Saya tidak ingin melewatkan kesempatan jika teman-teman mahasiswa Iran mengadakan tur ke tempat bersejarah. Alasan klise pertama, karena kesempatan itu belum tentu datang dua kali. Tidak lama berada di negeri para mullah, saya juga ingin menginjakkan kaki di sedikit sudut negeri Persia; tidak hanya kelas dan asrama. Alasan penting kedua tentu karena biayanya jauh lebih murah jika harus berangkat sendiri. Jika ingin dicari kekurangannya, maka ia adalah tidak ditemukannya tantangan dan kesulitan dalam perjalanan.
Hari ini (29/3) bersama empat puluh mahasiswa lain dari sedikitnya lima negara, kami berangkat menuju ke sedikit lebih utara bagian Iran. Pukul 7.30, bus yang mengantarkan kami bergerak dari kota Qazvin. Qazvin sendiri sebenarnya sebuah kota yang sudah berada di bagian utara Iran. Namun karena letaknya yang tertutup oleh barisan pergunungan Alborz, membuat angin laut dari utara Iran tidak sampai untuk membuat udara Qazvin lebih lembab. Sehingga selama perjalanan di jalan bebas hambatan Qazvin-Rasht, yang terlihat hanyalah perbukitan kering berpasir.
Continue reading