Dilema Suni-Syiah (6): Wasilah Para Imam

Masih berusaha menggali informasi dari ulama suni, Raya menerima kabar tentang seorang ulama Syiah yang tinggal di Zainabiah, tempat di mana Zainab, putri Imam Ali dimakamkan. Orang-orang mengatakan kalau ulama itu tahu banyak tentang ahlusunah dan bisa membantu menjawab pertanyaan Raya.

Pertama, Raya mengunjungi makam cucu nabi itu, Zainab. Sangat ramai dan orang-orang berusaha untuk mendekati makam yang dilindungi pagar emas. Tapi Raya tidak mendekat. Dia takut terhadap orang-orang yang berdoa kepada Sayidah Zainab. Mengapa mereka tidak meminta kepada Allah untuk memasukkan wanita mulia itu ke dalam surga? Mengapa mereka justru meminta kepada Zainab?

Raya bertemu dengan ulama asal Iran itu di gang-gang dekat makam. Syekh itu ramah dan menjawab beberapa pertanyaan Raya. Tapi Raya merasa tidak ada yang baru. Jawabannya sama seperti yang dia dengar di Iran.

Terpaksa Raya kembali ke Iran dengan tangan kosong. Dia sadar masih banyak hal yang harus dibaca dan dipahami; tapi tidak dalam waktu singkat. Bahasa Persianya juga melemah setelah lama tidak digunakan. Sering kali Raya menggunakan penerjemah jika buntu saat berdiskusi. Raya memutuskan membeli buku sebanyak mungkin dan mengirimnya ke Amerika Serikat. Ketika dia bersiap meninggalkan Iran, tak disangka para ulama menyiapkan pertemuan di perpustakaan yang dihadiri ulama Syiah berbagai negara. Mereka siap menjawab pertanyaan Raya.

Raya sangat terkejut. Setiap Raya bertanya, mereka akan mengambil kitab, kebanyakan kitab ahlusunah, dan menjawabnya disertai sumbernya. Raya puas dengan apa yang didengarnya. Tapi dia merasa harus lebih banyak mendapat pengetahuan dari ulama suni yang bukan pembenci Syiah sehingga mendapatkan jawaban yang lebih objektif.

Para imam ahlulbait perantara doa?

Raya tidak pernah sependapat terkait dengan perantaraan para imam. Ketika Raya mengunjungi perpustakaan agama terbesar di Iran bernama Dar-ul-Hadis, Raya bertemu dengan kepala perpustakaan dan meminta buku yang menunjukkan bahwa ahlulbait dapat menjawab doa orang-orang bahkan setelah mereka wafat. Kepala perpustakaan mengatakan kebanyakan buku berbahasa Arab. Saat itu, Bahasa Arab Raya memang lemah tapi dia meminta untuk dikirimkan. Sayang, Raya tidak pernah mendapatkannya.

Dar-ul-Hadith, Qom

Raya tahu bahwa seluruh imam Syiah syahid entah karena diracun atau dibunuh oleh penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiah. Kedua dinasti itu takut kehilangan kekuasaannya kepada para imam yang memang benar dan layak untuk membimbing manusia kepada Islam. Islam semakin lemah ketika banyak orang yang diam melawan penguasa. Keluarga nabi saat itu paling menderita dan harus membimbing pengikutnya secara diam-diam.

Baik Syiah maupun ahlusunah percaya jika para syuhada hidup di surga. Tapi apa arti semua itu? Apakah mereka dapat menjawab doa orang-orang di bumi? Bagaimana kalau semua orang di dunia berdoa kepada satu imam? Apakah dia bisa mendengar semuanya? Bukankah itu hanya sifat Allah semata?

Beberapa tahun kemudian ketika Raya membaca tulisan dan doa-doa yang dinisbahkan kepada para imam, dia tidak menemukan para imam berdoa kepada Rasulullah. Lalu mengapa kita harus berdoa kepada mereka?

Diskusi dengan para ulama tentang hal ini selalu buntu.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

1 Comment

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s