Dilema Suni-Syiah (7): Islam Lebih Utama

Raya Shokatfard kembali ke Amerika Serikat dengan semangat baru untuk melanjutkan penelitiannya tentang suni-Syiah. Semangat yang muncul karena buku-buku dari Iran telah tiba. Tapi semangatnya itu dihentikan oleh propaganda media terhadap Islam yang semakin agresif selepas tragedi 11 September. Setiap hari, televisi menayangkan: muslim adalah musuh dan Amerika Serikat diisi orang-orang baik. Raya sadar meski mereka menyerang Taliban, tapi sebenarnya mereka menyerang Islam.

Buku-buku dari Iran memang telah tiba. Tapi dus-dusnya telah terbuka dan beberapa buku hilang. Mungkin orang-orang di luar sana heran mengapa wanita Amerika Serikat mendapatkan banyak paket dari negara musuh?

Apa yang harus Raya lakukan selanjutnya? Menghabiskan waktu dan membiarkan permusuhan berusia 1.400 tahun di antara pengikut Muhammad saw. terus berlanjut? Atau melakukan sesuatu demi mempertahankan keislaman umat muslim yang sedang diperangi?

Warga Amerika Serikat harus tahu bahwa Islam dibangun atas dasar kedamaian dan kerja sama dengan pihak lain; bukan terorisme. Mereka harus tahu siapa Muhammad sesungguhnya dan Islam sebagai agama monoteisme. Raya merasa harus melawan propaganda media dengan penjelasan yang tepat tentang Islam. Andai Islam benar-benar dipelajari, mereka akan cenderung untuk memeluknya daripada memerangi, atau setidaknya menghormati agama dan pemeluknya.

Menunda penelitian kedua mazhab

Raya membulatkan tekad. Dia melambatkan langkahnya dalam meneliti dan memfokuskan perhatiannya untuk membela Islam dan mengedukasi orang lain. Raya menghubungi sekolah, universitas, gereja, dan berbagai organisasi serta menawarkan diri untuk berbicara tentang Islam.

Tidak ada masjid atau pusat keislaman di wilayah North California tempat Raya tinggal. Tidak ada yang dapat membantunya. Raya hanya bersama Allah dalam menjalankan tugas berat ini…

Raya yakin Allah cukup baginya. Sebelum berbicara, dia selalu berdoa dan meminta Allah untuk memberikannya kekuatan. Selebihnya, Raya hanya ingin mempertahankan agamanya. Lagi pula, andaikan mazhab atau kelompok yang saling berselisih menyadari betapa pentingnya membela Islam dibandingkan saling memecah belah satu sama lain, Raya yakin kita akan memiliki dunia yang lebih baik.

Raya mulai berceramah. Perlahan kemampuan berbicaranya membaik. Raya membagikan lembar evaluasi setiap kali selesai berbicara agar kemampuan presentasinya semakin baik. Raya sering kali mengatakan kepada para pendengarnya bahwa dia hanyalah seorang ibu rumah tangga dan tidak memiliki pengalaman berbicara. Dia hanya tidak ingin tinggal diam membiarkan media keliru mencitrakan Islam. Dalam kuesioner yang dibagikan, Raya menanyakan kepada mereka apa yang telah mereka pelajari dan apa yang bisa dilakukannya untuk meningkatkan kualitas.

Raya kagum dengan sebagian besar respon mereka. Mereka menyemangati dan menunjukkan apresiasi atas apa yang mereka pelajari. Para pendengar mengakui kalau Raya memperjelas banyak kesalahpahaman dan memberikan pada mereka pandangan yang benar tentang Islam.

Raya tidak pernah membicarakan tentang konflik suni-Syiah. Jika ada yang bertanya, Raya hanya menjawab bahwa semua hanyalah permasalahan politik. Hanya itu yang cukup mereka ketahui.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s