Dilema Suni-Syiah (13): Fitnah Tidak Menyelesaikan

Wanita yang dulu menganggap Raya Shokatfard sebagai umi, dengan segala niat baiknya, menghubungi berbagai organisasi keislaman di Malaysia. Dia mengatakan bahwa Raya adalah seorang agen Syiah yang sedang menyamar dan meminta seluruh organisasi untuk tidak mengundangnya sebagai pembicara.

Bagaimana bisa seseorang menghakimi orang lain hanya berdasarkan percakapan singkat? Raya sudah mengatakan bahwa inti pembicaraannya adalah kekecewaan atas peristiwa tersebut dan menjadi pelajaran bagi dirinya dan menyarankan wanita tersebut untuk melakukan hal yang sama.

Raya bersyukur pada Allah karena telah membukakan matanya dalam melihat bahwa selama 1.400 tahun, umat Islam belum mempelajari toleransi dan memahami situasi konflik. Kita terlalu cepat menilai orang lain dan menyebarkan rumor, tapi lambat dalam mencari kelemahan diri sendiri! Bagi Raya, inilah saat yang tepat untuk merenung dan mencari tahu kesan yang dirasakan orang lain dari diri sendiri.

Raya berpikir bahwa selama 25 tahun, dirinya telah belajar, mengajar, dan mempraktikkan apa yang ada dalam Quran dan sunah, sejumlah artikel, membuat video, dan memberikan ceramah—tidak ada satupun tentang keyakinan Syiah. Tapi dirinya tidak pernah kehilangan cinta pada ahlulbait, keluarga nabi. Jika orang-orang terlalu cepat untuk mencapnya seperti itu, maka Raya akan membiarkannya karena hal itu tidak akan mengubah apapun.

Raya menulis surat sepanjang 14 halaman dan mengirimkan tembusannya kepada organisasi besar yang membatalkan seminarnya. Dia menjelaskan sikapnya secara detail dan menasihati wanita tersebut dan lainnya untuk tidak terburu-buru dalam menilai. Dengan kata lain, jangan percaya kata-kata orang yang ingin mencemarkan nama baik muslim lainnya sampai kita memeriksanya sendiri. Raya mengingatkan wanita itu dengan beberapa ayat.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa… (Q.S. Hujurat: 12)

Tak lama, organisasi tersebut mulai memanggilnya untuk berceramah.

Penelitian kembali dimulai

Setelah banyak merenung dan memohon petunjuk Allah, Raya memutuskan untuk kembali fokus pada penelitiannya. Raya membaca beberapa buku terkait suni-Syiah dan mulai mencatat dan menulis. Lantas, Raya sadar bahwa dirinya harus kembali ke Iran. Kali ini dengan banyak pertanyaan serius.

Kunjungan terakhir Raya dilakukan pada tahun 2001-2002. Sejak saat itu, pengetahuan Raya tentang suni sudah jauh bertambah. Raya telah memperoleh gelar dalam studi keislaman dari universitas suni dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di Mesir di bawah arahan ulama suni. Raya tidak memiliki bekal tersebut ketika pertama kali kembali ke Iran 14 tahun lalu.

Tahun 2015, Raya memiliki serangkaian pertanyaan baru yang akan ditanyakan kepada para ulama Syiah. Undangan dari sebuah organisasi suni asal Qatar datang meminta Raya untuk menghadiri konferensi para dai dari seluruh dunia di Turki. Karena Iran merupakan negara tetangga Turki, memungkinkan bagi Raya untuk dapat mengunjungi Iran. Lagi pula, mantan suami Raya tinggal di Turki. Raya memiliki kesempatan menemui dia dan keluarganya untuk mendapatkan pandangan konflik suni-Syiah lebih lengkap. Tapi ternyata, kampanye kebenciannya terhadap Syiah semakin kuat.

Tiga hari mengunjungi ulama suni terkemuka di Istanbul untuk saling bertukar pikiran, berakhir dengan langkah yang baik dan positif. Mantan suaminya masih berusaha meyakinkan Raya untuk berbalik melawan Syiah dan menerima caranya.

Mungkin mantan suaminya lupa, bahwa alasan utama Raya berpisah adalah sikap intoleran mantan suaminya terhadap Syiah, sementara Raya ingin mencari tahu. Raya tidak pernah menganggap kampanye kebencian sebagai cara yang efektif. Tidak pernah berhasil selama 1.400 tahun, bagaimana mungkin bisa berguna saat ini?

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

1 Comment

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s