Arab Saudi Melawan Imam Mahdi

Ketika beberapa bulan lalu mengikuti konferensi tentang Timur Tengah, kita tahu bahwa Bashar Assad yang tidak mewakili agama dan mazhab manapun bukanlah orang tanpa cacat. Tapi tidak bisa diabaikan bahwa dia termasuk dari sedikit pemimpin Timur Tengah yang berani melawan hegemoni Amerika Serikat dan Israel terhadap Palestina. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk membedakan mana keinginan rakyat sesungguhnya dan mana yang melibatkan campur tangan pihak asing. Continue reading “Arab Saudi Melawan Imam Mahdi”

Presiden Ini Selalu Mencium Alquran

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang berusaha membuktikan bahwa Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, adalah seorang penghina Islam. Kesahajaan yang selama ini ditampilkannya adalah kepura-puraan karena sebenarnya ia menyembunyikan permusuhan terhadap Islam. Lalu, bagaimana cara Ahmadinejad memperlakukan Alquran? Continue reading “Presiden Ini Selalu Mencium Alquran”

Kata “Ahlulbait” dalam Alquran

Ada seseorang yang kerap kali berkunjung ke blog ini (serta blog lainnya) dan konsisten dalam berkomentar tentang topik yang sama. Sesekali dia datang dan kembali meng-copy-paste hipotesisnya. Orang itu beranggapan bahwa konflik suni-Syiah disebabkan perebutan tahta ahlulbait. Dia juga mengatakan bahwa ahlulbait (dan keturunan nabi) sudah tidak ada, sehingga sepantasnya tidak perlu ada lagi konflik suni-Syiah.

Dia mungkin mencoba untuk menyederhanakan masalah. Sangat mungkin dia akan kembali lagi ke blog ini dan mengulang hipotesisnya. Saya jadi berpikir, kalau ahlulbait sudah tidak ada, mengapa nabi saw. mewasiatkan umatnya untuk berpegang teguh pada Alquran dan ‘itrah, ahlulbait (HR. Muslim)? Kalau Alquran suci, bagaimana mungkin dipadankan dengan yang tidak suci? Kalau Alquran kekal dan menjadi petunjuk hingga saat ini, bagaimana pantas dipadankan dengan sesuatu yang sudah tidak ada? Berikut ini sekelumit penjelasan tentang kata “ahlulbait” dalam Alquran yang saya kutip dari A Shi’ite Encyclopedia.
Continue reading “Kata “Ahlulbait” dalam Alquran”

Mengungkap Karbala dalam Kitab Ahlusunah

Ada dua alasan sederhana mengapa tema ini menjadi penting. Pertama, ketika mempelajari Dinasti Umayyah secara keseluruhan dan melihat ciri-cirinya, kita akan menemukan usaha mereka untuk melemahkan dan mengecilkan nilai dan tragedi yang terjadi di Karbala. Secara lebih spesifik, mereka tidak memberikan perhatian terhadap pentingnya darah di Karbala yang merupakan bagian dari cucu Nabi Muhammad saw. Karenanya mereka mencoba untuk merendahkan daerah Karbala, tanah Karbala, tempat syahidnya Imam Husain a.s. dan membuat orang percaya bahwa semua hal itu tidak terlalu bernilai sebagaimana penilaian pengikut mazhab ahlulbait as.

Lebih dari itu, mereka mencoba menjelaskan hal-hal lain yang dianggap lebih penting. Contohnya? Mereka lebih mengutamakan darah Umar bin Saad, si pembunuh Imam Husain, dengan mengatakan bahwa kematiannya lebih penting daripada kematian Imam Husain a.s.

Mungkin terkesan aneh dan sulit dipercaya, tapi akan kita bacakan sumber teks dari sudut pandang [pendukung] Umayyah yang akan menjelaskan realita tersebut. Fakta yang ingin kami bahas adalah usaha mereka untuk benar-benar mengecilkan nilai pergerakan dan revolusi Al-Husain, tidak hanya pada masanya tapi hingga saat ini. Para pemirsa bisa menyaksikan saluran-saluran televisi (Wahabi) yang memiliki hubungan dengan Umayyah dan bisa melihat bahwa mereka memusatkan (kritik) pada slogan, darah Al-Husain, turbah Karbala dan menangisi Al-Husain serta penyalahgunaan turbah.

Hubungan antara tema Karbala dan pengaruh Umayyah dalam Islam adalah bukti bahwa masalah Al-Husain bukanlah sesuatu yang Syiah ciptakan. Bukanlah hal yang mazhab dan Syiah ahlulbait mulai dan buat-buat. Masalah Al-Husain, darah dan tanahnya, dinilai penting oleh wahyu Ilahi. Sebuah masalah yang penutup para nabi saw. berikan perhatian dan beliau tangisi. Tulisan ini tidak sedang membahas apa yang pemimpin ahlulbait katakan tentang tanah Karbala dan darah Imam Husain, tapi lebih kepada apa yang nabi saw. dan Imam Ali bin Abi Thalib katakan tentangnya.

Ketika dalam tulisan ini menyebut “tanah Karbala” maka yang dimaksud bukanlah potongan tanah yang dibuat untuk sujud (turbah) namun mencakup seluruh tanah/daerah Karbala. Maknanya adalah makna bahasa, bukan istilah. Tema ini juga menjadi penting karena memang nabi juga memberikan perhatian penting. Tanah Karbala dianggap suci dan diberkahi karena nabi memberikan nilai luar biasa dan perhatian khusus pada tanah tersebut yang tidak beliau berikan pada darah atau tanah orang lain.

