Etika Mengumpulkan Harta

Berikut ini merupakan kutipan dari makalah mata kuliah Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi yang disusun bersama Abdul Badruddin, Hasanudin, dan Khairunnisa pada tahun 2008. Saya menemukan (kembali) makalah ini dan merasa sayang kalau tidak dibagikan di blog ini. Semoga bermanfaat!

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka kabarkan kepada mereka tentang azab yang pedih

Ayat ke-30 dan ke-31 surah At-Taubah menceritakan tentang sikap kebanyakan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan para alim mereka sebagai tuhan selain Allah. Sementara ayat ke-34 di atas menceritakan bahwa selain mereka tidak pantas menjadi tuhan, mereka juga tidak pantas menjadi pemimpin. Banyak dari mereka yang menyembunyikan bukti-bukti ajaran Musa dan Yesus a.s. demi menjauhkan pengikut sejati dari jalan Allah.
Lanjutkan membaca “Etika Mengumpulkan Harta”

Dua Etika Penting Berdagang

Menurut sebuah riwayat, membawa oleh-oleh sepulang dari perjalanan adalah sunah.[1] Karena itulah saya berencana membawa oleh-oleh dari Ciwidey, beberapa tahun yang lalu. Di Situ Patenggang banyak penjual stroberi yang menawarkan dagangannya, baik ukuran besar maupun yang kecil. Saya memilih yang berukuran besar. Sampai di Jakarta, saya baru sadar setelah membuka bungkusan karena di bagian bawah stroberi besar disusun stroberi berukuran kecil. Buat saya, ini namanya tadlis (penipuan).

Beberapa minggu yang lalu, saya berniat menjual hape di daerah Blok M. Saya datangi sebuah counter dan menanyakan harga pasarannya. Saya jelaskan bahwa di bagian layar hape terdapat goresan. Keterbukaan tentang goresan itu ternyata membuat harga jual menjadi “jatuh”. Tapi saya tetap punya hak untuk tidak menjual saat itu dan mencari pembeli lain yang mau menawarkan harga lebih tinggi. Dua pengalaman di atas menjadi alasan untuk berbagai tentang dua etika penting saat berdagang.
Lanjutkan membaca “Dua Etika Penting Berdagang”

Ringkasan Economic Hit-men

“Secara jujur saya katakan bahwa kami para economic hit men (perampok ekonomi) telah berhasil menciptakan imperium global pertama di dunia; yang sebenarnya sebuah imperium rahasia.” – John Perkins, ‘mantan economic hit-man‘.

Kami melakukannya dalam berbagai cara, tapi prinsipnya, kami mengidentifikasi sebuah negara yang memiliki sumber daya yang diidamkan para perusahaan, seperti minyak; mengatur pinjaman yang besar untuk negara itu dari Bank Dunia atau salah satu saudaranya. Uang itu sebenarnya tidak pernah diterima negara; tapi pergi ke perusahaan kami sendiri untuk membangun proyek infrastruktur di negara itu yang membantu sedikit orang kaya, tapi tidak menguntungkan mayoritas rakyat, yang terlalu miskin untuk membeli listrik atau memiliki mobil untuk berkendara di jalan raya. Tapi, mereka meninggalkan utang yang sangat besar yang tidak bisa mereka bayar.
Lanjutkan membaca “Ringkasan Economic Hit-men”

Riba dan Cara Menghindarinya

Oleh: Masooma Beatty

Imam Ali as. berkata, “Nabi saw. mengutuk orang yang menerima bunga, membayar bunga, membeli bunga, menjual bunga, yang mencatat kontrak bunga, dan orang yang menjadi saksi atas transaksi tesebut.” (Wasâ’il asy-Syî’ah).

Realitas menyedihkan dari kehidupan modern di sebagian besar dunia ini adalah riba menjadi begitu luas dan mendasar bagi struktur ekonomi dan masyarakat yang beberapa di antaranya menganggap sebagai hal biasa dan diperlukan. Faktanya, ia adalah sebuah inovasi yang jahat dan sumber kejatuhan ekonomi dan spiritual masyarakat kapitalis.
Lanjutkan membaca “Riba dan Cara Menghindarinya”

Nasib Ekonomi Islam

Sebagaimana yang pernah saya bicarakan sebelumnya, agama (ad-dîn) yang sesungguhnya adalah suatu sistem yang tidak sekedar membicarakan masalah ritual dan akhirat tapi juga mengatur tata kelola kehidupan dunia. Kita terlalu lama memposisikan agama hanya sebagai urusan pribadi dengan Tuhan; sehingga membawa hal keduniaan dianggap sebagai tabu. Ketika mendengar istilah ‘ekonomi syariah’ atau ‘ekonomi Islam’, kita buru-buru menaruh rasa curiga.

