Dalam Dekapan Sahih Bukhari

Telaga itu luas, sebentang Ailah di Syam hingga Sana’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insân! Silakan mendekat, silakan minum!” Lanjutkan membaca “Dalam Dekapan Sahih Bukhari”

Tarikan Nafas Ibu

Kematian merupakan tema yang sulit untuk dibicarakan apalagi jika berkaitan dengan ibu. Rasulullah saw. pernah menggambarkan bahwa satu tarikan nafas ibu tidak bisa terbalas oleh kebaikan seseorang. Itu sebabnya cinta ibu tidak dapat dinamai cinta karena cinta itu bisa layu sedang cinta ibu tidak pernah layu. Pengorbanannya pun tidak bisa dinamai pengorbanan, karena pengorbanan itu terselip dicelanya rasa sakit. Tetapi ibu, ketika berkorban untuk anaknya, begitu dia memandang mata anaknya maka tidak lagi dia merasa sakit.

Jangan duga hanya anak kecil yang menangis ditinggal ibunya. Orang dewasa, bahkan Rasulullah saw. pun menangis ditinggal ibunya. Di dalam suatu riwayat dikatakan bahwa satu ketika Rasulullah bersama sekian sahabat melalui tempat dikuburkan ibunya, dekat Madinah, di Abwa. Ketika beliau singgah para sahabat menjauh. Tiba-tiba terdengar suara tangis yang keras. Sayidina Umar yang mendengar itu takut. Ada apa nabi menangis? Setelah kembali beliau berkata kepada Umar, “Tangisku menakutkan engkau?” “Benar, wahai nabi.” Beliau saw. lantas menjawab, “Saya mengenang ibu.”
Lanjutkan membaca “Tarikan Nafas Ibu”

Bunda Maria dan Bunda Fatimah

Beberapa tahun yang lalu saya menyaksikan film Saint Mary. Film produksi Iran ini mencoba untuk menampilkan sosok suci ibunda Yesus dari sudut pandang Alquran dan riwayat lain. Islam memposisikan Bunda Maria dan keluarganya dalam tempat tinggi, sebagaimana dicerminkan dalam Alquran yang memiliki dua surah bernama Keluarga Imran (Joachim) dan Mariam.

Memperhatikan kisah dalam kehidupan Bunda Maria mengingatkan saya dengan sosok wanita suci lain dalam Islam, Fatimah putri Muhammad saw. Dua wanita suci ini hidup dalam kondisi sosial yang hampir serupa. Namun karena kedudukannya yang tinggi di mata Tuhan, membuat dua wanita ini dimuliakan dan diperlakukan secara khusus.
Lanjutkan membaca “Bunda Maria dan Bunda Fatimah”

Kedudukan Wanita Menurut Ahlulbait

Dalam acara Muthârahât fil Aqîdah di stasiun televisi Al-Kawthar, Ayatullah Kamal Al-Haidari mendapatkan pertanyaan tentang kedudukan wanita dalam Islam menurut mazhab ahlulbait. Beliau memberikan penjelasan yang—bagi saya—melampaui (beyond) dari apa yang selama ini biasa kita dengar. Selamat merenungkannya, semoga bermanfaat.

“Saya tidak bisa berbicara terlalu banyak tentang topik ini karena di luar dari tema acara. Pertama, kita harus membedakan antara hukum-hukum fikih dengan kedudukan wanita. Hukum-hukum fikih tidak menandakan keunggulan pria jika dibandingkan dengan wanita. Artinya bahwa hal tersebut tidak menandakan bahwa pria lebih utama dari pada wanita dalam hal kemuliaan, kesempurnaan, ketakwaan, dan seterusnya.
Lanjutkan membaca “Kedudukan Wanita Menurut Ahlulbait”

Dialog Ulama dengan Si Cerdik

Cerita ini terjadi beberapa abad yang lalu. Bermula dari pertemuan seorang ulama muslim dengan seorang kafir, yang kemudian berlanjut dengan dialog yang perlu kita renungkan. Sebagaimana yang kita ketahui, dalam sejarah Islam terdapat beberapa aliran sejak zaman dahulu hingga sekarang. Salah satu dari perbedaan itu adalah bagaimana cara seorang muslim sejati menilai suatu “kebaikan” dan “keburukan”. Perbedaan itu sebenarnya menyangkut masalah fundamental keislaman. Kubu Imam Ali bin Abi Thalib dan Khawarij merupakan sumber utama perbedaan itu. Dari kedua kubu itulah kemudian menyusup masuk ke dalam golongan-golongan lain, yang walaupun tidak memakai nama golongan keduanya: pengikut ahlulbait dan Khawarij.

