Asyura dan Karakter Islam Nusantara

Oleh: Ahmad Baso

Salah satu kekuatan tradisi Syiah maupun Suni di Nusantara adalah kemampuannya membentuk Islam berkarakter moderat, toleran dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Seperti ditunjukkan pada kemunculan kesultanan Islam pertama di Indonesia, Pasai, yang berkultur Syiah, hingga kehadiran Walisongo di Jawa. Tidak berlebihan kalau Abdurrahman Wahid dalam satu tulisannya di Warta NU (1995) menyebut penyebaran Islam di Nusantara dimungkinkan karena Islam Sunni di Jawa lebih berkarakter “Syiah kultural”. Mengapa demikian?

Karena wajah yang seperti itulah yang menjadikan Islam begitu mudah diterima oleh berbagai etnis yang ada di Nusantara. Hal ini terjadi karena ada kesesuaian antara agama baru (Islam) dengan kepercayaan lama mereka. Setidaknya kehadiran Islam tidak mengusik kepercayaan lama, tetapi sebaliknya kepercayaan tersebut diapresiasi dan kemudian diintegrasikan ke dalam doktrin dan budaya Islam. Karena kemampuan berdialog dan melakukan tawar-menawar dengan kebudayaan setempat itulah yang menyebabkan agama Islam secara umum bisa berkembang dengan pesat tanpa menemukan benturan yang berarti dengan kepercayaan, tradisi dan budaya yang ditemui.

Baca entri selengkapnya »

Tahukah Anda, Pada Tahun 685 Telah Terjadi Hujan Darah?

Oleh: Hajis Hala dan Zaynab

Pahlawan wanita Karbala, Sayidah Zainab (putri Ali bin Abi Thalib) diriwayatkan telah berkata, setelah pembantaian saudaranya, Imam Husain as.

“Wahai penduduk Kufah! Wahai para pendusta! Kalian pengkhianat! Kalian pendosa! Sekarang kalian menangis? Semoga Allah tidak pernah mengurangi aliran air mata dan semoga hati-hati kalian terbakar selamanya dengan kesedihan dan penderitaan!

Janji palsu kalian tidak mengandung kebenaran dan ketulusan hati. Sekarang kalian nampak memalukan dan sama sekali tidak memiliki moral yang baik bagaikan budak wanita yang keji dan hina. Sekarang kalian menangisi saudaraku dan meratapi setelah kepergiannya?

Baca entri selengkapnya »

Bani Umayyah versus Bani Hasyim

Dengan nama Tuhan yang Tinggi, Pembeda antara Haq dan Bâthil

Dengan referensi terbatas, saya berusaha mengisahkan tentang dua klan Quraisy ini. Dua klan yang mewakili dua sisi yang berbeda. Jangan mengira bahwa masalah ini hanya masalah keturunan. Karena bagaimana pun juga Nabi Muhammad berasal dari salah satu klan, Bani Hasyim.

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab berasal dari kaum Quraisy yang merupakan keturunan langsung Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail. Selain Hasyim, Abdu Manaf memiliki tiga putera lainnya; Muthalib, Naufal dan Abdu Syams.

Saat berdagang, Hasyim meninggal dunia. Putranya ditinggalkan bersama kafilah. Muthalib, saudara lelaki Hasyim, pergi menjemput putra mendiang saudara lelakinya itu dan membawanya tinggal bersama anak-anaknya sendiri. Kemudian putra Hasyim ini dikenal dengan nama Abdul Muthalib.

Baca entri selengkapnya »