Ternyata, Tata Cara Salat Syiah dan Suni Sama Saja!

Pada tahun 1982, Ahmed Deedat datang ke Iran. Kristolog terkenal itu diundang dalam acara ulang tahun revolusi Islam Iran yang ketiga. Pulang dari sana, Deedat banyak bercerita. Cerita tentang pentingnya belajar dari negara Iran. Negara yang rakyatnya baru berjuang meruntuhkan sebuah kekaisaran berusia ribuan tahun ūüŹį Belum tuntas perjuangan, digempur lagi oleh serangan Irak. Tapi mereka berhasil bangkit ūüí™ūüŹľ

Lanjutkan membaca “Ternyata, Tata Cara Salat Syiah dan Suni Sama Saja!”

Dilema Suni-Syiah (4): Kedudukan Para Imam

Para ulama Syiah meminta Raya membaca hadis dan sejarah untuk memahami betapa pentingnya kedudukan para imam ahlulbait. Raya mulai yakin bahwa mereka merupakan pribadi-pribadi yang suci dan penting. Tapi sampai di mana batasannya? Ada sebuah hadis sahih dari nabi yang membuat Raya terkejut mengenai kedudukan para imam. Hadis yang sebenarnya sudah pernah Raya dengar sebelum datang ke Iran, yaitu hadis tsaqalain atau dua pusaka. Lanjutkan membaca “Dilema Suni-Syiah (4): Kedudukan Para Imam”

Sudahkah Membayar Upah Rasulullah?

Demi¬†mengenang wafatnya lima orang saleh, sekelompok masyarakat membangun patung-patung mereka untuk dijadikan sebagai monumen peringatan dan penghormatan. Setelah¬†beberapa generasi berlalu, muncullah dongeng dan khurafat yang menjadikan patung-patung itu sebagai berhala. Nuh a.s. hadir dan membuat revolusi pemikiran untuk membersihkan akal manusia dari penyembahan selain kepada Tuhan yang Mahaesa. Lanjutkan membaca “Sudahkah Membayar Upah Rasulullah?”

Bukti Cinta Nabi untuk Umat Manusia

Di¬†sebuah peperangan,¬†Nabi Muhammad saw. terluka parah hingga mengeluarkan darah. Beliau berusaha menahan darahnya yang terus keluar sambil berkata, “Aku khawatir jika setetes saja darah ini tertumpah di atas bumi, Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka.” Beliau ingin menahan azab meskipun wajahnya dipukul; padahal itulah wajah yang paling mulia.¬†Tidak ada yang lebih mulia dari Allah. Namun demikian, perhatikanlah reaksi beliau.¬† Lanjutkan membaca “Bukti Cinta Nabi untuk Umat Manusia”

Sahabat Nabi Terpilih Berada di Karbala

Sebenarnya, anggapan bahwa Syiah memusuhi sahabat nabi saw. sulit diterima oleh kenyataan dan akal sehat. Jumlah sahabat nabi yang begitu banyak tidak bisa dijadikan sandaran tuduhan terhadap Syiah. Sebut saja nama-nama seperti Salman dan Abu Dzar r.a. di antara sahabat nabi yang begitu dihormati oleh pengikut Syiah. Bukankah juga Ali bin Abi Thalib dan Husain bin Ali, yang meskipun mereka bagian dari keluarga dan tidak bisa disamakan dengan sahabat lain, dalam definisi umum tetap dianggap sebagai sahabat? Begitu juga dengan sejarah yang merekam bahwa di antara sahabat nabi ada turut berjuang di medan¬†Karbala. Lanjutkan membaca “Sahabat Nabi Terpilih Berada di Karbala”

Etika Mengumpulkan Harta

Berikut ini merupakan kutipan dari makalah mata kuliah Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi yang disusun bersama Abdul Badruddin, Hasanudin, dan Khairunnisa pada tahun 2008. Saya menemukan (kembali) makalah ini dan merasa sayang kalau tidak dibagikan di blog ini. Semoga bermanfaat!

