Shahrbanu: Relasi Islam dan Persia di Iran

Tulisan Saudara Jumal Ahmad[1] yang mengangkat tema pernikahan Imam Husain dengan seorang putri raja Persia menarik perhatian. Meski menggabungkan tema tersebut dengan beberapa tema lain yang sudah biasa dituduhkan kepada Syiah sekaligus dijawab oleh ulama Syiah—seperti ratapan saat Asyura, caci maki terhadap sahabat, atau kekeliruan terhadap pemahaman imamah—namun muatan utama tulisan tersebut adalah anggapan bahwa riwayat pernikahan tersebut dibuat oleh Syiah untuk melegitimasi akidahnya dan berdusta atas nama ahlulbait. Lanjutkan membaca “Shahrbanu: Relasi Islam dan Persia di Iran”

Kultus dan Kenabian

Salah satu definisi “kultus” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penghormatan secara berlebih-lebihan kepada orang, paham, atau benda. Pengertian ini masih sangat umum dan tidak menjelaskan lebih lanjut beserta batasan-batasannya tentang apa maksud “berlebih-lebihan”; sehingga belum bisa menjadi ukuran mutlak sebagai perbuatan yang tidak baik.

Dalam salah satu tulisannya, Dr. Muhsin Labib menyebut sebuah kelompok agama dominan Saudi yang melarang kita untuk mengkultuskan nabi dalam bentuk: tambahan sayidina dalam selawat, kalimat pujian kepada nabi dan keluarganya, maulid dan ziarah nabi. Hal itu mereka anggap sebagai sesuatu yang bidah dan tindakan “berlebih-lebihan” sehingga dapat menjerumuskan pelakunya kepada kesyirikan.
Lanjutkan membaca “Kultus dan Kenabian”

Hakikat Menanti Imam Mahdi

Sebagian orang yang tidak mengerti hakikat menanti (intizhâr) Imam Mahdi yang diyakini muslim Syiah adalah dengan memberikan cemooh. Mereka mengatakan bahwa Syiah adalah kaum terbelakang, pemalas, yang kerjaannya hanya bisa hanya menunggu. Lebih kasarnya lagi dengan nada mencibir (saya temukan di sebuah forum) mereka berkata, “Mana imam kalian?!” Ini adalah ciri-ciri orang yang tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti (na’ûdzubillâh) hakikat menunggu.

Ayatullah Muhsin Qaraati dalam Tamtsîlât memberikan penjelasan yang sederhana tentang hakikat menunggu:

Lanjutkan membaca “Hakikat Menanti Imam Mahdi”