Menyelisik Lebih Dalam Muslim Syiah di Manado

Minoritas dalam minoritas. Begitulah kira-kira gambaran komunitas Syiah di Manado, Sulawesi Utara. Hidup di provinsi dengan mayoritas beragama Protestan, masyarakat muslim memiliki tantangan tersendiri. Namun eksistensi penganut Syiah di tengah mayoritas Kristiani dan globalisasi Sulut menjadi realitas yang menarik. Masjid dan majelis mereka aktif. Identitas mereka dapat dengan mudah dikenali.

Tidak mudah memang menelusuri secara pasti kapan Syiah masuk ke Manado. Tapi mungkin bisa dilacak dari kehadiran sejumlah figur Syiah ke Manado. Tahun 1984, Habib Husein Abu Bakar Al-Habsyi dari Jawa Timur berkunjung ke Manado. Dua minggu di sana, Ustaz Husein berziarah ke makam Kiai Mojo dan Habib Abdullah Assegaf di Tondano. Usai ziarah, beliau mendatangi rumah K.H. Arifin Assegaf yang merupakan ketua MUI. Ustaz Husein menyampaikan pesan mengenai kecintaan kepada ahlubait.

Dari pejuang Permesta menjadi pejuang kerukunan ✊🏽

Orang biasa memanggilnya Kiai Arifin atau Ustaz Assegaf. Nama lengkap beliau adalah Sayid Tajul Arifin bin Husain Assegaf. Kiai Arifin menempuh pendidikan di Yayasan Alkhairaat yang didirikan oleh Habib Idrus Al-Jufri. Melihat diskriminasi yang dialami rakyat timur Indonesia bertentangan dengan nilai Islam, Kiai Arifin muda memutuskan untuk bergabung dengan Permesta. Enggan menyerah, beliau harus mendekam di penjara; mulai dari Ternate, Ambon, Surabaya, Semarang, Madiun, dan terakhir di Nusa Kambangan.

Kini, Kiai Arifin lebih dikenang sebagai tokoh Manado yang berpengaruh. Beliau menjalin hubungan baik dengan tokoh penting daerah maupun pemuka agama lain. Kiai Arifin pernah memperoleh piagam penghargaan anugerah tahun kasih 2004 atas jasanya dalam bidang kerukunan beragama di Sulut. Beliau memiliki majelis yang sering diisi dengan kajian Islam yang diterima semua mazhab. Bagi kiai yang wafat pada tahun 2015 ini, menjadi Syiah adalah menjadi pembela dan pembebas kaum tertindas.

Jika kamu berada di sisi kaum tertindas maka kamu adalah Syiah.

K.H. Arifin Assegaf

Membaur dalam masyarakat yang plural 🤗

Sebenarnya, Kiai Arifin sudah lama menganut Syiah secara ideologi. Namun baru mempraktikkan fikihnya sejak tahun 2005. Sejak saat itu, Syiah secara jemaah mulai terlihat di masyarakat. Pada tahun selanjutnya, peringatan maulid nabi maupun Asyura kerap mengundang penceramah berlatar Syiah. Secara umum, pengaruh Syiah di Manado masuk seiring dengan kunjungan para tokohnya yang mengajarkan kecintaan pada ahlulbait.

Secara pemikiran, orang Manado sudah akrab dengan Syiah. Tak sedikit intelektual dan akademisi muda yang mempelajari tulisan Hossein Nasr, Ali Shariati, bahkan Alamah Tabatabai. Secara kultur keagamaan, pengaruh Syiah juga nampak dalam tradisi muslim tradisional kota Mando yang familiar dengan tradisionalis Nahdlatul Ulama. Hal ini terlihat dari tradisi tahlilan, ziarah kubur, dan haul.

Karena itu, dakwah pengkafiran dan penghalalan darah pengikut Syiah yang gencar dilakukan sejak tahun 2012 tidak mewakili sikap seluruh muslim Manado. Pengkafiran tanpa verifikasi dan konfirmasi dari kelompok Syiah justru memantik rasa penasaran. Masyarakat akhirnya mulai mengenal dan mempelajari.

Secara sosial politik dan kemasyarakatan, tokoh Syiah diterima oleh mayoritas masyarakat kota Manado. Termasuk birokrasi pemerintahan dan pemeluk agama lain. Teladan dari K.H. Arifin Assegaf yang mudah berbaur dengan masyarakat membuka penerimaan dari kelompok lain. Sikap toleran terhadap pluralitas ini menjadi salah satu karakteristik Syiah kota Manado yang terkenal dengan masyarakat multikultural.

Referensi:

[1] ^ Amin, Ali. (Juli-Desember 2017). “Revitalisasi Agama di Sulut (Kasus Studi Kelompok Aliran Syiah di Manado”. Jurnal Potret: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Islam. 21 (2): 44-58.

[2] ^ Pontoh, C. Husain. (14 April 2015). “Ode untuk Ustadz Arifin Assegaf”. Suluttoday. Diakses 10 Januari 2021.

[3] ^ Ointoe, R. Emyot. (14 April 2015). “KH Arifin Assegaf, Pejuang Permesta dalam Penggalan Cerita”. Suluttoday. Diakses 10 Januari 2021.

Pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.