Dilema Suni-Syiah (17): Sejarah Periwayatan Hadis

Raya Shokatfard, wanita kelahiran tahun 1949, sudah menyusuri sejarah panjang suni dan Syiah. Mengapa semua itu dia lakukan? Alasan pertama adalah keinginan untuk mengenal para imam keturunan nabi. Raya merasakan daya tarik untuk mengenal kehidupan dan ajaran mereka. Terutama, pesan nabi dalam hadis sahih yang menjelaskan betapa pentingnya mereka. Alasan kedua, Raya ingin memperjelas banyak isu kontroversial yang mengganjal hubungan suni-Syiah. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (17): Sejarah Periwayatan Hadis”

Dilema Suni-Syiah (16): Setelah Wafatnya Nabi

Setelah bertemu dengan ulama Syiah, Raya Shokatfard kembali ke rumah singgahnya. Di kamar, dia duduk termenung cukup lama—memikirkan bahwa dirinya seolah sedang melakukan perjalanan melintasi zaman serta merenungi sejarah agama ini. Bagaimana mungkin agama besar ini memiliki konflik berkepanjangan di antara pengikutnya?

Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (16): Setelah Wafatnya Nabi”

Dilema Suni-Syiah (14): Berdoa di Makam

Raya Shokatfard kembali tiba di Iran. Tidak lagi menuju rumah pamannya di Tehran, Raya justru langsung menuju Qom dan menyewa persinggahan kecil dekat makam Sayidah Fatimah Al-Masumah. Sayidah Masumah adalah saudari Imam Ridha, imam kedelapan, yang diyakini wafat di Iran ketika akan mengunjungi saudaranya. Dia dipandang sebagai wanita suci dan setiap tahun ribuan orang menziarahi dan berdoa di makamnya—sesuatu yang Raya tidak setujui! Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (14): Berdoa di Makam”

Dilema Suni-Syiah (12): Tuduhan di Malaysia

Penelitian suni-Syiah yang dilakukan Raya Shokatfard mengantarkannya pada Malaysia yang kini menjadi rumah berikutnya. Selama bertahun-tahun, Raya berusaha meyakinkan putranya untuk meninggalkan Amerika Serikat menuju Mesir. Beberapa kali kunjungan ke sana membuat putranya tak menyukai Mesir. Berulang kali pula putranya mengatakan pada Raya kalau dia tidak menyukai orang Arab. Tapi, kenapa? Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (12): Tuduhan di Malaysia”

Dilema Suni-Syiah (11): Propaganda Anti-Syiah

Sejumlah ulama ahlusunah telah menunggu Raya Shokatfard di Jordanian University. Mereka siap menjawab seluruh pertanyaan. Para ulama mengatakan ada sebuah sekte yang disebut Ghurabiah. Ghurab dalam Bahasa Arab berarti burung gagak. Mereka percaya jiwa Nabi Muhammad saw. dan Ali serupa, bagaikan dua burung gagak yang tak dapat dibedakan satu sama lain. Malaikat Jibril keliru dan alih-alih menyampaikan wahyu kepada Ali, ia menyampaikannya kepada Muhammad. Karenanya, setiap kali selesai salat mereka akan mengutuk malaikat Jibril. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (11): Propaganda Anti-Syiah”

Dilema Suni-Syiah (10): Memulai Penelitian

Tak hanya mempelajari media massa dan jurnalisme di Mesir, Raya Shokatfard juga mempelajari perihal televisi dan produksi dokumenter. Raya merasa harus mempelajari semua media dan alat. Raya memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk membuat film dan mendapatkan bantuan universitas dengan suntingan dan alat-alat lainnya. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (10): Memulai Penelitian”

Dilema Suni-Syiah (9): Kehidupan di Mesir

Dukungan warga Amerika Serikat kepada Raya Shokatfard, wanita asal Iran, untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi semakin besar. Mereka juga mendukung Raya untuk mencari media yang tepat dalam melawan stereotip terhadap Islam. Hanya ada satu cara. Raya harus menyelam ke dalam pendidikan media dan mempraktikkannya. Raya berhasil mendapatkan gelar sarjana dalam bidang jurnalisme dan media massa dari sebuah universitas Amerika Serikat. Dilanjutkan dengan pencarian gelar master dari The American University di Kairo. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (9): Kehidupan di Mesir”