15

Sufi Mesir dan Syiah

Delegasi sufi Mesir melakukan kunjungan ke Iran selama delapan hari yang dimulai pada tanggal 12 November 2012 dalam rangka menjembatani jarak antara suni dan Syiah, sekaligus memerangi tren ekstrimisme yang semakin memperlebar jurang sektarian. Usaha untuk menjembatani jarak ini tidak akan terjadi tanpa masukan dari Mesir. Pada saat yang sama, delegasi sufi Mesir juga menyatakan solidaritasnya terhadap Iran dalam melawan ancaman Israel. Delegasi yang mengunjungi Iran terdiri dari perwakilan 11 ordo sufi yang bertemu dengan Ayatullah Abbas Vaez Tabasi dan Ayatullah Muhammad Husain Alamulhuda.

Sehubungan dengan kunjungan tersebut, Syekh Alaa Abou El Azayem, syekh sufi ordo Azmeyya dan pemimpin delegasi, menyatakan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk lebih mempersatukan suni dan Syiah melawan tren yang memperlebar jarak di antara mereka, sekaligus mendukung Iran terkait program nuklir yang bertujuan damai.
Continue reading

3

Syiah di Palestina

Setelah artikel menarik berjudul Syiah di Israel dimuat IRIB Indonesia, artikel selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah Syiah di Palestina. Berikut kutipan artikel tersebut yang saya ringkas:

Syiah di Palestina mempunyai akar panjang dalam sejarah permulaan Islam. Penyebaran Syiah di daerah ini terjadi saat Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat Nabi Muhammad saw. tiba di Syam dan menyebarluaskan pemikiran Imam Ali a.s. di sana. Faktor lain yang membuat Syiah meluas di Palestina adalah imigrasi kabilah Khuza’ah yang berasal dari Arab Selatan. Sebelum kabilah Quraisy, kabilah Khuza’ah sempat menguasai Mekah dan setelah Islam lahir, mereka menjadi pendukung Nabi Muhammad saw. Dalam berbagai peristiwa, peran kabilah Khuza’ah sebagai sekutu Bani Hasyim sangat kental dan satu cabang dari kabilah ini kemudian menuju Palestina dan membangun kota Khuza’ah.

Maqdisi, penulis geografi abad ke-4 hijriah, dalam karyanya Ahsan al-Taqasim Fi Ma’rifah al-Aqalim jilid pertama menulis, warga Tabariya dan sebagian dari warga Nablus dan Al-Quds adalah pengikut Syiah. Sementara Karajiki, ulama abad ke-5, juga menulis bahwa seluruh penduduk kota Ramallah di Palestina bermazhab Syiah. Naser Khosru Dai Esmaili yang wafat tahun 481 dalam catatan perjalanannya menyebut adanya kuburan Abu Hurairah di kota Tabariya dan penduduk di sana tidak punya kecenderungan untuk menziarahinya.

Naser Khosru yang tinggal di Palestina hingga tahun 437 menyebut mayoritas penduduk kota Al-Quds bermazhab Syiah. Ibnu Jubair yang hidup abad ke-6 dalam catatan perjalanannya menyebut orang-orang Syiah yang tinggal di Palestina termasuk Rafidhi, Imamiah, Ismailiah, Zaidiah dan Nashriah. Tentu saja, periode menurunnya dinasti Fatimiah di Mesir yang diambil alih oleh Shalahuddin al-Ayyubi dengan kebijakan keras terhadap Syiah, proses penyebaran Syiah di Palestina mengalami kemandekan dan terus berlanjut hingga sebelum terjadinya Revolusi Islam Iran.

Peran Revolusi Islam

Pengikut Syiah di Palestina tetap mempertahankan hubungannya dengan Lebanon dan setelah kemenangan Revolusi Islam Iran hubungan ini semakin kuat. Gerakan Jihad Islam sebagai gerakan Syiah dari kelompok-kelompok pejuang Palestina punya hubungan kuat dengan Hizbullah dan Iran. Syahid Fathi Syaqqaqi, mantan Sekjen Jihad Islam adalah pendukung revolusi Islam dan mengatakan bahwa sejak dekade 70-an ia telah mengenal Islam revolusioner melalui karya-karya Imam Khomeini dan Ayatullah Syahid Baqir Shadr.

Selain Jihad Islam, sejumlah organisasi Syiah di Palestina terbentuk dengan kegiatan di bidang budaya dan sosial, seperti Ittihad asy-Syabab al-Islami (Organisasi Pemuda Islam) di Betlehem, yang membangun poliklinik Al-Ihsan, As-Sabil, rumah sakit bedah Niqa Ad-Dauhah, madrasah An-Niqa, pusat kegiatan wanita, dan pendidikan Al-Quran di pelbagai masjid dan yayasan.

Kelompok lain yang aktif dalam mendakwahkan Syiah adalah Al-Harakah Al-Islamiah Al-Wathani (Gerakan Islam Nasionalis) yang dengan Syiahnya Muhammad Abu Samarah dan beberapa anggota lain bergabung dengan Gerakan Jihad Islam. Gerakan Islam Nasionalis mendirikan yayasan dengan nama Pusat Riset Al-Quds untuk aktivitas tablig. Dari semua organisasi, Organisasi Al-Ja’fariah merupakan yayasan yang paling aktif di bawah pengawasan Ustaz Asyraf Amunah yang melakukan kegiatan di Huseiniah Al-Rasul Al-A’zham.

