Etika Mengumpulkan Harta

Berikut ini merupakan kutipan dari makalah mata kuliah Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi yang disusun bersama Abdul Badruddin, Hasanudin, dan Khairunnisa pada tahun 2008. Saya menemukan (kembali) makalah ini dan merasa sayang kalau tidak dibagikan di blog ini. Semoga bermanfaat!

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka kabarkan kepada mereka tentang azab yang pedih

Ayat ke-30 dan ke-31 surah At-Taubah menceritakan tentang sikap kebanyakan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan para alim mereka sebagai tuhan selain Allah. Sementara ayat ke-34 di atas menceritakan bahwa selain mereka tidak pantas menjadi tuhan, mereka juga tidak pantas menjadi pemimpin. Banyak dari mereka yang menyembunyikan bukti-bukti ajaran Musa dan Yesus a.s. demi menjauhkan pengikut sejati dari jalan Allah.
Lanjutkan membaca “Etika Mengumpulkan Harta”

Antara Istri Nabi dan Istri Firaun

Di beberapa tempat dalam Alquran, Allah Swt. sering kali menggunakan perumpamaan dalam menjelaskan maksud dari firman-Nya. Tamtsîl atau perumpamaan adalah memberikan kedudukan sesuatu bagi sesuatu yang lain, melalui jalan penyerupaan, pengkiasan, majâz, atau lainnya. Salah satu tujuannya adalah agar manusia berpikir dan dapat menjadikannya sebagai pelajaran (Q.S. al-Hasyr: 21).

Perumpamaan Alquran mecakup penjelasan tentang perbedaan ganjaran dan balasan, pujian dan celaan, pahala dan siksaan, meninggikan dan merendahkan perkara, dan membenarkan dan membatilkan perkara. Di antara ayat perumpamaan tersebut dapat kita temukan dalam surah at-Tahrim yang memberikan contoh tentang perempuan dari dua sisi. Berikut ini sedikit penjelasan yang saya rangkum dari buku al-Amtsâl fil Qurân karya Syekh Jafar Subhani yang diterjemahkan oleh Muhammad Ilyas.
Lanjutkan membaca “Antara Istri Nabi dan Istri Firaun”

Kenapa hakekat.com Menghina Sahabat Nabi?

Lama tidak berkunjung ke situs hakekat.com, saya mendapat kejutan dari salah satu artikelnya yang berjudul “Imam Maksum Shalat Sambil Mabok?” Dari judulnya, saya bisa pahami bahwa tujuannya adalah menjatuhkan derajat imam ahlulbait yang menurut mazhab Syiah adalah maksum. Menurut Syiah, para nabi sebagai pengemban risalah Allah Swt. dan para imam ahlulbait sebagai penjaganya haruslah terhindar dari kesalahan.

Hal ini berbeda dengan pendapat ahlusunah yang menganggap nabi dan imam ahlulbait tidak terlepas dari melakukan kesalahan. Pendapat ini terkesan menjadi paradoks ketika seringkali situs hakekat.com membela mati-matian sahabat nabi yang seluruhnya adil dan nyaris tanpa cacat. Dikatakan bahwa mereka yang mencela sahabat bisa menjadi kafir. Tapi justru, situs hakekat.com terang-terangan mencela sahabat nabi.
Lanjutkan membaca “Kenapa hakekat.com Menghina Sahabat Nabi?”

Penghapusan Keutamaan Ahlulbait dalam Tafsir Alquran

Abdullah Yusuf Ali dikenal sebagai seorang penerjemah dan juru ulas Quran ahlusunah. Terjemahan dan ulasannya sangat terkenal di dunia Islam dan Barat serta di manapun bahasa Inggris dibaca dan dipahami. Sebuah perbandingan dari catatan penjelasan antara versi lama dan versi baru yang “direvisi” menunjukkan berbagai perbedaan. Edisi “revisi” tersebut telah menghapus penghormatan terhadap Imam Hasan dan Husain as., yang merupakan cucu Nabi Muhammad saw. dan anggota ahlulbait. Selain itu, beberapa perubahan menarik juga telah terjadi! (Teks berwarna merah berasal dari pemilik blog, Ali Reza)

Lanjutkan membaca “Penghapusan Keutamaan Ahlulbait dalam Tafsir Alquran”