Lalu bagaimana usaha Umayyah untuk mengecilkan nilai dan pentingnya hal ini? Kita bisa melihat dari apa yang Syekh Ibnu Taimiah katakan—pengikut Wahabi menggelarinya dengan Syekhul Islam dan menyebutnya sebagai pencinta Ali dan ahlulbait—dalam Minhâj As-Sunnah An-Nabawiah jil. 3 yang ditahkik Dr. Muhammad Rasyad Salim, cet. 2 tahun 1999 M. Perhatikan apa yang dia katakan di hal. 70 kitab ini agar menjadi jelas bagi seluruh kaum muslimin dan pengikut Ibnu Taimiah yang yakin bahwa beliau mencintai ahlulbait dan keluarga Imam Husain, cucu nabi, pemimpin pemuda surga:

ومن المعلوم أن عمر بن سعد أمير السرية التي قتلت الحسين مع ظلمه وتقديمه الدنيا على الدين لم يصل في المعصية إلى فعل المختار بن أبي عبيد الذي أظهر الإنتصار للحسين وقتل قاتله بل كان هذا أكذب وأعظم ذنبا من عمر بن سعد

“Sudah diketahui bersama bahwa Umar bin Saad adalah pemimpin as-sariyyah (detasemen)…”

Dari kalimat di atas terlihat bagaimana dia merendahkan masalah ini. Bayangkan, pasukan yang membunuh Imam Husain hanya disebut sariyyah? Seratus atau dua ratus orang? Bukan tentara lengkap (jaisy) yang diutus Ibnu Ziad atas perintah Yazid untuk memerangi dan membunuh Husain?

“Bahwa Umar bin Saad adalah pemimpin sariyyah yang membunuh Husain…”

Ibnu Taimiah mengakui bahwa Umar adalah pembunuh Husain.

“…meskipun dia (Umar) berbuat zalim…”

Ibnu Taimiah juga mengakui bahwa Umar telah berbuat zalim, tidak lebih dari itu.

“…dan pengutamaannya terhadap dunia di atas agama, namun dosanya tidaklah seburuk yang dilakukan Mukhtar bin Abi Ubaid yang menunjukkan kemenangan demi Husain dan membunuh pembunuhnya.”

Artinya, maksiat atau dosa Mukhtar lebih buruk di mata Allah dibandingkan dosa pembunuh Husain. Ini juga berarti bahwa darah Umar bin Saad lebih penting, lebih agung, dan lebih mulia jika dibandingkan dengan darah Imam Husain menurut Ibnu Taimiah.

Hal inilah yang patut diperhatikan. Sungguh kasihan dan menyedihkan. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa terucap. Mungkinkah kebencian (nashb) terhadap ahlulbait lebih buruk daripada kebencian terhadap Umar bin Saad? Apa makna nashb? Apakah ada bentuk nashb yang lebih buruk daripada membunuh? Adakah yang lebih buruk dari apa yang Umar lakukan terhadap Husain dan keluarganya?

Seseorang bisa saja membebaskan Yazid dari segala (tuduhan) kejahatan dengan mengatakan bahwa dia tidak di sana saat perang terjadi; atau dia tidak memerintahkan hal tersebut terjadi. Tema tersebut bisa dibahas lain waktu, meski sudah jelas itu kebohongan dan terbukti Yazid memerintahkannya.

Kalimat tersebut juga bermakna bahwa dosa Mukhtar yang membunuh pembunuh Husain lebih besar jika dibandingkan dengan dosa orang yang membunuh Husain. Hal ini juga berarti dosanya lebih besar dibandingkan orang yang membunuh ahlulbait dan sahabat nabi, karena beliau dianggap sebagai salah satu sahabat nabi yang mulia. Inilah logika yang membela Ibnu Taimiah dan ideologi yang mengatakan “kami mencintai Yazid, Muawiyah, dan dinasti Umayyah dan mereka sahabat rasul”. Inilah logika yang sama sampai hari ini. Bagaimana mereka menunjukkannya? Mereka mengatakan “Ini perbuatan bidah dan nabi tidak pernah melakukannya!” Sekarang, mereka sendiri yang melakukannya.

 فهذا الشيعي شر من ذلك الناصبي

“Maka pengikut Syiah ini (Mukhtar) lebih buruk daripada nâshibî itu (Umar).”

Perhatikan bagaimana Ibnu Taimiah tahu bahwa Umar bin Saad adalah seorang nasibi tetapi tetap dibelanya. Jika dia nasibi maka dia seorang munafik dan berada di neraka terdalam. Pada saat yang sama dikatakan bahwa seorang Syiah lebih buruk dari seorang munafik. Saat ini kita sama sekali tidak sedang membicarakan Syiah dan munafik, tetapi ideologi (manhaj) dari orang yang mengatakan hal tersebut. Ideologi yang mengatakan bahwa nâshibî (orang yang dasar agamanya membenci Ali dan membela Muawiyah) lebih baik dari orang yang mencintai Ali dan membenci Muawiyah. Padahal nabi mengatakan “Ya Allah, cintailah orang yang mencintai Ali dan tolonglah orang yang menolong Ali”, “Mencintainya adalah bagian dari iman, membencinya adalah kemunafikan.” (HR. Muslim)

Pertanyaan selanjutnya, apakah pembunuh Husain lebih rendah dari pembunuh Umar bin Saad? Apakah darah Umar bin Saad lebih mulia dan lebih agung daripada darah Imam Husain? Inilah yang menjadi pembahasan kita berikutnya, insya Allah. Agar kita bisa melihat apa yang dikatakan ulama madrasah sahabat (ahlusunah) dan ulama Islam tentang darah Husain dan tanah tempat darah Husain tertumpah.

Selanjutnya: Bagaimana Allah Swt. dan rasul-Nya menggambarkan Karbala dalam hadis sahih? Baca Halaman 2!