Dilema Suni-Syiah (12): Tuduhan di Malaysia

Penelitian suni-Syiah yang dilakukan Raya Shokatfard mengantarkannya pada Malaysia yang kini menjadi rumah berikutnya. Selama bertahun-tahun, Raya berusaha meyakinkan putranya untuk meninggalkan Amerika Serikat menuju Mesir. Beberapa kali kunjungan ke sana membuat putranya tak menyukai Mesir. Berulang kali pula putranya mengatakan pada Raya kalau dia tidak menyukai orang Arab. Tapi, kenapa?

Suami kedua Raya adalah orang Mesir yang sangat keras dan tidak menerima perbedaan soal agama. Islam seperti itulah yang dilihat anak-anak Raya: Islam versi salafi—meski Raya berulang kali menjelaskan bahwa mantan suaminya tidak mewakili seluruh salafi dan muslim. Putranya hanya tertarik keluar dari Amerika Serikat menuju negara tropis yang memiliki lautan. Sementara persyaratan yang Raya ajukan adalah negara Islam. Malaysia sesuai dengan kriteria tersebut.

Raya beberapa kali diundang sebagai pembicara di banyak seminar. Ratusan, bahkan kadang ribuan peserta hadir. Raya merasa disambut oleh banyak anak-anak muda. Raya senang karena dapat berperan sebagai ibu, umi bagi banyak orang.

Lebih dari 20 tahun terakhir, Raya selalu merasa dirinya seorang muslim suni. Meski demikian kecintaan dan ajaran ahlulbait tidak pernah berkurang sedikipun. Semangat untuk mencari tidak pernah hilang dari hati dan pikiran. Raya telah mengirim seluruh buku-bukunya dari Amerika Serikat dan Mesir ke Malaysia; termasuk hampir 200 buku yang dibelinya di Iran.

Kesedihan dan tuduhan yang muncul

Hubungan layaknya ibu dan anak antara Raya dengan seorang project manager salah satu organisasi besar mulai terbangun. Raya dijadwalkan untuk menjadi pembicara sebuah acara yang akan dihadiri banyak peserta. Beberapa pekan sebelum acara, Raya berbincang-bincang santai dengan project manager tersebut. Raya mengutarakan tentang kekecewaannya dengan beberapa peristiwa yang terjadi pada umat muslim setelah wafatnya Rasulullah saw.

Raya menyebutkan Perang Jamal (Unta) di mana ribuan muslim terbunuh di tangan muslim lainnya—termasuk beberapa sahabat. Raya membicarakan dua sahabat nabi, Talhah dan Zubair, yang telah membaiat Imam Ali. Sekelompok orang diprovokasi oleh mereka dan Aisyah, istri nabi, bangkit melawan Ali menuntut pembunuh Utsman—meskipun jelas bahwa Ali terbebas dari keterlibatan masalah tersebut. Kesedihan bagi dirinya adalah bagaimana dua sahabat tersebut memulai peperangan melawan Ali dan akhirnya mereka berdua terbunuh.

Wanita yang sudah dianggap sebagai anak tersebut marah dan menyangkal keterlibatan para sahabat dalam peperangan. Dia yakin bahwa mereka tidak wafat akibat peperangan.

Namun sejarah mencatat bahwa Zubair wafat akibat luka yang diterimanya saat peperangan dan melarikan dari medan pertempuran. Begitu pula dengan Talhah.

Percakapan, chat, dan email di antara mereka tidak bertahan lama. Wanita yang sebelumnya selalu memanggil Raya dengan sebutan umi setiap hari menghilang. Komunikasi yang biasanya terjalin setiap minggu dengan panitia berhenti. Setelah terus mencari tahu, Raya diberi tahu bahwa manajer seminar memutuskan untuk memilih pembicara lain. Mengapa mereka tidak memberi tahu Raya?

Minggu pertama bulan Ramadan, Raya mendapatkan telepon dari salah seorang akhwat yang sudah mengenalnya dengan baik. Wanita itu mengabarkan berita menyedihkan. Sebuah alasan mengapa presentasinya waktu itu dibatalkan. Mendengarnya, Raya seperti tersambar petir!

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

1 Comment

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s