Lanjutkan membaca “Dialog Ulama dengan Si Cerdik”

Wanita dan Surga dalam Islam

Oleh: Imran N. Hosein

Revolusi feminisme sekuler bangkit di dunia dari Barat dengan agenda utama untuk membebaskan wanita dari “belenggu” zaman yang secara total mengubah status, peran dan fungsinya dalam masyarakat. Hal tersebut membalikkan pesan suci dan religius masa lalu sedemikian rupa sehingga matahari saat ini seolah terbit dari barat.

Sekularisme mengarah pada materialisme yang akhirnya menolak realitas wanita selain realitas materialnya, fisiknya. Konsekuensinya, wanita muda yang cantik menjadi dewi zaman ini. Tapi dia menjadi dewi yang tidak malu untuk dieskploitasi dalam iklan untuk menjual apapun. Dia menjadi sesuatu yang dinikmati, dieksploitasi, dilecehkan, direndahkan dan dibuang ketika kecantikan fisik dan daya tarik seksualnya mulai berkurang. Lalu sejumlah anak sekolah akan berlomba-lomba menggantikannya.
Lanjutkan membaca “Wanita dan Surga dalam Islam”

Kenapa hakekat.com Menghina Sahabat Nabi?

Lama tidak berkunjung ke situs hakekat.com, saya mendapat kejutan dari salah satu artikelnya yang berjudul “Imam Maksum Shalat Sambil Mabok?” Dari judulnya, saya bisa pahami bahwa tujuannya adalah menjatuhkan derajat imam ahlulbait yang menurut mazhab Syiah adalah maksum. Menurut Syiah, para nabi sebagai pengemban risalah Allah Swt. dan para imam ahlulbait sebagai penjaganya haruslah terhindar dari kesalahan.

Hal ini berbeda dengan pendapat ahlusunah yang menganggap nabi dan imam ahlulbait tidak terlepas dari melakukan kesalahan. Pendapat ini terkesan menjadi paradoks ketika seringkali situs hakekat.com membela mati-matian sahabat nabi yang seluruhnya adil dan nyaris tanpa cacat. Dikatakan bahwa mereka yang mencela sahabat bisa menjadi kafir. Tapi justru, situs hakekat.com terang-terangan mencela sahabat nabi.
Lanjutkan membaca “Kenapa hakekat.com Menghina Sahabat Nabi?”

Akal dan Hati, Bukan Perasaan

Beberapa hari terakhir, saya sempat terlibat “perang dingin” mengenai keunggulan antara akal dan hati. Saya sempat menulis update status: “Menurut Alquran akal adalah hujah dan menurut akal Alquran adalah hujah”. Perang semakin memuncak ketika saya menulis tentang keyakinan saya bahwa agama ini menjunjung tinggi akal. Tentu bukan sembarang akal, tapi akal yang sudah menjalani alur pikir yang benar.

Di sisi lain, pihak kontra meyakini bahwa hati adalah penentu benar atau salah. Sebenarnya saya juga meyakini hati adalah penentu kebenaran, apalagi jika dikaitkan dengan tema sufistik. Tapi ketidaksetujuan muncul ketika hati (yang memiliki tujuh lapisan ini) disamakan dengan perasaan (emosi). Ini sebabnya, saya kutip potongan artikel berikut yang saya tulis tahun 2006:

Lanjutkan membaca “Akal dan Hati, Bukan Perasaan”

Mereka Mengatakan Nabi Tersihir

Selama KKN di Indramayu, kami “diasuh” oleh seorang tokoh masyarakat yang banyak bercerita tentang hal mistik, santet, sihir dan semacamnya. Sampai dia berkata suatu hari titisan Nyi Roro Kidul, di hari lain dia titisan Sunan Gunung Jati, di hari lain dia “kemasukkan” Jaka Tarub yang menjaganya. Dia juga mengatakan sebagai titisan ratu alam yang dunia tunduk padanya.

Di sana dia bisa dibilang sebagai “penangkal” orang-orang yang kena tumbal santet. Tiap malam Jumat dia mengatakan harus melakukan sesajen di ruang khusus di rumahnya. Saya hanya khawatir beliau terjerumus jauh hingga menjadi seperti Lia Eden. Ada beberapa teman yang mungkin saja percaya dengan semua ceritanya. Tapi saya tidak!

Lanjutkan membaca “Mereka Mengatakan Nabi Tersihir”