Dilema Suni-Syiah (16): Setelah Wafatnya Nabi

Setelah bertemu dengan ulama Syiah, Raya Shokatfard kembali ke rumah singgahnya. Di kamar, dia duduk termenung cukup lama—memikirkan bahwa dirinya seolah sedang melakukan perjalanan melintasi zaman serta merenungi sejarah agama ini. Bagaimana mungkin agama besar ini memiliki konflik berkepanjangan di antara pengikutnya?

Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (16): Setelah Wafatnya Nabi”

Dilema Suni-Syiah (4): Kedudukan Para Imam

Para ulama Syiah meminta Raya membaca hadis dan sejarah untuk memahami betapa pentingnya kedudukan para imam ahlulbait. Raya mulai yakin bahwa mereka merupakan pribadi-pribadi yang suci dan penting. Tapi sampai di mana batasannya? Ada sebuah hadis sahih dari nabi yang membuat Raya terkejut mengenai kedudukan para imam. Hadis yang sebenarnya sudah pernah Raya dengar sebelum datang ke Iran, yaitu hadis tsaqalain atau dua pusaka. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (4): Kedudukan Para Imam”

Imam Khomeini Murid Imam Ali bin Abi Thalib

“Pecinta kemerdekan di dunia ini berkabung karena kesedihan atas perginya Imam Khomeini.” Kalimat itulah yang diungkapkan oleh Ernesto Cardenal, seorang imam Katolik dan salah seorang pejuang pembebasan yang paling terkenal dari Revolusi Nikaragua. Ayatullah Dinparvar yang menjadi pembicara dalam acara haul wafatnya Ayatullah Khomeini yang ke-23, Sabtu (2/6), mengatakan bahwa pemikiran, ide, dan gagasan yang diperjuangkan oleh Imam Khomeini telah melewati lintas batas, bahasa, dan geografis. Lanjutkan membaca “Imam Khomeini Murid Imam Ali bin Abi Thalib”

Kenapa hakekat.com Menghina Sahabat Nabi?

Lama tidak berkunjung ke situs hakekat.com, saya mendapat kejutan dari salah satu artikelnya yang berjudul “Imam Maksum Shalat Sambil Mabok?” Dari judulnya, saya bisa pahami bahwa tujuannya adalah menjatuhkan derajat imam ahlulbait yang menurut mazhab Syiah adalah maksum. Menurut Syiah, para nabi sebagai pengemban risalah Allah Swt. dan para imam ahlulbait sebagai penjaganya haruslah terhindar dari kesalahan.

Hal ini berbeda dengan pendapat ahlusunah yang menganggap nabi dan imam ahlulbait tidak terlepas dari melakukan kesalahan. Pendapat ini terkesan menjadi paradoks ketika seringkali situs hakekat.com membela mati-matian sahabat nabi yang seluruhnya adil dan nyaris tanpa cacat. Dikatakan bahwa mereka yang mencela sahabat bisa menjadi kafir. Tapi justru, situs hakekat.com terang-terangan mencela sahabat nabi.
Lanjutkan membaca “Kenapa hakekat.com Menghina Sahabat Nabi?”

Sebaiknya Wanita Bersikap Sombong, Penakut, dan Kikir. Mengapa?

Nahjul Balaghah adalah sebuah kitab yang berisi khotbah dan kalimat hikmah Ali bin Abi Thalib. Secara bahasa, Nahjul Balaghah berarti “puncak kefasihan”. Tak heran banyak kata-kata yang diucapkan oleh amirulmukminin dalam kitab itu yang sulit dipahami orang awam. Salah satu ucapan Imam Ali berkenaan dengan wanita adalah, “Sebaik-baik perangai wanita adalah seburuk-buruk perangai pria; seperti sikap sombong, penakut, dan kikir.”

Lanjutkan membaca “Sebaiknya Wanita Bersikap Sombong, Penakut, dan Kikir. Mengapa?”

Kitab Ibnu Qutaibah dan Kutukan Imam Ali

Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Al-Dinawari atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Qutaibah adalah ulama ilmu Quran dan hadis masyhur ahlusunah. Pada bagian akhir salah satu karyanya yang berjudul Kitâb Al-Ma’ârif, terdapat bab berjudul “Al-Barash“. Bab tersebut memuat daftar orang-orang terkenal yang pernah terkena penyakit leprosy [lepra/kusta] atau leukoderma selama masa hidupnya. Barisan pertama dari penderita penyakit tersebut adalah Anas bin Malik, seorang sahabat Nabi saw. Lanjutkan membaca “Kitab Ibnu Qutaibah dan Kutukan Imam Ali”

Bukan Lukisan Nabi Muhammad

Pertama perlu dipertegas dan diperjelas tentang berita yang beredar di media massa. Kebanyak media massa menulis berita dengan judul “Pin Nabi Muhammad”, “Pin Wajah Nabi Muhammad”, atau “Pin Bergambar Nabi Muhammad”. Jelas judul seperti itu sudah salah karena faktanya itu bukan wajah Nabi Muhammad saw. Kedua, berita juga menyebutkan:

Tulisan Muhammad Rasulullah berhuruf besar. Hampir sepuluh kali lebih besar dibandingkan tulisan Sallallahu Alaihi Wa Alihi wa Sallam (cara penyebutan penganut Syiah terhadap Rasulullah saw.).

Lanjutkan membaca “Bukan Lukisan Nabi Muhammad”

“Masih Juga Mencintai Ali?” – Kasus Hukum Potong Tangan

Seseorang pecinta Amirul Mukminin Ali telah melakukan kesalahan dan harus menerima hukuman. Imam Ali as menjalankan hukuman dengan memotong jari-jari tangan kanannya. Setelah menerima hukuman itu, lelaki itu pun segera pergi sambil membawa jari-jarinya yang telah terputus di tangan kirinya sementara darah terus menetes ke tanah.

Di tengah jalan, dia bertemu dengan Ibnul Kawwa, seseorang dari Khawarij dan pembenci Imam Ali as. Dia ingin memanfaatkan situasi itu agar lelaki tersebut membenci Ali. Dengan wajah penuh kasih sayang dan berpura-pura simpati ia bertanya, “Siapa yang telah memotong jarimu?”

Lanjutkan membaca ““Masih Juga Mencintai Ali?” – Kasus Hukum Potong Tangan”

Istri Tepat, Anak Pemberani

Tidak dipungkiri bahwa untuk melahirkan anak yang saleh sekaligus pemberani ada beberapa hal yang mempengaruhinya. Pertama, kepribadian ibu dan pendidikan terhadap anak tersebut. Kedua, sebelum semua itu dilakukan, pemilihan yang tepat terhadap calon istri juga diperlukan. Karenanya, penting untuk meminta bantuan kepada orang yang sudah pengalaman. Begitulah yang telah dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib a.s.

Beberapa tahun setelah wafatnya Sayidah Fatimah putri nabi saw., Imam Ali meminta bantuan kepada kakaknya, Aqil, untuk mencarikan calon istri dari keluarga yang pemberani dan kuat. Aqil pun mengusulkan nama Fatimah binti Hizam dari Bani Kilab. Imam setuju dan darinya beliau memiliki empat anak laki-laki, karenanya Fatimah mendapat julukan Ummul Banîn, ibu anak-anak lelaki.
Lanjutkan membaca “Istri Tepat, Anak Pemberani”