Salafi Dulu dan Sekarang, Menurut Rumi

Mengapa kelompok salafi hari ini mengklaim sebagai satu-satunya pengikut salaf? Apa perbedaan antara salafi sebagai sebuah pendekatan dan salafi sebagai sebuah jalan? Ternyata, kedua konsep salafi tersebut tersirat dalam dua karya Jalaluddin RumiFihi Ma Fihi dan Masnavi. Rumi menggunakan karakter salah seorang sahabat nabi untuk menggambarkan dua keadaan yang saling bertolak belakang, seperti kekerasan dan kasih sayang atau peperangan dan perdamaian. Lanjutkan membaca “Salafi Dulu dan Sekarang, Menurut Rumi”

Ibadah Ramadan: Kesalehan Individual atau Sosial?

Seorang wanita—sebut saja Fatimah—mengadu kepada seorang ustaz, “Setiap kali masuk bulan Ramadan, aku merasa sedih. Aku bertambah sedih karena aku merasa sedih. Bukankah kata Pak Ustaz, Rasulullah dan sahabatnya menyambut Ramadan dengan gembira?” Mata berkaca-kaca dan hidung memerah, ustaz menjadi yakin kalau wanita itu menangis beneran. Ustaz itu sudah sering menemukan dalam majelis-majelis pengajian, ustaz yang menangis bohongan dan pendengar yang menangis beneran. Lanjutkan membaca “Ibadah Ramadan: Kesalehan Individual atau Sosial?”

Membawa Manfaat Pertemanan ke Akhirat

“Hai, teman. Apa kabarmu hari ini? Bagaimana, semua kegiatan hari ini? Lancar, kan?” Kita sering kali bertemu, berbicara, menghabiskan waktu bahkan biaya bersama dan untuk teman-teman, laki-laki atau perempuan, apapun latar belakang pendidikan bahkan apapun agama yang dianutnya. Tapi di sisi lain, kita tahu bahwa dunia tempat kita berinteraksi dengan teman-teman bukan dunia yang kekal. Lanjutkan membaca “Membawa Manfaat Pertemanan ke Akhirat”

Bukti Cinta Nabi untuk Umat Manusia

Di sebuah peperangan, Nabi Muhammad saw. terluka parah hingga mengeluarkan darah. Beliau berusaha menahan darahnya yang terus keluar sambil berkata, “Aku khawatir jika setetes saja darah ini tertumpah di atas bumi, Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka.” Beliau ingin menahan azab meskipun wajahnya dipukul; padahal itulah wajah yang paling mulia. Tidak ada yang lebih mulia dari Allah. Namun demikian, perhatikanlah reaksi beliau.  Lanjutkan membaca “Bukti Cinta Nabi untuk Umat Manusia”

Memperlakukan Anak Muda

Ketika masuk ke Masjid Al-Bakrie di sekitar kawasan Epicentrum magrib tadi, saya melihat banyak anak-anak yang sudah lebih dulu menanti di mulainya salat berjemaah. Ketika ikamah dikumandangkan, mereka lebih segera maju ke depan. Saya sengaja hanya bertahan di saf ketiga. Sampai kemudian… saya terkejut melihat seorang tua yang dengan nada keras melarang anak-anak kecil itu untuk salat di saf kedua.

Terpancing, beberapa orang dewasa lain yang berada di saf keempat juga menyuruh anak-anak untuk salat di belakang. Orang tua tadi mengusirnya ke belakang dan meminta saya maju ke depan. Saya menahan sambil tetap mempersilakan anak-anak itu untuk salat di saf kedua. “Tapi jangan berisik, ya!” kata orang tua itu dengan tatapan tajam. Alasan kenapa saya tidak ingin maju ke depan ialah karena kejadian itu mengingatkan saya dengan kisah yang disampaikan Sayid Ali Khamenei pada bulan Juni 1997 tentang bagaimana sebaiknya kita memperlakukan anak muda.
Lanjutkan membaca “Memperlakukan Anak Muda”

Imam Khomeini Murid Imam Ali bin Abi Thalib

“Pecinta kemerdekan di dunia ini berkabung karena kesedihan atas perginya Imam Khomeini.” Kalimat itulah yang diungkapkan oleh Ernesto Cardenal, seorang imam Katolik dan salah seorang pejuang pembebasan yang paling terkenal dari Revolusi Nikaragua. Ayatullah Dinparvar yang menjadi pembicara dalam acara haul wafatnya Ayatullah Khomeini yang ke-23, Sabtu (2/6), mengatakan bahwa pemikiran, ide, dan gagasan yang diperjuangkan oleh Imam Khomeini telah melewati lintas batas, bahasa, dan geografis. Lanjutkan membaca “Imam Khomeini Murid Imam Ali bin Abi Thalib”

Hidup dalam Kedamaian

Kita harus belajar dari Yesus a.s. tentang bagaimana hidup dalam kedamaian spiritual dan sosial serta bagaimana membangun kedamaian bagi seluruh dunia dan makhluk. Sebagaimana kita juga harus belajar dari Rasulullah saw. yang—melalui perintah Allah—menjadikan kedamaian sebagai ucapan salam umat Islam dan penduduk surga: “Para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan) assalamualaikum atas kesabaran kalian. Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 23-24)

Hidup dalam kedamaian dan berdiskusi tentang apa yang menjadi perbedaan, bertujuan untuk mencapai pemahaman tentang apa yang tidak kita sepakati. Manusia harus hidup dalam kemanusiaan bersama manusia yang lain dan saling menuju kalimat yang satu (kalimah sawa’). Janganlah melibatkan diri dalam dakwah sektarian yang dapat membangkitkan insting (garizah). Lanjutkanlah dakwah cinta yang dapat membuka hati dan akal manusia.
Lanjutkan membaca “Hidup dalam Kedamaian”

Bukan Sekedar Makan Minum

Bersamanya, saya masuk ke sebuah kafe di daerah Kota Tua untuk pertama kalinya. Kami duduk dan siap memesan makanan dalam daftar menu. Sampai akhirnya dia melihat deretan botol bir, wiski, dan sejenisnya dipajang di bagian bar. “Sebenarnya, boleh nggak sih kita makan di sini?” Setelah menjawab tidak boleh, kami memutuskan untuk ke luar setelah hanya memesan es krim.  Lanjutkan membaca “Bukan Sekedar Makan Minum”

Kondisi Spiritual Bumi

Selepas pulang kerja beberapa malam yang lalu, bersama rekan kami melihat keramaian orang yang menyaksikan aksi kejahatan pencurian kaca spion mobil mewah. Tanpa malu berbuat kejahatan di muka publik, peristiwa ini terjadi di tengah rutinitas kemacetan. Masih di malam yang sama, bus kota yang saya tumpangi kehadiran penodong mabuk berkedok pengamen. Tanpa bernyanyi meski membawa gitar, penodong meminta uang kepada penumpang sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

Saya sedih. Sambil berpikir benarkah kondisi bumi semakin hari semakin memburuk? Dulu, nabi saw. pernah berkata bahwa menjelang akhir zaman nanti, keburukan dan kejahatan akan benar-benar meliputi seluruh muka bumi, sebelum seseorang dari keturunannya akan menegakkan keadilan.
Lanjutkan membaca “Kondisi Spiritual Bumi”