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka kabarkan kepada mereka tentang azab yang pedih

Ayat ke-30 dan ke-31 surah At-Taubah menceritakan tentang sikap kebanyakan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan para alim mereka sebagai tuhan selain Allah. Sementara ayat ke-34 di atas menceritakan bahwa selain mereka tidak pantas menjadi tuhan, mereka juga tidak pantas menjadi pemimpin. Banyak dari mereka yang menyembunyikan bukti-bukti ajaran Musa dan Yesus a.s. demi menjauhkan pengikut sejati dari jalan Allah.
Lanjutkan membaca “Etika Mengumpulkan Harta”

Tarikan Nafas Ibu

Kematian merupakan tema yang sulit untuk dibicarakan apalagi jika berkaitan dengan ibu. Rasulullah saw. pernah menggambarkan bahwa satu tarikan nafas ibu tidak bisa terbalas oleh kebaikan seseorang. Itu sebabnya cinta ibu tidak dapat dinamai cinta karena cinta itu bisa layu sedang cinta ibu tidak pernah layu. Pengorbanannya pun tidak bisa dinamai pengorbanan, karena pengorbanan itu terselip dicelanya rasa sakit. Tetapi ibu, ketika berkorban untuk anaknya, begitu dia memandang mata anaknya maka tidak lagi dia merasa sakit.

Jangan duga hanya anak kecil yang menangis ditinggal ibunya. Orang dewasa, bahkan Rasulullah saw. pun menangis ditinggal ibunya. Di dalam suatu riwayat dikatakan bahwa satu ketika Rasulullah bersama sekian sahabat melalui tempat dikuburkan ibunya, dekat Madinah, di Abwa. Ketika beliau singgah para sahabat menjauh. Tiba-tiba terdengar suara tangis yang keras. Sayidina Umar yang mendengar itu takut. Ada apa nabi menangis? Setelah kembali beliau berkata kepada Umar, “Tangisku menakutkan engkau?” “Benar, wahai nabi.” Beliau saw. lantas menjawab, “Saya mengenang ibu.”
Lanjutkan membaca “Tarikan Nafas Ibu”

Maulid Nabi, Poros Persatuan Suni-Syiah

Strategi untuk menghadapi kemajemukan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah dengan silaturahmi dan saling menghormati. Itulah pesan Dr. Perwira, S.H., M.H., M.Si dalam seminar internasional memperingati bulan maulid yang diadakan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dan Majelis Ukhuwah Syiah-Sunni (MUHSIN). Hadir mewakili Menko Polhukam, dia yakin bahwa dengan cara tersebut, tidak ada kelompok, baik itu agama atau ras, yang akan merasa lebih tinggi dari kelompok lain.

Dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah, peringatan maulid ini juga dihadiri oleh muslim ahlusunah asal Iran. Melalui seminar dan peringatan maulid tersebut, Dr. Perwira menegaskan bahwa negara menjamin kebebasan sekaligus mengharapkan kontribusi dari seluruh pihak kepada negara dengan cara meniru sifat yang dimiliki oleh Rasulullah saw.
Lanjutkan membaca “Maulid Nabi, Poros Persatuan Suni-Syiah”

Kata “Ahlulbait” dalam Alquran

Ada seseorang yang kerap kali berkunjung ke blog ini (serta blog lainnya) dan konsisten dalam berkomentar tentang topik yang sama. Sesekali dia datang dan kembali meng-copy-paste hipotesisnya. Orang itu beranggapan bahwa konflik suni-Syiah disebabkan perebutan tahta ahlulbait. Dia juga mengatakan bahwa ahlulbait (dan keturunan nabi) sudah tidak ada, sehingga sepantasnya tidak perlu ada lagi konflik suni-Syiah.

Dia mungkin mencoba untuk menyederhanakan masalah. Sangat mungkin dia akan kembali lagi ke blog ini dan mengulang hipotesisnya. Saya jadi berpikir, kalau ahlulbait sudah tidak ada, mengapa nabi saw. mewasiatkan umatnya untuk berpegang teguh pada Alquran dan ‘itrah, ahlulbait (HR. Muslim)? Kalau Alquran suci, bagaimana mungkin dipadankan dengan yang tidak suci? Kalau Alquran kekal dan menjadi petunjuk hingga saat ini, bagaimana pantas dipadankan dengan sesuatu yang sudah tidak ada? Berikut ini sekelumit penjelasan tentang kata “ahlulbait” dalam Alquran yang saya kutip dari A Shi’ite Encyclopedia.
Lanjutkan membaca “Kata “Ahlulbait” dalam Alquran”