sendiri mengatakan bahwa Dia begitu dekat dan menjawab permohonan, mengapa kita mencari pertolongan selain-Nya untuk mendekat pada-Nya? Mereka tidak memiliki jawaban pasti. Raya merasa senang karena hanya butuh beberapa menit untuk berdiskusi dan mampu meyakinkan pengikut Syiah untuk memohon langsung pada Allah.

Raya berbesar hati. Andai orang-orang yang mengampanyekan kebencian terhadap Syiah tahu betapa mudahnya untuk mengalahkan mereka dengan logika, tentu dunia menjadi lebih baik. Raya mengira inilah keberhasilan pertamanya melawan orang-orang awam. Tapi bagaimana dengan para ulama? Ceritanya berbeda.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

1 Comment

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s