Dilema Suni-Syiah (14): Berdoa di Makam

Raya Shokatfard kembali tiba di Iran. Tidak lagi menuju rumah pamannya di Tehran, Raya justru langsung menuju Qom dan menyewa persinggahan kecil dekat makam Sayidah Fatimah Al-Masumah. Sayidah Masumah adalah saudari Imam Ridha, imam kedelapan, yang diyakini wafat di Iran ketika akan mengunjungi saudaranya. Dia dipandang sebagai wanita suci dan setiap tahun ribuan orang menziarahi dan berdoa di makamnya—sesuatu yang Raya tidak setujui!

Raya sengaja menetap di pusat kota Qom agar mudah baginya menemui para ulama. Lagi pula, dirinya masih ingat beberapa jalan yang pernah dilaluinya 14 tahun yang lalu. Perasaan berada di rumah sendiri baginya sangat luar biasa. Raya mendengar orang-orang berbicara dengan bahasanya dan melihat pedagang menjajakan makan Iran yang lezat.

Hari pertama, Raya berjalan menuju makam Sayidah Masumah. Gemerlap pantulan cahaya dari kaca, dekorasi mosaik, dan struktur ukiran tangan di sekeliling makam membuat Raya takjub. Seseorang akan mengira sedang berada di istana megah dan bukan di sebuah makam, pikirnya.

Raya mengambil beberapa foto sebelum akhirnya dihentikan oleh petugas wanita. Raya duduk di pinggir dan memperhatikan sekeliling. Orang-orang mengelilingi makam, menyentuh, mencium, dan membaca doa kepada adik Imam Ridha.

Saat itu, Raya juga berdoa kepada Allah untuk menempatkan beliau di tempat tertinggi di surga atas penderitaan dan kesalehannya. Raya bergumam: “Akankah aku berani berdoa kepadanya, agar dia menjadi syafaat bagi saya? Tidak. Tidak akan!” Allah telah berfirman:

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Albaqarah: 186)

“Lalu, mengapa aku harus berdoa kepada orang suci atau imam yang saleh untuk mencapai Allah, padahal semasa hidupnya mereka berdoa langsung kepada-Nya?” pikir Raya. Menurutnya, Allah telah menjelaskan cara dan kepada siapa kita berdoa.

Raya sempat diberi tahu untuk pergi ke sana Jumat pagi dan mendengarkan ceramah seorang ulama. Diantar sopir, Raya menuju masjid tempat ulama menyampaikan ceramah. Raya memperhatikan dengan seksama sampai akhirnya dia mendengar sesuatu yang sulit dipercaya. Ulama itu berkata, “Ketika Allah menetapkan suatu perkara, Dia menyampaikannya kepada para imam lalu mereka menjalankannya!”

Raya mencoba untuk menemui ulama itu setelah ceramahnya, tapi dia diminta untuk menemuinya keesokan hari. Karena saat itu hari Jumat, Raya memutuskan untuk menghadiri Salat Jumat yang dihadiri oleh ribuan jemaah.

Di area salat yang jauh dari makam dan ribuan orang berkumpul, Raya hampir saja terjepit di bawah kaki wanita yang berusaha mencari tempat untuk mendengarkan khotbah Jumat. Raya masih ingat 14 tahun yang lalu, ketika ceramah yang disampaikan sangat menggetarkan karena setelahnya, khatib akan berbicara tentang isu-isu politik yang mengancam dunia. Setelah selesai, ribuan jemaah serempak meneriakkan “Kehancuran bagi Amerika! Kehancuran bagi Israel!”

Tidak seperti negara mayoritas muslim lainnya, Salat Jumat di Iran hanya diselenggarakan di satu lokasi pada setiap kota. Dengan cara ini, hadirin dapat mendengar pesan penting yang sama dari pemerintah.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s