Apa Kabar Doktor Cilik Penghafal Alquran?

Masih ingat dengan doktor cilik hafal dan paham Alquran yang dijuluki “Mukjizat Abad 20”? Jauh sebelum program Hafiz Indonesia dan Hafizh Quran populer di televisi, pada tahun 2007 nama Mohammad Hossein Tabatabai ramai diperbincangkan di Indonesia. Buku yang mengulas latar belakang dan metode belajar Quran anak kecil asal Iran ini laris manis di pasaran. Bahkan, Arrahmah Media yang kerap menyerang Iran dan Syiah sebagai mazhab resmi negara tersebut juga turut memproduksi video yang diberi judul The Amazing Child.

Lahir pada tahun 1991 di kota Qom, Hossein telah menuntaskan hafalan juz amma-nya dalam usia 2 tahun 4 bulan.[1] Tuntas dengan seluruh hafalannya, pada Februari 1998 dirinya telah menerima gelar doktor kehormatan dari Hijaz College Islamic University setelah lulus ujian dalam bidang Science of The Retention of Holy Quran.[2] Artinya, Hossein bukan sekedar hafal Alquran tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia, sekaligus memahami makna atau tafsirnya.

The-Amazing-Child

Kedua orang tua Hossein memang para penghafal Alquran. Namun ada pendidikan lain yang telah diajarkan kedua orang tuanya. Selama masa kehamilan, ibunya selalu berdoa agar dikaruniai anak yang saleh dan pintar. Saat mengandung dan menyusui Hossein, sang ibu teratur membacakan Alquran untuknya. Ketika Hossein lahir, ibunya selalu berwudu sebelum menyusuinya. Bersamaan dengan menyusui, sang ibu juga memperdengarkan Alquran untuknya.

Pendidikan yang diterima Hossein sejak dini tidak menghalangi tingkah lakunya sebagaimana anak kecil pada umumnya. Kadang kala dia bermain dan sesekali bertengkar dengan saudaranya. Saat bertengkar, kata-kata yang terucap juga berasal dari Alquran. Pernah ketika saudaranya berusaha untuk memukul, Hossein segera berteriak, “…selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya. Selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” merujuk pada perkataan istri Firaun pada surah At-Tahrim ayat 11.

Pada usia 10 tahun, Hossein sudah bergabung dengan hauzah, sebuah seminari Islam, untuk mempelajari fikih dan usulnya. Bersama ayahnya, Mohammad Mahdi Tabatabai, dirinya juga mengelola sekolah para pembelajar Quran yang bernama Jameatul Quran. Meneliti, menyunting, dan menulis beberapa kitab menjadi aktivitas kesehariannya. Dua buku yang menjadi karyanya berjudul Hefz-e Kafi dan Amozesh be Kârgiri Ayât.[3] Buku pertama memuat beberapa hadis pilihan yang singkat dan memiliki makna baik dari kitab Al-Kafi agar mudah dihafalkan, sementara buku kedua mengulas mengenai pendidikan untuk anak-anak dengan menggunakan ayat-ayat Quran.

hossein-tabatabai-4

Pesan bagi para hafiz Quran

Kemampuan menghafal yang ada dalam diri manusia merupakan anugerah dan nikmat besar yang Allah berikan. Riwayat menyebutkan bahwa orang-orang yang berusaha dan melewati kesulitan menghafal akan mendapatkan pahala dua kali lipat. Namun bagi Hossein, keberhasilan menghafal hanyalah sebuah tahap awal yang baik. “Menghafal Quran bukanlah tujuan akhir dan banyak orang bisa melakukannya. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita memanfaatkannya dan hasil apa yang akan diterima oleh orang banyak,” katanya.[3]

Dirinya telah melihat sebagian orang yang memiliki hafalan bagus namun pada akhirnya kehilangan hasil yang diharapkan. Sebagian orang mudah menghafal namun tidak memahami tujuan menghafal Alquran. Hossein mengingatkan bahwa menghafal adalah pintu masuk untuk memahami dan mengamalkan Alquran. Karenanya, sebelum berniat menghafalkan Alquran seseorang harus menentukan dengan jelas tujuannya.