Problematika Penyeru Kebaikan

Saya telah melakukan maksiat besar dalam dunia perblogan: tidak menulis! Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tapi selalu enggak jadi karena teringat seorang ustaz yang “mengeluh” saat mengajar tafsir. Mengeluh dalam arti sadar diri sewaktu membahas ayat yang sederhana tapi mencekam, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. 61: 3)

Beberapa kali blog ini menulis tentang hal-hal yang mungkin baik. Tapi tetap saja, suatu hal atau perilaku hanya menjadi baik kalau sudah dikerjakan. Menolong, berbakti pada orang tua, sedekah, rajin menabung memang baik, tapi menjadi tinggal kenangan kalau hanya diceritakan tapi tidak dikerjakan. Karena pikiran seperti ini terus ada, saya sempat berniat untuk pensiun ngeblog.

Lanjutkan membaca “Problematika Penyeru Kebaikan”

Quraish Shihab: Orang Awam Tidak Punya Mazhab

Imam Ali pernah berkata, “Bacalah Alquran dan ajaklah bicara.” Bagaimana pandangan Anda?

Itulah yang oleh Muhammad Baqir al-Shadr dijadikan dasar bagi terciptanya metode mawdhu’i atau tawhidi. Anda punya problem, jangan cari solusi ke mana-mana, tetapi cari dan bukalah Alquran. Itu namanya “istintaq bil-quran”. Nanti, Alquran yang akan menjelaskan. Tapi, harus digarisbawahi bahwa penjelasan itu menurut versi dia (si pembaca).

Ini berarti ruang eksplorasi dalam tafsir lebih luas daripada fikih?

Kalau kita bicara Islam, sumber rujukannya adalah Alquran. Semua ilmu keislaman pun lahir dari Alquran. Mulai dari nahwu, sharaf, kalam, fikih, balâghah, dan lain-lain. Sehingga semua orang, bahkan yang non-muslim, yang ingin bicara tentang Islam pasti merujuk ke Alquran. Alquran tidak menjadi sekat. Alquran, yang perlu kita ketahui bersama, hanya akan menjadi sekat apabila pandangan kita picik, seperti ungkapan, “Lihat ini, Alquran berkata ini, yang lainnya tidak.” Tapi, bila pandangan kita luas, kita akan mengatakan bahwa yang berbeda-beda dengan kita pun mempunyai dalil.

Lanjutkan membaca “Quraish Shihab: Orang Awam Tidak Punya Mazhab”

Tafsiran Quranmu Berbeda dengan Tafsiran Allah

Musuh Islam selalu berusaha mencari celah-celah kesalahan dalam Alquran, lalu mengatakan bahwa ayat-ayat Alquran saling berlawanan satu sama lain. Secara lahiriah memang kita temukan beberapa ayat yang terkesan saling berlawanan. Misalnya ayat-ayat yang dibawa kelompok Jabariah dan Qadariah. Tapi sebenarnya ia tidak berlawanan. Lanjutkan membaca “Tafsiran Quranmu Berbeda dengan Tafsiran Allah”

Ketika Wahabi Berdakwah tentang Syiah

laman

Situs Alquran yang beralamat di http://quran.al-islam.com dan ditangani oleh pemerintah Arab Saudi yang bermazhab Wahabi, ikut tablig menyebarkan ajaran Syiah.

Entah disadari atau tidak oleh Wahabi, dalam situs tersebut, terdapat tafsir surah Al-Bayyinah ayat 7, yang menafsirkan bahwa sebaik-baik manusia adalah Ali as. dan pengikutnya.

Lanjutkan membaca “Ketika Wahabi Berdakwah tentang Syiah”

Hemat Wudu Mazhab Ahlulbait

Masjid di kampus saya dulu—masjid besar di tengah universitas Islam yang masih berada di daerah ibu kota—kerap kali tidak mengeluarkan air. Dari belasan keran air yang tersedia, sering kali hanya satu keran yang mengeluarkan air. Bahkan kadang dengan aliran yang kecil. Sebagian mahasiswa mencari tempat lain; ke masjid luar kampus atau kembali ke fakultas. Tapi banyak yang rela mengantri. Lanjutkan membaca “Hemat Wudu Mazhab Ahlulbait”