Dilema Suni-Syiah (11): Propaganda Anti-Syiah

Sejumlah ulama ahlusunah telah menunggu Raya Shokatfard di Jordanian University. Mereka siap menjawab seluruh pertanyaan. Para ulama mengatakan ada sebuah sekte yang disebut Ghurabiah. Ghurab dalam Bahasa Arab berarti burung gagak. Mereka percaya jiwa Nabi Muhammad saw. dan Ali serupa, bagaikan dua burung gagak yang tak dapat dibedakan satu sama lain. Malaikat Jibril keliru dan alih-alih menyampaikan wahyu kepada Ali, ia menyampaikannya kepada Muhammad. Karenanya, setiap kali selesai salat mereka akan mengutuk malaikat Jibril.

Raya hampir tersedak. Cerita itu bukan hanya lucu, tapi bohong. Apa kaitannya dengan seluruh pengikut Syiah? Apakah Ghurabiah dianggap sebagai kelompok Syiah? Raya terkejut karena tidak pernah mendengar cerita itu sama sekali selama hidup di Iran! Seorang ulama mengatakan jangan khawatir. Kelompok tersebut muncul ratusan tahun lalu di Suriah dan sudah punah.

Lalu, kalau mereka sudah tidak ada, mengapa banyak masyarakat Mesir mempercayainya? Raya berterima kasih atas informasi berharga itu dan meninggalkan universitas dengan berat hati. Bagaimana Raya menjelaskannya kepada jutaan masyarakat Mesir?

Dalam penelitian Raya kepada ulama Syiah, mereka menganggap siapapun yang meyakini hal tersebut jelas kafir dan keluar dari kerangka keislaman. Tapi selama tujuh tahun tinggal di Mesir, Raya masih mendengar beberapa ulama suni Mesir mengatakan hal itu sebagai keyakinan Syiah. Mengapa mereka tidak meluangkan waktu untuk meneliti?

Kembali ke Kairo

Setelah mengetahui jawabannya, Raya bisa menemukan lebih banyak sumber di Kairo dan menyelesaikan desertasinya. Raya menemukan alasan propaganda anti-Syiah di Mesir. Semua berawal dari abad ke-12 setelah dihancurkannya Bani Fatimiah oleh Salahuddin Ayyubi. Meski pengikut Fatimiah dianggap sebagai Syiah oleh orang luar, tapi kelompok Dua Belas Imam (Jafariah) menganggap mereka di luar Islam.[1]

Hari ini, para politisi menggunakan media untuk mengubah citra seseorang bahkan sebuah negara. Pada zaman dulu, propaganda penguasa disebarkan melalui mulut ke mulut serta sistem pendidikan untuk membentuk opini publik.

Banyaknya penodaan terhadap citra seluruh pengikut Syiah disebabkan kurangnya pemahaman atas perbedaan serta adanya keinginan untuk mendapatkan keuntungan politik. Tampaknya, ide bagus untuk melekatkan keyakinan Ghurabiah kepada seluruh pengikut Syiah, terutama setelah keruntuhan Bani Fatimiah yang memerintah Mesir selama dua abad.

Banyak rakyat Mesir telah mengembangkan kecintaan terhadap keluarga nabi selama era Fatimiah. Hal tersebut tidak membuat senang semua orang. Sehingga, konspirasi yang terencana harus ada—yang telah berjalan hingga hari ini.

Dalam tesisnya, Raya menyatakan bahwa tujuan utama atas semua usaha ini adalah memberikan pemahaman sejarah yang lebih baik tentang konflik suni-Syiah, khususnya di Mesir, dan peran media di dalamnya. Raya yakin, mempertemukan konflik di antara mazhab ini merupakan tugas yang berat.

Raya berusaha sebaik mungkin untuk tetap netral. Meski, beberapa kejadian akan menghadirkan fakta yang mungkin tidak sesuai dengan persepsi orang banyak. Raya masih tertarik dengan konsep pemulihan dan pendekatan konsep antara kedua mazhab.

Selama penelitian, Raya mendapati bahwa pada tahun 1980-an, para ulama Al-Azhar melakukan dialog terbuka dengan para ulama Syiah Iran tentang tema pendekatan. Syekh Shaltut, salah seorang ulama Al-Azhar terkemuka, menyatakan mazhab Jafari (Syiah Dua Belas Imam) sebagai mazhab kelima.[2]

Namun, perubahan politik dan skenario baru yang menahan orang asing, memaksa Raya mengambil pilihan lain. Sedih baginya untuk akhirnya meninggalkan Mesir. Raya mencari negara lain yang dapat dianggapnya sebagai rumah.

Tidak tahu tantangan yang akan dihadapinya, Raya memilih Malaysia.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Catatan:

[1] ^ Penelitian selengkapnya terdapat dalam tesis Raya Shokatfard berjudul Egyptians’ Perception of the Shias and the Role of Media, The American University in Cairo.

[2] ^ Selengkapnya dapat dibaca di Al-Azhar Verdict on the Shi’ah. Al-Islam.org

Iklan

1 Comment

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s