Dilema Suni-Syiah (15): Bertemu Ulama Syiah

Raya Shokatfard masih berada di kompleks makam Fatimah Al-Masumah, Qom. Berdiri di samping wanita Iran saat salat memberikan Raya perasaan hangat. Raya suka berada di sana, tapi bagaimana kalau dia tidak menggunakan tanah (turbah) yang biasa digunakan untuk sujud?

Raya memutuskan untuk menggunakannya agar tidak menarik perhatian. Lagi pula dirinya sudah memahami alasannya. Pengikut Syiah peraya bahwa nabi saw. selalu sujud pada sesuatu yang berasal dari alam seperti tanah suci dan anyaman jerami. Alasan lain, jika tanah tersebut berasal dari tanah Karbala tempat di mana Imam Husain menjadi syahid, maka tanah tersebut dianggap sudah diberkahi dan lebih baik untuk digunakan. Bagi Raya, hal-hal seperti itu tidaklah masalah.

Sehari sebelumnya, Raya telah bertemu dengan seorang pemuda yang mengetahui tujuan keberadaan Raya di Iran. Dia membantu Raya menyiapkan pertemuan dengan seorang ulama yang dapat menjawab beberapa pertanyaan. Mereka berencana bertemu Jumat malam.

Namun Raya baru tersadar kalau pemuda itu mengatakan kepada ulama bahwa dirinya telah meninggalkan Islam selama beberapa tahun dan sekarang siap untuk menerima Syiah. Tapi setelah berbicara, anak muda itu sadar bahwa Raya bukanlah orang awam dalam Islam, baik tentang Syiah maupun ahlusunah. Lalu, alur pembicaraan berubah. Ketika dirinya bertanya mengenai ucapan seorang ulama tentang para imam, jawabannya adalah “apapun yang para ulama katakan, tidak akan cukup untuk menjelaskan kedudukan para imam!”

Raya langsung berkata, “Ucapan Anda membuatku bertanduk!” Kalimat yang diucapkan Raya adalah ekspresi perumpamaan dalam Bahasa Persia ketika seseorang terkejut atas ucapan seseorang. Ulama itu juga tidak kalah terkejut atas ucapan Raya. Tapi ulama itu tetap melanjutkan pujian terhadap ahlulbait dan menekankan kedudukan mereka di sisi Allah.

Raya benar-benar tidak bisa banyak berkata-kata karena ulama itu menguasai pembicaraan dan setiap kali Raya ingin berkomentar, dia akan menyela dan melanjutkan pembicaraan. Ulama itu kemudian beralih ke sejarah awal Islam setelah wafatnya nabi, menjelaskan tentang hak-hak Ali yang diambil oleh Abu Bakar, kemudian Umar, diikuti oleh Utsman. Dia menyebutkan banyak hadis dan ayat Quran untuk menunjukkan bahwa mereka mengabaikan perintah nabi terkait Ali sebagai penggantinya.

Ulama itu tidak tahu bahwa Raya telah membaca berjilid-jilid buku tentang hal itu. Raya sudah cukup dengan hal itu dan tidak ingin mendapatkan cerita lebih detail tentang topik tersebut. Ketika ulama itu tahu bahwa Raya berada di Iran untuk beberapa hari, dia memintanya untuk kembali agar dirinya dapat menjelaskan lebih banyak tentang Syiah. Ulama itu merasakan keterbukaan pada diri Raya. Namun karena keterbatasan waktu, Raya hanya dapat menemuinya dua kali lagi.

Ulama itu mulai menjawab beberapa pertanyaan penting dan mendasar dalam penelitian yang dilakukan oleh Raya. Raya mulai tertarik untuk mengetahui lebih banyak. Tapi waktu memisahkan mereka. Ulama itu mempersilakan Raya untuk melanjutkan komunikasi setelah dirinya meninggalkan Iran.

Ikuti kelanjutan kisah Raya dalam mencari apa yang diyakininya sebagai kebenaran dalam serial artikel Dilema Suni-Syiah. Kisah ini disajikan ulang dalam Bahasa Indonesia atas persetujuan Raya Shokatfard.

Iklan

1 Comment

  1. Namun Raya baru tersadar kalau pemuda itu mengatakan kepada ulama bahwa dirinya telah meninggalkan Islam selama beberapa tahun dan sekarang siap untuk menerima Syiah

    Dri pernyataan dia atas semakin jelas Syiah bukan Islam
    mau takkiyah apa lagi…..

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s