Hikayat Hasan dan Husain

Membaca Jejak Syiah dalam Naskah Klasik Masyarakat Aceh

Berbeda dengan relief atau candi yang mudah menarik perhatian, naskah klasik tampil memprihatinkan. Kertas robek berwarna kuning kecokelatan dan tinta hitam yang sudah memudar. Namun, naskah klasik merupakan peninggalan lampau dengan kandungan berharga. Ia memberi gambaran sejarah yang bermakna bagi generasi masa depan. Di antara naskah yang ditulis para pendahulu masyarakat Pidie, Aceh, adalah Kisah Hasan dan Husain serta Nūr Muḥammad.

Lanjutkan membaca “Membaca Jejak Syiah dalam Naskah Klasik Masyarakat Aceh”

Bermimpi Imam Ridha, Farshchian Lukis “Sang Penjamin Rusa”

Tahun 817, Khalifah Abbasiyah bernama Al-Ma’mun memanggil paksa seorang keturunan nabi saw. bernama Imam Ali Al-Ridha. Imam Ridha, yang merupakan salah seorang imam Syiah, akhirnya meninggalkan Madinah menuju Khorasan, Iran. Melintasi belantara, Imam melihat pemburu sedang membidikkan anak panah untuk membunuh rusa gazel betina. Rusa yang tak berdaya itu memandang Imam penuh harap pertolongan.

Lanjutkan membaca “Bermimpi Imam Ridha, Farshchian Lukis “Sang Penjamin Rusa””

Lantunan Bassim Al-Karbalaei bagi Pecinta Ahlulbait

Setiap memasuki bulan Muharam, suara lantunan pembaca eulogi semakin rutin terdengar. Pujian, penghormatan, serta sanjungan kepada ahlulbait dan pecintanya dilantangkan. Rangkaian syair dan iramanya menyentuh kalbu sekaligus membangkitkan girah. Salah satu dari sekian pembaca pujian atau maddahi itu adalah Bassim Ismail Muhammad-Ali Al-Karbalaei.

Lanjutkan membaca “Lantunan Bassim Al-Karbalaei bagi Pecinta Ahlulbait”

Orang Tua Juga Harus Belajar dari Anak-Anak

Hanya karena hidup lebih dulu dari anak-anak, orang tua kerap merasa paling benar. Sikap itu diwujudkan dengan memaksa anak-anak untuk bersikap sama seperti mereka para orang dewasa; tidak lagi kekanak-kanakan. Padahal, Nabi saw. sendiri pernah berkata, “Seseorang yang memiliki anak harus memperlakukan anaknya seperti anak-anak.”[1] Lanjutkan membaca “Orang Tua Juga Harus Belajar dari Anak-Anak”

Dilema Suni-Syiah (17): Sejarah Periwayatan Hadis

Raya Shokatfard, wanita kelahiran tahun 1949, sudah menyusuri sejarah panjang suni dan Syiah. Mengapa semua itu dia lakukan? Alasan pertama adalah keinginan untuk mengenal para imam keturunan nabi. Raya merasakan daya tarik untuk mengenal kehidupan dan ajaran mereka. Terutama, pesan nabi dalam hadis sahih yang menjelaskan betapa pentingnya mereka. Alasan kedua, Raya ingin memperjelas banyak isu kontroversial yang mengganjal hubungan suni-Syiah. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (17): Sejarah Periwayatan Hadis”

Dilema Suni-Syiah (14): Berdoa di Makam

Raya Shokatfard kembali tiba di Iran. Tidak lagi menuju rumah pamannya di Tehran, Raya justru langsung menuju Qom dan menyewa persinggahan kecil dekat makam Sayidah Fatimah Al-Masumah. Sayidah Masumah adalah saudari Imam Ridha, imam kedelapan, yang diyakini wafat di Iran ketika akan mengunjungi saudaranya. Dia dipandang sebagai wanita suci dan setiap tahun ribuan orang menziarahi dan berdoa di makamnya—sesuatu yang Raya tidak setujui! Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (14): Berdoa di Makam”

Dilema Suni-Syiah (9): Kehidupan di Mesir

Dukungan warga Amerika Serikat kepada Raya Shokatfard, wanita asal Iran, untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi semakin besar. Mereka juga mendukung Raya untuk mencari media yang tepat dalam melawan stereotip terhadap Islam. Hanya ada satu cara. Raya harus menyelam ke dalam pendidikan media dan mempraktikkannya. Raya berhasil mendapatkan gelar sarjana dalam bidang jurnalisme dan media massa dari sebuah universitas Amerika Serikat. Dilanjutkan dengan pencarian gelar master dari The American University di Kairo. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (9): Kehidupan di Mesir”