Dilema Suni-Syiah (9): Kehidupan di Mesir

Dukungan warga Amerika Serikat kepada Raya Shokatfard, wanita asal Iran, untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi semakin besar. Mereka juga mendukung Raya untuk mencari media yang tepat dalam melawan stereotip terhadap Islam. Hanya ada satu cara. Raya harus menyelam ke dalam pendidikan media dan mempraktikkannya. Raya berhasil mendapatkan gelar sarjana dalam bidang jurnalisme dan media massa dari sebuah universitas Amerika Serikat. Dilanjutkan dengan pencarian gelar master dari The American University di Kairo.

Alasan mengapa Raya memilih Mesir bermacam-macam. Ketika belajar di sana, Raya berharap dapat belajar Bahasa Arab dan memperdalam studi keislamannya. Lebih penting dari itu semua adalah memiliki akses kepada para ulama yang dapat menjawab pertanyaan tentang suni-Syiah. Tentu saja, semua langkah yang diambil oleh Raya terlalu panjang. Raya tahu bahwa memiliki kemampuan yang tepat dapat membantunya menjalankan tugas dari mana saja dengan bantuan komputer.

Raya memang berniat untuk pindah. Sebuah proses panjang yang harus diselesaikan. Raya tiba di Kairo pada musim panas 2005. Tidak ada yang bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika pertama kali tiba di Kairo. Raya tinggal di Amerika Serikat selama 36 tahun dan perjalanan menghantarkannya pada lingkungan, masyarakat, dan budaya yang baru.

Raya ingat ketika pertama kali salat di masjid universitas, dia menangis setelah salat. Seorang wanita bertanya alasannya. Raya menjawab dirinya salat sendirian selama bertahun-tahun. Hanya dengan menyentuh bahu wanita itu membuatnya semakin sedih. Dia sadar betapa penting bagi seorang muslim untuk tinggal di komunitas muslim.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja di negara barunya itu. Sampai ada satu hal yang membuat Raya terkejut. Kapapun dia naik taksi, beberapa supir bertanya dari mana asalnya. Ketika Raya menjawab Iran, mereka langsung memuji Ahmadinejad yang berani bersikap tegas melawan kebijakan luar negeri Barat. Tapi mereka segera berasumsi bahwa dirinya penganut Syiah. Mereka segera bertanya, “Mengapa orang-orang Syiah percaya kalau malaikat Jibril keliru menyampaikan wahyu, bukan diberikan kepada Ali tapi justru kepada Muhammad?”

Meski berasal dari keluarga dengan latar belakang Syiah, Raya terkejut mendengar hal itu untuk pertama kali dalam hidupnya. Dari mana semua itu berasal?

Tak lama, barulah Raya mengetahui kalau mayoritas masyarakat Mesir berpikiran sama tentang pengikut Syiah. Sebenarnya, pemerintahan yang berkuasa sangat anti-Syiah. Banyak pengikut Syiah harus menyembunyikan keyakinannya agar tidak dilecehkan, dipenjara, atau disiksa. Tapi mengapa semua itu terjadi? Padahal masyarakat Mesir secara umum memiliki ikatan khusus kepada ahlulbait Nabi Muhammad saw. Kepala Imam Husain diyakini dikuburkan di Masjid Al Hussein dan saudarinya, Zainab, juga dipercaya dimakamkan di makam yang berbeda.

Banyak yang mengunjungi makam untuk menghormati mereka. Bukan tidak mungkin para pengikut Syiah yang juga mendatangi makam tersebut.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s