Mustabshir, Pengikut Baru Syiah

Selain aktivitas organisasi, pengikut baru Syiah di Timur Tengah juga berperan penting dalam penyebaran Syiah di kawasan. Sebagian pengikut baru Syiah ini berasal dari ulama ahlusunah Palestina yang setelah mengkaji karya-karya Syiah kemudian meyakini kebenarannya seperti Syekh Muhammad Abdul’al (محمد عبد العال). Setelah bertahun-tahun mengkaji mazhab Syiah, ia menyebut bahwa buku paling penting yang dia baca adalah Al-Muraja’at. Buku itu memberikan informasi yang banyak namun tidak menambah keimanannay, sampai akhirnya sebuah peristiwa membuat semua mencapai puncaknya dan menjadikannya menerima jalan ahlulbait a.s.

“Suatu hari di tempat pejalan kaki, saya duduk di depan satu toko milik famili saya, sebuah toko kecil. Saya mendengar si pemilik toko memerintahkan satu dari cucunya untuk menjaga toko sementara waktu, hingga ia selesai melaksanakan salat Asar. Pada waktu tiba-tiba saya tersadar dan berpikir, bagaimana mungkin seseorang membiarkan begitu saja tokonya untuk melaksanakan salat tanpa menyerahkan tokonya kepada orang yang dapat melindungi hartanya. Nah, bagaimana mungkin Nabi Muhammad saw. membiarkan umatnya tanpa pengganti?! Demi Allah, pasti tidak demikian.”

Muhammad Syahhadah saat berada di penjara rezim Zionis Israel banyak melakukan kajian dengan orang-orang Syiah Lebanon yang berujung pada penerimaannya akan kebenaran Syiah. Ia satu dari pendakwah mazhab ahlulbait kepada masyarakat Palestina. Dalam wawancaranya ia mengatakan, “Penerimaan saya terhadap Syiah tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah politik. Saya sama seperti umat Islam lainya yang bangga akan kemenangan Hizbullah Lebanon. Namun ini tidak berarti faktor politik yang membuat saya menerima Syiah, tapi semua ini kembali pada akidah ahlulbait yang akhirnya membuat saya menerimanya, tanpa dipengaruhi faktor lain. Jalan ahlulbait adalah jalan yang benar yang saya yakini.”

21

Maher Zain di Surga, Sami Yusuf di Neraka

Pintu kamar saya diketuk lewat petang kemarin. Jarang-jarang pelajar menghampiri saya sore-sore begini. Dua orang pelajar masuk. Saya berhenti menulis dan menatap wajah mereka. ”Apa yang saya bisa bantu saudara berdua?”

Salah seorang dari mereka sedikit tersipu-sipu tetapi memberanikan diri bertanya, “Doktor, suka Maher Zain?”

Saya tidak menyangka pertanyaan ini sebetulnya. Saya berpikir sejenak kemudian menjawab, “Saya pernah dengar lagu-lagunya.”
Continue reading

12

Bedakan Syiah dengan Iran

Beberapa orang telah mencampuradukkan antara Iran dengan Syiah. Mereka mencoba untuk menunjukkan bahwa Syiah adalah orang-orang Persia yang membenci Arab dan itu sebabnya mereka membenci Umar dan beberapa sahabat lainnya. Iran adalah sebuah negara dan Syiah adalah sebuah keyakinan. Keduanya adalah entitas yang berbeda. Banyak pengikut Syiah yang bukan orang Iran. Ada pengikut Syiah di Irak, Hijaz (Jazirah Arab), Suriah, Lebanon, dan mereka semua orang Arab. Selain itu, ada juga Syiah di Pakistan, India, Afrika, Amerika, dan mereka semua bukan Arab atau Persia.

Lebih lanjut, seluruh dua belas imam Syiah adalah Arab Quraisy dari Bani Hasyim. Jika Persia membenci Arab, sebagaimana tuduhan beberapa orang, mereka akan memilih Salman Al-Farisi sebagai imam karena beliau adalah sahabat besar nabi dan dihormati oleh Syiah maupun suni. Di sisi lain, banyak imam suni terkemuka adalah orang Persia, seperti Abu Hanifah, An-Nasai, At-Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Al-Ghazali, Al-Farabi, dan banyak lainnya.
Continue reading

12

Sayid Rizvi dan Mencaci Para Sahabat

Oleh: Sayid Muhammad Rizvi

Dalam khutbah kedua kali ini, saya ingin berbicara tentang hubungan antar-sesama muslim. Ia berkaitan dengan bahasa yang digunakan ketika berdialog, berdebat, atau berdiskusi dengan sesama muslim. Tema ini juga berkaitan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh Ayatullah Khamenei yang melarang penggunaan bahasa kasar terhadap istri dan sahabat nabi.

Bagaimanapun juga, perlu dipahami bahwa fatwa ini bukanlah perkara atau aturan baru dalam mazhab, tetapi sudah ada sejak lama. Fatwa ini lebih kepada peringatan yang tepat pada masanya, sembari mengingatkan kepada hal-hal yang terjadi saat ini (kekacauan yang dilakukan Yasser Al-Habib dan fitnah Wahabi).
Continue reading