Hossein Tabatabai menjelaskan maksud nasihatnya dengan menggunakan ayat “Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Q.S. Alankabut: 45). Ketika salat, hubungan seseorang dengan Allah seharusnya meningkat sampai pada tahap tidak lagi terpikirkan baginya untuk berbuat dosa. Keintiman antara seseorang dengan Allah terbangun sehingga kenikmatan dunia tidak lagi terlihat. Tetapi, ketika selesai salat seseorang masih berbuat dosa, riwayat menyebutkan bahwa salatnya orang tersebut bukan hanya tidak mendekatkan dirinya kepada Allah, tapi justru membuatnya semakin jauh. Ibadahnya tidak membawa keuntungan dan salatnya tidak memberi manfaat.

Begitu pula, seseorang harus memikirkan tingkatan yang lebih tinggi dari sekedar menghafal. Pertama, pikirkanlah manfaat apa yang diharapkan bagi diri sendiri. Kedua, sampaikanlah pengetahuan agama kepada masyarakat, baik itu Syiah, muslim lainnya, bahkan umat agama lainnya.

hossein-tabatabai-1

Kisah dengan keluarga Raja Saudi

Pada musim haji tahun 1998, Hossein Tabatabai pernah menghadiri sebuah acara yang diadakan di Mekah dan dihadiri oleh keluarga kerajaan Arab Saudi. Dua tahun setelahnya, Pangeran Turki bin Abdullah As-Saud datang ke Iran dan mengunjungi Istana Niavaran di Tehran. Di sana, pangeran mengatakan ingin bertemu dengan Hossein Tabatabai.

Setelah menunggu, sekitar pukul 21.30 malam Hossein tiba di Niavaran. Pangeran Turki bercerita bahwa dirinya mendengar kabar kehadiran Hossein di istana kerajaan Saudi dan dirinya ingin melihat langsung. Orang-orang mengatakan bahwa Hossein seorang hafiz Quran dan pangeran bisa bertanya tentang ayat manapun dalam Alquran.

Bersandar di sofa, Pangeran Turki justru berkata, “Bacakan kepadaku sebuah syair.” Orang-orang terkejut dan mengatakan bahwa Hossein bukan seorang penghafal syair. Beruntung, banyak syair-syair pujian kepada ahlulbait dalam bahasa Arab yang pernah Hossein baca sebelumnya. Melalui bantuan Allah, Hossein memilih sebuah syair yang menurutnya tepat. Syair yang pernah dibacakan oleh Imam Ali bin Muhammad di hadapan Mutawakkil, khalifah Abbasiah.

Betapa panjang masa yang mereka habiskan untuk membangun istana-istana megah demi melindungi mereka dari peristiwa getir. Tapi saat mendengar pekik kematian, mereka akan meninggalkan istana-istana itu.[4]

Syair panjang tersebut Hossein bacakan dengan perlahan. Sampai pada pertengahan syair, Pangeran Turki mulai mengubah posisi duduknya; berawal duduk pongah namun kini merunduk dengan mata memerah. Hossein melihat air mata Pangeran Turki dan segera mengakhiri syair yang dibacakannya.

Referensi:

[1] ^ Sulaeman, Dina Y (9 Oktober 2007). “Doktor Cilik dan Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik”. Kajian Timur Tengah. Diakses pada 25 Desember 2015.

[2] ^ “Exams at Hijaz”. Hijaz College. Diakses pada 25 Desember 2015.

[3] ^ “Sayyed Mohammad Hossein Tabatabai Kujast?” Hawzah News Agency. Diakses pada 25 Desember 2015.

[4] ^ “Imam Hadi, Teladan Sepanjang Masa”. Alhassanain.com. Diakses pada 25 Desember 2015.

One thought on “Apa Kabar Doktor Cilik Penghafal Alquran?

  1. Saatnya ku merenung “Betapa panjang masa yang mereka habiskan untuk membangun istana-istana megah demi melindungi mereka dari peristiwa getir. Tapi saat mendengar pekik kematian, mereka akan meninggalkan istana-istana itu’ Ali bin Abi Thalib”

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s