Dilema Suni-Syiah (8): Waktunya untuk Haji

Beberapa bulan telah berlalu, Raya Shokatfard tenggelam dalam kesibukannya berceramah tentang Islam. Tahun 2004, Raya merasakan kesempatan yang baik untuk beristirahat dan menjalankan ibadah haji. Raya bahagia meski tidak tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanannya kali ini.

Setelah memeriksa semua perlengkapan haji, Raya menghubungi sebuah agen travel Iran di San Francisco yang menawarkan harga terbaik untuk haji. Raya sama sekali tidak memikirkan mazhab apa dalam perjalanan haji. Saat berada di bandara San Francisco, Raya baru menyadari bahwa jemaah haji suni dan Syiah bergabung di bawah pembimbing haji suni.

Seluruh jemaah haji asal Iran jalan bersama. Merasa di rumah, Raya menikmati berada di tengah-tengah mereka yang berbicara Bahasa Persia. Tiba di Mekah, jemaah haji Syiah barulah bertemu dengan pembimbing haji Syiah. Mereka datang ke hotel tempat rombongan Raya menginap dan bercerita tentang bacaan haji mazhab Syiah. Mereka adalah orang-orang Iran yang sudah meninggalkan negaranya selama bertahun-tahun dan di antaranya kesulitan berbahasa Persia.

Kebanyakan bacaan hajinya sama, pikir Raya, kecuali pada beberapa bagian akhir. Apa yang harus Raya lakukan? Siapa yang benar? Raya memutuskan untuk membaca keduanya. Dia rela melakukan dua kali agar tidak ada satupun yang terlewat.

Di sana, Raya tidak henti-hentinya bertanya ke setiap orang yang berbahasa Inggris untuk mengantarkannya bertemu imam besar Masjidilharam. Mereka semua mengatakan tidak mungkin.

Tapi Raya mendapati seorang pria baik hati yang mengenalkan padanya pemilik toko di Madinah yang bisa berbicara tentang isu suni-Syiah. Sepertinya bertemu dengan pria itu akan menjadi perjalanan penting kedua setelah haji dan umrah. Pria itu sangat tua namun tetap ramah. Dia telah membaca banyak buku tentang tema tersebut dan mengatakan bahwa jawaban atas setiap pertanyaan Raya ada di buku tersebut.

Raya segera kembali ke hotel dan mulai membaca dan tidak berhenti hingga seluruhnya tuntas. Luar biasa! Buku tersebut berbicara dengan penghormatan kepada tiga khalifah nabi, para sahabat, dan juga para imam Syiah. Buku tersebut menyajikan sudut pandang yang berbeda dari apa yang Raya baca dan dengar dari sumber-sumber suni dan Syiah.

Tujuan penulis tersebut adalah menumbuhkan kedamaian di antara kedua mazhab dengan pendekatan yang diplomatis namun bijak. Buku tersebut tidak membuat pembaca berpikir sektarian, tapi merenung. Pembaca tidak dibuat menjadi marah karena membaca tentang pribadi yang dihormati oleh kelompoknya. Buku tersebut sesuai dengan gaya berpikir dan hati Raya.

Tapi di saat yang sama, kondisi kesehatan Raya melemah. Dia harus menyewa seseorang untuk membantunya mengelilingi Kakbah dengan kursi roda.

Kembalinya Raya ke Amerika Serikat mengejutkan putranya karena sang ibu harus menggunakan kursi roda. Raya kehilangan kekuatannya untuk berjalan. Raya telah memperpanjang perjalanan hajinya menjadi satu bulan agar memiliki waktu untuk meneliti. Setelah pulih, Raya kembali menjadi pembicara dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

1 Comment

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s