Bukankah ‘ekonomi’ istilah yang sangat erat kaitannya dengan masalah duniawi? Mereka yang meragukan hal bukan hanya kelompok Barat, tapi juga umat Islam sendiri. Hal itu karena negara-negara yang mayoritas muslim telah dicap sebagai negara terbelakang bahkan negara Dunia Ketiga. Puluhan bahkan ratusan tahun kita menganggap hanya ada dua sistem ekonomi [sosialisme dan kapitalisme]. Akhirnya, kita dipaksa kagum kepada ‘kehebatan’ ekonomi Barat agar mampu mencontoh mereka.

Lanjutkan membaca “Nasib Ekonomi Islam”

Zakat Profesi: Dua Puluh Persen?

Menurut Emha Ainun Nadjib, Dr. Amien Rais pernah dituduh “kafir” karena menetapkan zakat profesi (Gala, 19 April 1990). Sebenarnya dia “dikafirkan” bukan karena zakat profesinya, tetapi karena dia menetapkan dua puluh persen. Buktinya, di seantero tanah air, para ilmuwan fikih Majelis Ulama Indonesia membahas zakat profesi. Kita merasakan ada yang tidak adil dalam konsep zakat yang kita miliki. Petani, yang memperoleh penghasilan 1.000 kg beras setahun, wajib mengeluarkan zakat 10 persen dari hasil itu. Jika kita konversikan dengan uang, petani harus mengeluarkan Rp 60.000,- dari penghasilan tahunannya yang Rp 600.000,- Bagilah itu menjadi 12 bulan. la akan memperoleh rata-rata Rp 50.000,- sebulan (konversikan saja dengan harga beras sekarang, harga tersebut adalah harga ketika artikel ini ditulis). Kata ilmuwan fikih, petani itu wajib mengeluarkan zakatnya rata-rata Rp 5.000,- setiap bulan.

Lanjutkan membaca “Zakat Profesi: Dua Puluh Persen?”

Menuju Ekonomi Berkeadilan: Perspektif Imam Ali as

Oleh: Afifah Ahmad

Dunia tidak ada yang tak mengenalnya. Sejarah mencatat perjalanannya yang gemilang. Nama Ali diabadikan pada nama-nama Imam lain seperti Ali Zainal Abidin as, Ali Ar-Ridha as dan Ali Al-Hadi as. Nama Ali juga menjadi favorit di kalangan Bani Hasyim dan suku Arab. Kini, namanya menjadi nama dari jutaan penduduk muslim di dunia. Di Iran sendiri, nama Ali hampir dapat ditemukan pada setiap keluarga yang memiliki anak laki-laki. Siapakah gerangan pemilik nama pertama yang menjadi sumber penisbatan bagi jutaan nama-nama Ali lainnya? Lanjutkan membaca “Menuju Ekonomi Berkeadilan: Perspektif Imam Ali as”

Ekonomi Barat dalam Dunia Islam

Dunia Islam kebanyakan telah memakai dua bentuk sistem ekonomi modern Barat berikut ini: Pertama, Sistem Usaha Bebas yang didasarkan pada kapitalisme. Kedua, Ekonomi Terpimpin yang didasarkan pada sosialisme. Inilah dua bentuk dasar sistem ekonomi modern Barat. Pertanyaan penting yang sedang dibicarakan di dunia Islam ialah yang manakah dari dua bentuk ini yang lebih sesuai dan lebih bermanfaat bagi kaum muslimin secara menyeluruh dalam mengatasi keterbelakangan mereka.

Pada mulanya, untuk pembangunan ekonomi dalam negeri, dunia Islam lebih cenderung ke arah bentuk yang pertama, yaitu Sistem Usaha Bebas yang didasarkan pada kapitalisme. Alasannya jelas, negara-negara kapitalis adalah yang pertama sekali menyusup ke dunia Islam dan membangun basis-basis mereka di sana.

Lanjutkan membaca “Ekonomi Barat dalam Dunia Islam”

Masa Depan Ekonomi Indonesia Pasca Krisis Global

Kajian perdana Lingkar Studi Ekonomi Syariah (LiSEnSi) pada semester genap ini menghadirkan Ali Sakti, S.E., M.Ec. (Junior Researcher Bank Indonesia) sebagai pembicara. Tema yang diusung oleh Departemen Keilmuan dan Riset adalah mengenai “Masa Depan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Global”. Acara yang dilaksanakan di Masjid Al-Jami’ah pada hari Sabtu (14/03) ini dihadiri sekitar 25 orang.

Sejalan dengan tema yang diangkat, Ali Sakti memberikan perkembangan terbaru bdiang ekonomi-politik. Ketika mendapat tugas untuk membuat presentasi mengenai rancangan ekonomi syariah untuk membantu meningkatkan perekonomian syariah di hadapan Dewan Penasihat Presiden, rancangan tersebut, Insya Allah, akan dilanjutkan kepada Presiden SBY.

Lanjutkan membaca “Masa Depan Ekonomi Indonesia Pasca Krisis Global”