Asian chinese children playing tablet with mother on bed (Shutterstock)

Peran Keluarga dalam Mendidik Kids Zaman Now

Teknologi mengubah semua sendi kehidupan manusia. Mulai dari cara kita berkomunikasi, mengonsumsi, bertransportasi, bertransaksi keuangan, hingga mendidik anak. Tapi ibarat pisau bermata dua, teknologi bisa berdampak positif maupun negatif. Agar anak-anak tidak disalahkan akibat dampak negatif teknologi, orang tua harus lebih dulu berperan sebagai filter. Filter untuk menyaring dan memilah apa saja yang tepat untuk anak sesuai dengan usianya. Lanjutkan membaca “Peran Keluarga dalam Mendidik Kids Zaman Now”

Orang Tua Juga Harus Belajar dari Anak-Anak

Hanya karena hidup lebih dulu dari anak-anak, orang tua kerap merasa paling benar. Sikap itu diwujudkan dengan memaksa anak-anak untuk bersikap sama seperti mereka para orang dewasa; tidak lagi kekanak-kanakan. Padahal, Nabi saw. sendiri pernah berkata, “Seseorang yang memiliki anak harus memperlakukan anaknya seperti anak-anak.”[1] Lanjutkan membaca “Orang Tua Juga Harus Belajar dari Anak-Anak”

Pengikut Syiah dan Suni Saling Memahami Karena Masalah Kemandulan

Fakta menyedihkan dari masalah kemandulan (infertilitas): wanita yang sering disalahkan. Padahal, mayoritas isu kesuburan terjadi karena pasangan laki-laki. Fenomena ini hampir terjadi di seluruh belahan dunia. Tapi dalam budaya Timur Tengah, tempat di mana kejantanan dipandang sebagai komponen penting maskulinitas, masalah itu menjadi lebih berat.

Lanjutkan membaca “Pengikut Syiah dan Suni Saling Memahami Karena Masalah Kemandulan”

Berbuat Baik: Kunci Kebahagiaan Pasangan Suni dan Syiah

Namanya Aida Ishtiaq. Wanita yang besar di Kuwait ini hidup di lingkungan keluarga ahlusunah. Sejak kecil, dongeng sebelum tidur yang diceritakan ibunya selalu berkisah para nabi dan sahabat. Mereka selalu pergi umrah dan haji setiap kali ada kesempatan. Jadi, bisa … Lanjutkan membaca Berbuat Baik: Kunci Kebahagiaan Pasangan Suni dan Syiah

Beri peringkat:

Kisah Pernikahan Pasangan Suni dan Syiah

Aku menerima reaksi beragam ketika banyak orang mengetahui aku, Hafsa, seorang wanita India kelahiran Inggris dari sebuah keluarga suni, menikah dengan Ali, pria Pakistan kelahiran Inggris dari salah satu keluarga Syiah paling terkenal di London. Ada pujian atas keberanianku memilih suami. Mereka percaya bahwa pernikahan kami dibutuhkan sebagai bukti persatuan dua mazhab. Namun ada juga orang-orang yang tidak perlu mengungkapkan pikiran mereka tentang hal tersebut—tapi penghinaan di mata mereka mengatakan semuanya. Lanjutkan membaca “Kisah Pernikahan Pasangan Suni dan Syiah”

Akad nikah Ali Reza dan Alwiyah Alkaff

Sebaik-Baik Bekal Pernikahan Jugalah Takwa

Sebagaimana yang Allah dan kita saksikan bersama, kedua mempelai baru saja mengucapkan janjinya dalam sebuah ikatan yang benar-benar amat berat tanggung jawabnya di hari kemudian nanti. Pernikahan merupakan hal yang indah, mempersatukan sepasang manusia yang saling melengkapi satu sama lain. Laki-laki merupakan belahan bagi wanita dan demikian pula wanita belahan bagi pria. Sebagaimana diriwayatkan dari nabi kita saw. Lanjutkan membaca “Sebaik-Baik Bekal Pernikahan Jugalah Takwa”

Kami Juga Bisa Seperti Khadijah

Salah satu trends yang sedang hangat dibicarakan di Twitter saat ini terkait dengan keislaman adalah #IfKhadijaCanDoIt. Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad saw. yang beliau sebut sebagai wanita paling mulia; selain Mariam, Fatimah, dan Asiyah istri Firaun. Hashtag itu muncul dari beberapa wanita muslim dan bahkan non-muslim yang berbicara tentang perlakuan standar ganda terhadap pria dan wanita dalam masyarakat muslim. Lanjutkan membaca “Kami Juga Bisa Seperti Khadijah”

Kisah Jubah Pemimpin Hizbullah

Semasa perang Hizbullah melawan Israel tahun 2006, seorang wanita memakai kaos kerah V, kacamata hitam, dan bandana merah sedang bejalan menuju sebuah kafe di kota Beirut. Seketika dia diwawancara oleh televisi Al-Manar. “Ketika seluruh kekacauan ini berakhir, saya ingin jubah Sayid Hassan yang berkeringat kala dia membela saya, anak-anak saya, saudara-saudara saya, dan negeri saya. Saya menginginkannya agar dapat mengusapkan sedikit keringatnya pada diri saya dan anak-anak saya. Mungkin potongannya dapat dibagikan kepada masyarakat sehingga mereka bisa mendapatkan sedikit kebaikannya, kehormatannya, dan kemuliaan.”[1]

Sama seperti rakyatnya lainnya, Reem Haidar yakin bahwa kemenangan akan diraih. Tapi yang lebih mengejutkannya adalah Hassan Nasrallah mendengar dan mengingat keinginannya tersebut. Setelah perang berakhir, Reem Haidar mendapat kabar bahwa jubah sudah disimpan dan akan dikirim. “Saya mendapat ribuan telepon dari dalam dan luar Lebanon, meminta untuk diberikan potongan jubah sebagaimana yang saya katakan.” Tapi nyatanya, sangat berat baginya untuk memotong-motong jubah tersebut. “Pintu rumah saya selalu terbuka bagi yang ingin melihatnya.[2] Orang-orang dapat mengunjungi dan mengambil berkah darinya.”
Lanjutkan membaca “Kisah Jubah Pemimpin Hizbullah”

Jilbabku dan Aku

Ini adalah fotoku yang diambil hari ini. Sebagaimana yang bisa Anda lihat, aku memakai hijab atau jilbab sebagaimana yang lebih dikenal. Alasan mengapa aku memakai jilbab sederhana—temanku meminta aku melakukannya. Bukan karena dia ingin aku terlihat bodoh, tapi karena Hari Hijab Sedunia pada tanggal 1 Februari 2013 dan dia meminta semua teman non-muslimnya untuk bergabung bersamanya memakai jilbab.

Aku akan memakai jilbab untuk beberapa waktu mulai sekarang, meski selalu menghindarinya karena aku tidak yakin bahwa aku bisa karena aku bukan muslim. Namun temanku meyakinkan bahwa jilbab lebih banyak berbicara tentang kesopanan, meskipun jelas ia juga berkaitan dengan Islam. Jadi hari ini aku berpikir “Mengapa tidak?” dan melakukan yang terbaik untuk membuat jilbab dengan syalku. Aku telah memesan dua jilbab dan beberapa pin,  jadi sebelum semuanya tiba aku akan memakai sebuah syal yang dililit di kepalaku.
Lanjutkan membaca “Jilbabku dan Aku”