1

Hawa Indonesia di Utara Iran

Saya tidak ingin melewatkan kesempatan jika teman-teman mahasiswa Iran mengadakan tur ke tempat bersejarah. Alasan klise pertama, karena kesempatan itu belum tentu datang dua kali. Tidak lama berada di negeri para mullah, saya juga ingin menginjakkan kaki di sedikit sudut negeri Persia; tidak hanya kelas dan asrama. Alasan penting kedua tentu karena biayanya jauh lebih murah jika harus berangkat sendiri. Jika ingin dicari kekurangannya, maka ia adalah tidak ditemukannya tantangan dan kesulitan dalam perjalanan.

Hari ini (29/3) bersama empat puluh mahasiswa lain dari sedikitnya lima negara, kami berangkat menuju ke sedikit lebih utara bagian Iran. Pukul 7.30, bus yang mengantarkan kami bergerak dari kota Qazvin. Qazvin sendiri sebenarnya sebuah kota yang sudah berada di bagian utara Iran. Namun karena letaknya yang tertutup oleh barisan pergunungan Alborz, membuat angin laut dari utara Iran tidak sampai untuk membuat udara Qazvin lebih lembab. Sehingga selama perjalanan di jalan bebas hambatan Qazvin-Rasht, yang terlihat hanyalah perbukitan kering berpasir.
Continue reading

5

Syahrbanu, Iran, dan Islam

Tulisan Saudara Jumal Ahmad[1] yang mengangkat tema pernikahan Imam Husain dengan seorang putri raja Persia menarik perhatian saya. Meski menggabungkan tema tersebut dengan beberapa tema lain yang sudah biasa dituduhkan kepada Syiah sekaligus dijawab oleh ulama Syiah—seperti ratapan saat Asyura, caci maki terhadap sahabat, atau kekeliruan terhadap pemahaman imamah—namun muatan utama tulisan tersebut adalah anggapan bahwa riwayat pernikahan tersebut dibuat oleh Syiah untuk melegitimasi akidahnya dan berdusta atas nama ahlulbait.

Riwayat pernikahan Imam Husain dengan seorang putri raja Persia bernama Syahrbanu sama sekali tidak berkaitan dengan akidah, karena akidah Syiah jelas dibangun oleh tauhid, kenabian, dan hari akhir. Karenanya, seorang pengikut Syiah yang tidak meyakini riwayat pernikahan tersebut tidak kemudian terkeluar dari Syiah. Dengan demikian, tuduhan bahwa riwayat pernikahan tersebut berkaitan dengan “akidah”, yakni, imam ahlulbait hanya berasal dari keturunan Imam Husain—karena menikah dengan putri Persia—sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat.
Continue reading

1

Nowruz dan Rakyat Iran

Sampai saat ini, saya belum pernah menghirup udara Nowruz di musim semi. Terlebih merasakan hiruk-pikuk masyarakat Iran dalam menyambut Nowruz. (Nowruz secara bahasa berarti “hari baru”, yakni hari pertama hijriah syamsiah sekaligus awal musim semi). Tentu saya tidak akan pernah bisa merasakan sebagaimana mereka telah merasakannya selama ribuan tahun. Sebuah suasana yang sedikitnya menyerupai jelang lebaran di tanah air; di mana warga memenuhi jalan-jalan dan pasar meski tak peduli harga naik untuk kemudian kembali ke kampung halaman masing-masing.

Sosiolog muslim Iran, Ali Syariati, menyampaikan definisinya tentang Nowruz sebagai sebuah momen penyatu rakyat Iran. Menyatu dengan alam yang kembali tumbuh subur setelah sebelumnya tertidur oleh musim dingin; menyatu bersama dalam sebuah momen kultur yang terus dipertahankan selama ribuan tahun. Dipertahankan dari infiltrasi budaya asing yang tidak memiliki akar di tanahnya.
Continue reading

1

Hari Perawat di Iran

Pada tanggal 5 Jumadilawal tahun keenam hijriah di kota Madinah, lahirlah seorang cucu nabi saw. yang dalam perjalanan hidupnya mengubah jalan sejarah manusia. Putri Fatimah ini mendapat didikan langsung dari Nabi Muhammad saw. dan Ali bin Abi Thalib, yang di antaranya adalah merawat, mengobati, dan menangani mereka yang sakit.

Dalam Islam, ada beberapa teladan dalam keperawatan, seperti Nabi Yusuf, Mariam binti Imran, Rufaidah, Nasibah, dan tidak terkecuali Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwa ketika beliau terserang demam, nabi membagi waktu malamnya untuk salat dan merawat Imam Ali (Al-Bihar, j. 43, h. 173). Nabi saat hari-hari terakhir hidupnya mengatakan seseorang yang merawat mereka yang sakit siang dan malam, Allah akan bangkitkan bersama Nabi Ibrahim dan melintas sirat bagaikan kilat. Demikian juga Imam Ali merawat ketika Fatimah sakit, meskipun beliau meminta agar suaminya tidak memberitahukan penyakitnya kepada orang lain. (Al-Bihar, h. 211)
Continue reading

0

Seribu Selawat dari Qazvin

Dalam peringatan Perayaan Persatuan (Jashn Vahdat) di kota Qazvin, muncul pertanyaan: apakah persatuan di antara suni dan Syiah hanya diperjuangkan karena alasan politis, seperti memiliki musuh bersama, yaitu Israel dan Amerika Serikat? Atau ia merupakan persatuan yang bersifat hakiki dan memang mendasar dalam Islam? Pertanyaan seperti ini sebenarnya memang sudah ada jawabannya dalam Alquran, yaitu sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara oleh karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.

Begitu juga, meski di antara mereka memiliki perbedaan dalam masalah-masalah fikih, agama pulalah yang mempertegas untuk tetap bersatu dalam hal-hal cabang tersebut. Misalkan, menurut fikih suni Hanafi membaca basmalah dalam salat bukanlah hal yang wajib. Sementara menurut fikih Syiah, membaca basmalah dalam salat adalah wajib, bahkan dianjurkan untuk dikeraskan. Meski menurut fikih Syiah salat yang dilakukan oleh mazhab Hanafi batal, tetapi Imam Jafar dalam kitab Wasâil mengatakan bahwa salat di belakang mereka (yang berlainan pendapat) seolah seperti salat di belakang Rasulullah saw.
Continue reading